Jalanan ini tak berubah, pohon – pohon mahoni masih berdiri kokoh dipinggir jalan, menyaring polusi yang ditimbulkan asap yang keluar dari knalpot – knalpot kendaraan tak ber-emisi. Sama seperti yang El lihat dua tahun yang lalu, bedanya mungkin pohon tersebut sudah sangat tua untuk menyaring CO2 menjadi O2.
Motor yang El kendarai melaju pelan saat pandangannya berubah - ubah dari pohon yang satu kepohon yang lain, udara hari ini begitu menusuk kulitku, padahal jaket hitam yang El kenakan selama ini cukup untuk menahan hembusan – hembusan angin liar. Awan menampakkan kesedihannya kala sang mentari tidak dapat menembus partikel – partikel air yang akan menghujam jatuh ke bumi. Membuat suasana yang nyaman disertai kekhawatiran akan tertusuk air yang melompat kala sang awan tidak mampu menahannya lagi.
Hari itu sangat membosankan, malam telah menampakkan gelapnya, tidak ada hal yang ingin El lakukan, meski hanya berjalan - jalan sambil menikmati sosok – sosok cantik berlalu lalang. Dan dia memutuskan untuk pergi kesanggar, ya sanggar dimana El menemukan keasikan – keasikan semu dan ketenangan bersama orang – orang aneh dengan drama disetiap langkah – langkahnya.
Disinilah El berada, di tengah orang berpura – pura, dimana terdapat orang yang bingung diantara persimpangan dua jalur yang menurutnya tidak realis ketika dipilih, atau mungkin terpilih. Menyenangkan sekaligus membosankan ketika suatu peran dibawakan begitu sempurna sampai kaki ini rasanya mau bergerak sendiri mengikuti gerakan itu, dan akhirnya El memutuskan untuk pergi dari tempat latihan tersebut. Kebosanannya pun berlanjut.
Satu pesan masuk ke ponsel yang dari tadi dia acuhkan, pesannya singkat berisi suatu ajakan yang menurutnya bakal membosankan daripada yang sebelumnya, tapi kali ini dengan orang – orang yang berbeda, kumpulan orang berseni tinggi dengan mimpi – mimpi yang sering disalurkan lewat lukisan aneh tak berbentuk tapi penuh warna dan imaginative.
Mengamen? Hufh bernyanyi dengan diiringi petikan gitar dan suara benturan dari tutup minuman ringan yang digepengkan sehingga menghasilkan suara seperti besi yang beradu. Membahagiakan setiap orang yang mendengarnya dan mengharap diberi uang seadanya dari saku sang pendengar. Ajakan itupun El iyakan. Sending.
Malam itu terasa biasa saja, tidak ada perubahan yang signifikan ketika El mengikuti langkahnya yang tidak pernah tau akan membawaku kemana, bosan yang dia rasakan setiap hari dan semu yang tercipta setiap mata yang menatapnya membuatku mual dalam melihat setiap topeng yang mereka kenakan didepan mukanya. El menggaruk kepalanya yang terasa gatal karena debu akibat tiga hari dia tidak keluar kamar dan hanya diam, tanpa sadar El belum membersihkan badannya selama itu. Hmm sadarlah hai otak.
1 komentar:
"...akan membawaku kemana, bosan..."
bukankah yang benar itu "...akan membawanya kemana,..."
bagus mas... serasa berada dalam ceritanya... ^^
Posting Komentar