Kamis, 23 Februari 2012

0 Past Chapter 2

       Hari – hari El berlanjut, tidak ada yang mengasikkan, seperti biasa semuanya hitam kecuali matahari yang bersinar begitu terik hari ini, silaunya tidak mampu dia redam dengan retina yang terlatih dalam kegelapan dan akan segera mengecil ketika terkena jingganya warna matahari, dia putuskan kembali memasuki kamar tidurnya yang berukuran 2 x 3 meter. Ukuran itu mungkin terlalu sempit bagi kebanyakan orang, tapi El nyaman dengan kamarnya, jendelanya tertutup rapat, berkorden hitam, almari yang bersanding dengan meja belajar berdiri disudut ruangan, dan jika El menutup pintu semua akan gelap, cahaya matahari tidak akan repot – repot masuk melalui celah – celah kecil yang tersembunyi diantara sekat – sekat korden hitamku. Dan dia menyukai itu, semuanya menjadi tenang dan El bisa melanjutkan tidurnya.
       Saat El terbangun mungkin matahari juga sudah beralih dari tempatnya sekarang ke dunia belahan lain. Jadi dia tidak perlu menyesuailkan diri dengan terangnya. Selimut yang tadinya dia pakaipun seolah merasa bangga karena telah bisa menyembunyikan badan El yang bongsor ini dibawahnya, dan sekali lagi menyembunyikannya dari siang yang terang.
        Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, terasa jarumnya yang tajam sudah lunglai terkena sang karat. Kemudian dengan memakai celana jins hitam disertai T-shirt hitam pula, El menuju ke sanggar yang nantinya akan berkumpul  dengan orang – orang penuh imajinasi bertekanan tinggi lagi. Dia menyukai itu. Berangkat.
        El adalah orang yang berfikiran simpel, semuanya  dianggap mudah meski itu berat bila akan dikerjakan, tapi semua itu akan mudah bila dia tenang, semuanya butuh proses dan kerja keras. Tapi El suka tidak menganggur seperti ini, berjalan diantara gedung – gedung tinggi disebelah kanan kirinya, dan sekali lagi gelap menemaninya. Sudah seminggu rasa sakit itu tidak datang, semua sempurna kecuali satu. Fikirannya terantuk sebuah wacana matanya yang terus mencari tanpa dia kendalikan kemana arahnya.Siapa Dia?
        Sebuah fikiran kembali merasuk kedalam sel dimana El mencerna sebuah wacana yang palsu dan bohong, tapi ini asli, tidak palsu. Sebuah gerak langkah kaki dari depan menghampirinya dengan sengaja dan tanpa maksud apa apa. “Dia” Cuma menghampiri El dengan berjalan. Semakin mendekat dan jelas parasnya serta bau parfum yang “Dia” kenakan. “Dia” wanita.
         Siapa dia? Kenapa dia tiba tiba dia hadir dalam fikiran El tanpa permisi dan begitu saja menghilang tanpa pamit juga. Tidak seperti wanita lainnya yang saat dia datang langsung menatap El serta menggandeng tangannya kedalam jalannya. Dia menunduk menatap tanah kosong, bahkan El tidak merasa jika ada tanah yang sedang dia pijak. Senyumnya sinis seperti El tersenyum saat menemukan jawaban atau sesuatu yang sedang El cari selama ini.
       “Aku cari selama ini?” Gumam El.
         Fikiran El bergolak tanpa mau dikomando, memberi isyarat bahwa dia harus melihat senyum sinis itu lagi. Senyum yang sama dengan senyum El dan bahkan tatapan matanya yang berbicara seakan mengisyaratkan ada sebuah pertanyaan yang terlontar yang harus El jawab.
         “Tapi apa? Tapi siapa dia. Aku tidak pernah melihatnya sama sekali, bahkan berpapasan untuk melihat senyumnya pun baru kali ini, tidak bukan Cuma kali ini.” El berfikir.
          Senyum itu sama saat pantulan kaca membiaskan bayangan diri El dan saat itu juga mata El menangkapnya.
          “Senyum iu sama dengan senyumku. Dan aku selalu melihat senyum itu. Sebagai senyumku, bukan senyumnya.” El bergumam sendiri.
          El menutup mata dan kembali mengingat setiap bentuk dari tubuhnya, baunya serta, geraknya. El meningkatkan fokusnya dalam satu titik temu dan membiarkan lensa matanya membelalak keatas dan Cuma terlihat selaput putihnya saja.
          “Dia nyata dalam imajinasiku.” El kembali melamun.
           Sedikit rabun dan rapuh saat El ingin kembali menemukan langkah siapa gadis itu. Terlihat jelas sekarang siapa gadis itu, lambaian tangannya saat dia berjalan, gerak kakinya saat langkahnya bergantian, alunan rambutnya saat grafitasi bumi menariknya pelan. Dan El masih terpejam mengamati setiap inci dan setiap gerakan yang gadis ciptakan.
           “Kenapa semua sama dengan pergerakanku. Lambaian tangannya saat dia berjalan dan aku berjalan, perpindahan kakinya saat dia mengganti langkah dengan caraku berjalan. Dan setiap gerakan yang dia ciptakan seaakan aku melihat diriku yang lain.” Fikiran El masih terus menjelajah.
            Tiba tiba wajahnya mendongak dan rasa kagetnya mengagetkan dirinya sendiri, membuat El terasa ditarik dan diulur secara bersamaan. Terpontang panting seperti didalam pusaran angin puting beliung. Sesaat matanya terbuka dan El melihat pantulan wajahnya sendiri di kaca yang berada disamping pintu sanggar. Terbelalak dan tersentak, bertanya dalam diri sendiri.
           “Sejak kapan aku didepan kaca dan yang kulihat adalah bayangan diriku sendiri?” terbata sambil melihat pantulan wajahnya dicermin.
            Bingung dengan keadaan El yang sekarang dan tanpa tau arti penglihatan itu, terbentang tanda tanya besar dikepala tentang sosok yang dia lihat dalam lamunannya tersebut. Tetapi dia tau bahwa jawaban itu tidak akan datang saat ini juga dan dengan seketika memperlihatkan dirinya benar - benar dihadapan El.       Tersenyum dan menyorotkan matanya yang tajam menembus mata El dan mencari apa yang ingin dia cari tetapi tidak dengan paksaan melainkan dengan naluri. Dan naluri itu hati bukan fikiran yang selama ini menjadi musuh El.
          El memutuskan membiarkan dirinya sendiri terombang ambing dalam jelaga yang masih belum nampak bentuknya, membiarkan virus “who” berputar – putar dalam otaknya. Semakin hari memenuhi memori ruang yang kosong yang terbiarkan percuma. Ingin Ek menhentikan sejenak aktivitas yang dia lakukan dan berdiam diri disudut ruangan sanggar yang berserakan oleh alat – alat panggung teater.
          Keadaan sanggar semakin ramai dengan kedatangan teman – teman yang selesai beraktivitas. Ya mungkin mereka mampir hanya sekedar minum atau mengobrol dengan teman – teman yang lain untuk sekedar bercengkrama. Tidak tau apa yang mereka perbincangkan tetapi menurut El, mereka asik dengan dunianya sendiri. El ingin seperti mereka yang normal, berkawan dengan senyum dan tawa, tanpa tatapan mata yang menerawang dan tanpa pertanyaan – pertanyaan yang selalu dia rasakan.
           El berpamitan untuk pergi kekontrakan tempat dimana dia bisa menenangkan dirinya sejenak, berseteru dengan selimut hangat yang selalu menyembunyikan tubuhnya dan membiarkan sejenak pertanyaan – pertanyaan yang menunggu dijawab tertimbun dalam rasa kantuk yang nantinya dia rasakan. Berganti pakaian dengan celana pendek dan T-shirt tipis agar nanti ketika dia terlelap hawa panas dari selimut tidak terlalu memanggang tubuhnya. Matanya mulai berat saat menatap langit – langit kamar. Dengan lampu 20watt yang berpijar terang sengaja tidak dimatikan agar menjaga matanya saat terlelap nanti tetap memperoleh cahaya.
         “Kupastikan mimpiku tidak terulang, mimpi? Bukan, kurasa itu bukan mimpi. Kalaupun aku bermimpi tidak mungkin dalam keadaan mata terbuka.” Masih bingung dengan fikiran itu.
          Perlahan matanya menutup dan kantuknya sudah sepenuhnya mennghipnotis saat cahaya yang gelap segera memenuhi ruang bawah sadar El.
         “Dia menyapaku dalam lelap mimpiku. Dia?sial.” El mengumpat dalam hati.

1 Past Chapter 1

“Semua terjadi begitu cepat. Sakit itu tiba dengan atau tanpa permisi. Menerjang setiap saraf otak El membuatnya mengirimkan rasa sakit tak berujung dari ujung jari kaki sampai pada titik sakit tersebut, tiba – tiba pandangannya kabur, menjadi dua bagian, tiga bagian, empat bagian, lima bagian dan akhirnya gelap…..”
    Jalanan ini tak berubah, pohon – pohon mahoni masih berdiri kokoh dipinggir jalan, menyaring polusi yang ditimbulkan asap yang keluar dari knalpot – knalpot kendaraan tak ber-emisi. Sama seperti yang El lihat dua tahun yang lalu, bedanya mungkin pohon tersebut sudah sangat tua untuk menyaring CO2 menjadi O2.
    Motor yang El kendarai melaju pelan saat pandangannya berubah - ubah dari pohon yang satu kepohon yang lain, udara hari ini begitu menusuk kulitku, padahal jaket hitam yang El kenakan selama ini cukup untuk menahan hembusan – hembusan angin liar. Awan menampakkan kesedihannya kala sang mentari tidak dapat menembus partikel – partikel air yang akan menghujam jatuh ke bumi. Membuat suasana yang nyaman disertai kekhawatiran akan tertusuk air yang melompat kala sang awan tidak mampu menahannya lagi.
    Hari itu sangat membosankan, malam telah menampakkan gelapnya, tidak ada hal yang ingin El lakukan, meski hanya berjalan -  jalan sambil menikmati sosok – sosok cantik berlalu lalang. Dan dia memutuskan untuk pergi kesanggar, ya sanggar dimana El menemukan keasikan – keasikan semu dan ketenangan bersama orang – orang aneh dengan drama disetiap langkah – langkahnya.
    Disinilah El berada, di tengah orang berpura – pura, dimana terdapat orang yang bingung diantara persimpangan dua jalur yang menurutnya tidak realis ketika dipilih, atau mungkin terpilih. Menyenangkan sekaligus membosankan ketika suatu peran dibawakan begitu sempurna sampai kaki ini rasanya mau bergerak sendiri mengikuti gerakan itu, dan akhirnya El memutuskan untuk pergi dari tempat latihan tersebut. Kebosanannya pun berlanjut.
    Satu pesan masuk ke ponsel yang dari tadi dia acuhkan, pesannya singkat berisi suatu ajakan yang menurutnya bakal membosankan daripada yang sebelumnya, tapi kali ini dengan orang – orang yang berbeda, kumpulan orang berseni tinggi dengan mimpi – mimpi yang sering disalurkan lewat lukisan aneh tak berbentuk tapi penuh warna dan imaginative.
    Mengamen? Hufh bernyanyi dengan diiringi petikan gitar dan suara benturan dari tutup minuman ringan yang digepengkan sehingga menghasilkan suara seperti besi yang beradu. Membahagiakan setiap orang yang mendengarnya dan mengharap diberi uang seadanya dari saku sang pendengar. Ajakan itupun El iyakan. Sending.
    Malam itu terasa biasa saja, tidak ada perubahan yang signifikan ketika El mengikuti langkahnya yang tidak pernah tau akan membawaku kemana,  bosan yang  dia rasakan setiap hari dan semu yang tercipta setiap mata yang menatapnya membuatku mual dalam melihat setiap topeng yang mereka kenakan didepan mukanya. El menggaruk kepalanya yang terasa gatal karena debu akibat tiga hari dia tidak keluar kamar dan hanya diam, tanpa sadar El belum membersihkan badannya selama itu. Hmm sadarlah hai otak.

0 Past Prologue

          Tidak berbeda dengan novel yang keluar sebelumnya, dengan basis pertemanan dan percintaan yang aku anggap sebuah hal yang biasa, tetapi pada novel kali ini basisnya berbeda,bukan berbeda tapi menceritakan tentang kehidupan seseorang mahsiswa biasa yang tunduk tentang cinta terhadap ibu.
Dia adalah El, sesorang pria dengan tinggi 176 cm dan mempunyai berat badan 68. Tidak seimbang sih tapi posturnya cukup terjaga dengan wajahnya yang bisa dikatakan diatas standar pria sebaya El. Menempuh semester 5 jurusan ilmu keolahragaan fakultas ilmu keolahragaan di universitas yang cukup terkenal di kota malang.
            Memang keyakinannya atau entah bagaimana El berfikir bahwa hidupnya lebih cenderung ke perihal kesenian daripada olahraga yang digelutinya dalam kuliahnya saat ini,  agak aneh juga ketika teman sebayanya lebih memilih mengikuti kegiatan di luar jam kuliahnya dengan mengikuti ekstra kurikuler olahraga, dia tidak. Dia memilih berkutat dengan fikirannya untuk mengeluarkan sebuah imajinasi kedalam lukisan atau gerak dan suaranya kedalam sebuah nyanyian akustik, selain itu El juga aktif dalam berteater, dimana dia bisa berpura pura dengan topengnya yang dia kenakan saat ini.
             Pendiam dan tidak banyak bicara jika sedang kuliah, lebih memilih melihat kebawah ketanah dan entah apa yang El lihat dan diteliti. Seseorang yang berbeda jika dengan dunianya yang berbeda juga ketika fikirannya menemukan teman yang menurutnya seperti dia dalam kepura puraan semata. UKM Teater Hampa Indonesia yang dia pusatkan saat ini dalam berkreasi dan berkesenian.
              Lulusan sekolah menengah negeri jurusan IPA dengan Grade lulus yang cukup memuaskan dengan memperoleh penghargaan 3 teratas dalam sekolahnya dan bahkan sekabupaten dengan nilai NEM  9,85. Tidak berbeda jauh dengan saat kuliahnya sekarang El juga pendiam saat sekolah dan lebih asik dengan dunianya sendiri saat dirumah dan menciptakan lukisan lukisan suryalis dengan warna monoton tapi tertata rapi. Bahkan karyanya juga telah sering dipamerkan dalam ajang pameran karya tingkat kabupaten.
              Berfikir dengan menggunakan logika dan menganalisis jawaban jawaban yang dia peroleh dan menyambungkannya seperti bermain puzzle ketika dia tersenyum tipis dan mendapatkan jawaban yang dia hipotesiskan sebelumnya. Kata katanya ringan saat sindiran halus namun mengena ketika salah satu temannya menyangkal bahwa dia tidak bersalah.
              Seseorang yang menggilai novel detektif dan sangat menyukai tokoh dalam Death Note yang bernama L. Pendiam eksentrik tetapi sangat pintar dalam memecahkan kasus yang bisa dikatakan dia mati duluan ketika jawaban yang dia ketahui berada jauh dalam waktu kedepan. Sering memecahkan sebuah masalah tanpa berbicara dan Cuma mengeluarkan satu buah kata kunci saja untuk mengunci seseorang itu adalah yang bersalah adalah kesukaannya, tersenyum sinis ketika kemenangan sudah didepan mata.
               Dia tidak sadar bahwa kemampuan inilah yang akan membawanya dalam pesona sebuah wanita yang dia inginkan dari dulu, mencari dan terus mencari wanita dalam suatu kehidupannya yang sebenarnya singkat untuk diceritakan. Bahkan dia sudah terlebih tau ketika wanita yang mendekatinya mempunyai maksud tersembunyi dan dia tidak suka mengatakan bahwa jika apa yang kamu inginkan nanti sudah tercapai janganlah kamu mencariku lagi hanya untuk sebuah alasan bahwa kamu mencintaiku dengan hatimu bukan fikiranmu. Inilah jawaban apa yang kamu inginkan dan sudah tercapai, aku tidak ingin ikut campur dan aku fikir misiku telah selesai denganmu. Maaf kita menjadi seseorang yang dahulu pertama kali ketemu.
              Culas dan sadis mungkin adalah sifatnya yang tidak disukai wanita, misterius dengan tatapan mata tajam membuat dia tidak bisa menghindari kejaran wanita yang ingin membuka pintu dengan bertanya siapakah dia. Maaf itu bukan sifatnya yang dengan enaknya membuka pintu untuk orang lain yang baru dia kenal. Baginya sebuah maksud tersembunyi adalah yang harus dia hindari ketika fikirannya sudah teracuni untuk memberi pelajaran kepada setiap wanita yang ingin mendekatinya dan dengan berbisik dia dan berkata kepada wanita itu untuk menjauhinya “jangan denganku ketika fikiranmu yang bermain dan bukan hatimu, daripada seribu duri menancap pada kulit ari hatimu!”.
              Lelah dengan semua hal semu yang dia dapatkan, dan tidak menemukan wanita yang bisa mengunci hati, tatapan, serta fikirannya yang selalu berkecamuk untuk ingin mengetahui jawaban dari sebuah pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Dia lelah fikiran, fisik, serta lelah dalam mencari siapa dan siapa yang hanya mengenalnya dengan berbeda dan tidak mempunyai setitik maksud tersembunyi yang ingin mereka capai dengan berpacaran dengannya.

0 Sebuah ceritaku dalam menjaga tidurku dari mimpi

Surya bersimpuh tak berdaya. Disadarinya kemudian, bahwa yang tersisa padanya saat ini adalah kemampuan berdoa. Itulah kemampuan yang tak memerlukan gerak, hela nafas, juga denyut jantung. Kemampuan yang tetap tinggal dalam diri, meski diri itu telah beralih  menjadi sekedar bayangan. Maka didekatkannya diri pada jabang bayi semata wayang kerinduannya, demi melantunkan doa seorang ayah kepada anaknya
         "Jagalah langkahmu senantiasa sehingga tak menyimpang dirimu dari jalur perjalanan menuju tujuanmu."
         "Akan panjang perjalananmu, melalui berbagai persimpangan dan kelokan, begitupun tanjakan dan turunan. Maka bersigaplah dalam setiap langkah, cermati dengan kehati-hatian sehingga terlampaui segala aral yang merintangimu."
         "Pada suatu ketika akan datang padamu musim berbagai musim. Kemarau dan penghujan. Sering kali kemarau sedemikian panjang, mengeringkan air ketabahanmu. Mematikan ikan-ikan pada sungai sungai bahagiamu. Atau penghujan yang tak kunjung  berhenti menderasimu, memberikan balutan dingin hingga menelusup pada tulang-tulang kesedihanmu, menggenangi ladang-ladang harapanmu, meredam cahaya bulir-bulir padimu. Namun, laluilah setiap musim dengan sayap-sayap keberanianmu. Isilah bejana-bejana ketabahanmu senantiasa, bawalah ke mana pun menyertai langkahmu. Niscaya tak teradang segala upayamu mencapai tujuan."
         "Itulah doaku, Nak. Semata doa yang kubekalkan kepadamu, karena terhalang aku untuk merengkuhkan perlindungan dan penjagaan yang seharusnya kulakukan untukmu.
         "Ada masanya kau akan belajar memaafkan. Inilah dongengku untukmu, yang semoga teerbuka kembali dalam ingatanmu di masa nanti, saat kau mengenangku sebagai ayahmu."
         "Dengarkanlah dongeng ini, nak."
Pada suatu masa, pada sebuah musim yang berangin, seekeor larva mendapati dirinya telah menjadi seekor kupu-kupu, disibaknya kelambu serat-serat kepompongnya, hendak dikepakkannya sayap untuk menerbangkan diri. Tak disangka pada saat yang sama, terpaan angin mendadak menghempaskannya. Terjatuh kepompong itu berikut sebatang dahan menimpanya, meretakkan sayap kupu-kupunya yang belum sempat mengembang. Patahlah kedua belah sayap itu, rangka tulangnya yang ringkih saling terlepaskan. Lembar sayap aneka warna serupa tenunan, menyerpih bertebaran. beberapa diantaranya melayang berupa bubuk halus serupa partikel debu. Debu yang memendarkan dispersi warna cahaya. Larva yang malang. Semestinya dia telah menjelma sebagai kupu-kupu., tetapi tanpa sayap bisakah dia dikatakan sebagai kupu-kupu? adakah kupu-kupu yang tak bersayap? Dia kini bukan pula seekor ulat, yang memiliki keahlian menelusuri ranting. Jadi sebagai apakah dirinya kini? Mungkinkah dia adalah kupu-kupu tak bersayap?
Lalu, diingatnya janjinya pada suatu ketika. Saat dirinya sebagai ulat, dia memberikan sebuah janji pada serumpun bunga.
         "Izinkanlah kumakan daun-daunmu, untuk bekal bertapaku pada proses metamorphosis." Kata ulat ketika itu memohon belas kasihan.
         "Jangan. Runcing gigi-gigimu akan menyakitiku." Tolak rumpun bunga.
         "Lagi pula, kalau aku tak berdaun, dengan apa akan kutadah cahaya matahari untuk proses sintesa pertumbuhanku? bagaimana pula batanag pohonku akan bernafas tanpa daun-daunku?" Sergah rumpun bunga.
         "Tapi, tanpa daun-daunmu, tak akan aku bisa menjelma menjadi kupu-kupu."Lagi, sang ulang memohon dengan sangat.
Rumpun bunga menggeleng-geleng, hendak dihempaskannya ulat yang mencengkeram dahannya.
          "Jangan mengusirku,"Kembali ulat memohon.
          "Inilah janjiku, saat menjelma sebagai kupu-kupu nanti, akan kulakukan proses penyerbukan untukmu. Maka putik-putik tak akan melayu gugur sia-sia, melainkan menjadi buah-buah yang berguna" janji ulat dengan sungguh.
           "Sungguhkah janjimu itu?"
           " Ya, peganglah janjiku yang sungguh ini."
Maka meski dengan menangis, daun-daun itu merelakan helai-helai dirinya dikunyah runcing gigi ulat itu. DEmi berbuah putik-putik bunga yang dimilikinya.
Begitulah janji itu dibuat. Sesuatu telah dikorbankan demi meperoleh sesuatu yang lain. helai dedaunan dengan segala luka yang pedih merelakan dirinya terkunyah gigi ulat. Sehingga kenyanglah ulat itu, memiliki bekal yang cukup untuk menjalani tidur panjangnya menunggu sepasang sayap tertenun baginya.
Sepasang sayap yanga akan menerbangkannya dari satu bunga pada kelopak yang lain demi memenuhi janjinya menunaikan tugas sebagai perantara penyerbukan bagi tumbuhan yang tak mampu melalkukan penyerbukannya sendiri. Dia telah mengikat janji pada ranting-ranting tumbuhan dimana dia menjadi.
Namun apalah dirinya kini? dengan cara bagaimana akan ditunaikannya janji penyerbukan itu? Bahkan kini tak lagi dimilikinya kaki, apalagi sayap untuk menerbangkan dirinya sendiri. Maka janji itupun melayang sia-sia, serupa gugur daun yang kemudian bergegas menjadi sampah.
          "Anakku, ayahlah kupu-kupu itu. Sang ulat yang tak mampumenggenapi janjinya kepadamu sebagai rumpun bunga, dan kepada ibumu yang telah mengorbankan helai-helai daun dirinya."
         "Akankah ayahmu ini termaafkan?"
Berdesir pertanyaan itu, merambat diantara daun-daun bambu yang bersentuhan memunculkan suara gemerisik yamg sayup.
         "Akan datang bagimu suatu masa untuk belajar memaafkan. Kiranya Tuhan bermurah hati menjadikan dongeng ini dalam kenanganmu, dan akan tergerak hatimu oleh belas kasihan untuk mengampuni ayahmu. Begitulah dongeng ini kutenun bagimu anakku, semata wayang kerinduanku."
Mengalun permohonan itu serupa tiupan seruling bergema hingga jauh, mencari rumpun bambu tempat bermula batang seruling iru tumbuh. Nyanyi seruling yang sedih, seakan pilu mencari ibu penumbuh yang terpotong darinya demi menjadikannya sebatang kecil seruling.
Akankah seruling itu mampu menemukan batang-batang bambu penumbuh ayah bundanya?