"Jagalah langkahmu senantiasa sehingga tak menyimpang dirimu dari jalur perjalanan menuju tujuanmu."
"Akan panjang perjalananmu, melalui berbagai persimpangan dan kelokan, begitupun tanjakan dan turunan. Maka bersigaplah dalam setiap langkah, cermati dengan kehati-hatian sehingga terlampaui segala aral yang merintangimu."
"Pada suatu ketika akan datang padamu musim berbagai musim. Kemarau dan penghujan. Sering kali kemarau sedemikian panjang, mengeringkan air ketabahanmu. Mematikan ikan-ikan pada sungai sungai bahagiamu. Atau penghujan yang tak kunjung berhenti menderasimu, memberikan balutan dingin hingga menelusup pada tulang-tulang kesedihanmu, menggenangi ladang-ladang harapanmu, meredam cahaya bulir-bulir padimu. Namun, laluilah setiap musim dengan sayap-sayap keberanianmu. Isilah bejana-bejana ketabahanmu senantiasa, bawalah ke mana pun menyertai langkahmu. Niscaya tak teradang segala upayamu mencapai tujuan."
"Itulah doaku, Nak. Semata doa yang kubekalkan kepadamu, karena terhalang aku untuk merengkuhkan perlindungan dan penjagaan yang seharusnya kulakukan untukmu.
"Ada masanya kau akan belajar memaafkan. Inilah dongengku untukmu, yang semoga teerbuka kembali dalam ingatanmu di masa nanti, saat kau mengenangku sebagai ayahmu."
"Dengarkanlah dongeng ini, nak."
Pada suatu masa, pada sebuah musim yang berangin, seekeor larva mendapati dirinya telah menjadi seekor kupu-kupu, disibaknya kelambu serat-serat kepompongnya, hendak dikepakkannya sayap untuk menerbangkan diri. Tak disangka pada saat yang sama, terpaan angin mendadak menghempaskannya. Terjatuh kepompong itu berikut sebatang dahan menimpanya, meretakkan sayap kupu-kupunya yang belum sempat mengembang. Patahlah kedua belah sayap itu, rangka tulangnya yang ringkih saling terlepaskan. Lembar sayap aneka warna serupa tenunan, menyerpih bertebaran. beberapa diantaranya melayang berupa bubuk halus serupa partikel debu. Debu yang memendarkan dispersi warna cahaya. Larva yang malang. Semestinya dia telah menjelma sebagai kupu-kupu., tetapi tanpa sayap bisakah dia dikatakan sebagai kupu-kupu? adakah kupu-kupu yang tak bersayap? Dia kini bukan pula seekor ulat, yang memiliki keahlian menelusuri ranting. Jadi sebagai apakah dirinya kini? Mungkinkah dia adalah kupu-kupu tak bersayap?
Lalu, diingatnya janjinya pada suatu ketika. Saat dirinya sebagai ulat, dia memberikan sebuah janji pada serumpun bunga.
"Izinkanlah kumakan daun-daunmu, untuk bekal bertapaku pada proses metamorphosis." Kata ulat ketika itu memohon belas kasihan.
"Jangan. Runcing gigi-gigimu akan menyakitiku." Tolak rumpun bunga.
"Lagi pula, kalau aku tak berdaun, dengan apa akan kutadah cahaya matahari untuk proses sintesa pertumbuhanku? bagaimana pula batanag pohonku akan bernafas tanpa daun-daunku?" Sergah rumpun bunga.
"Tapi, tanpa daun-daunmu, tak akan aku bisa menjelma menjadi kupu-kupu."Lagi, sang ulang memohon dengan sangat.
Rumpun bunga menggeleng-geleng, hendak dihempaskannya ulat yang mencengkeram dahannya.
"Jangan mengusirku,"Kembali ulat memohon.
"Inilah janjiku, saat menjelma sebagai kupu-kupu nanti, akan kulakukan proses penyerbukan untukmu. Maka putik-putik tak akan melayu gugur sia-sia, melainkan menjadi buah-buah yang berguna" janji ulat dengan sungguh.
"Sungguhkah janjimu itu?"
" Ya, peganglah janjiku yang sungguh ini."
Maka meski dengan menangis, daun-daun itu merelakan helai-helai dirinya dikunyah runcing gigi ulat itu. DEmi berbuah putik-putik bunga yang dimilikinya.
Begitulah janji itu dibuat. Sesuatu telah dikorbankan demi meperoleh sesuatu yang lain. helai dedaunan dengan segala luka yang pedih merelakan dirinya terkunyah gigi ulat. Sehingga kenyanglah ulat itu, memiliki bekal yang cukup untuk menjalani tidur panjangnya menunggu sepasang sayap tertenun baginya.
Sepasang sayap yanga akan menerbangkannya dari satu bunga pada kelopak yang lain demi memenuhi janjinya menunaikan tugas sebagai perantara penyerbukan bagi tumbuhan yang tak mampu melalkukan penyerbukannya sendiri. Dia telah mengikat janji pada ranting-ranting tumbuhan dimana dia menjadi.
Namun apalah dirinya kini? dengan cara bagaimana akan ditunaikannya janji penyerbukan itu? Bahkan kini tak lagi dimilikinya kaki, apalagi sayap untuk menerbangkan dirinya sendiri. Maka janji itupun melayang sia-sia, serupa gugur daun yang kemudian bergegas menjadi sampah.
"Anakku, ayahlah kupu-kupu itu. Sang ulat yang tak mampumenggenapi janjinya kepadamu sebagai rumpun bunga, dan kepada ibumu yang telah mengorbankan helai-helai daun dirinya."
"Akankah ayahmu ini termaafkan?"
Berdesir pertanyaan itu, merambat diantara daun-daun bambu yang bersentuhan memunculkan suara gemerisik yamg sayup.
"Akan datang bagimu suatu masa untuk belajar memaafkan. Kiranya Tuhan bermurah hati menjadikan dongeng ini dalam kenanganmu, dan akan tergerak hatimu oleh belas kasihan untuk mengampuni ayahmu. Begitulah dongeng ini kutenun bagimu anakku, semata wayang kerinduanku."
Mengalun permohonan itu serupa tiupan seruling bergema hingga jauh, mencari rumpun bambu tempat bermula batang seruling iru tumbuh. Nyanyi seruling yang sedih, seakan pilu mencari ibu penumbuh yang terpotong darinya demi menjadikannya sebatang kecil seruling.
Akankah seruling itu mampu menemukan batang-batang bambu penumbuh ayah bundanya?
0 komentar:
Posting Komentar