Kamis, 23 Februari 2012

1 Past Chapter 1

“Semua terjadi begitu cepat. Sakit itu tiba dengan atau tanpa permisi. Menerjang setiap saraf otak El membuatnya mengirimkan rasa sakit tak berujung dari ujung jari kaki sampai pada titik sakit tersebut, tiba – tiba pandangannya kabur, menjadi dua bagian, tiga bagian, empat bagian, lima bagian dan akhirnya gelap…..”
    Jalanan ini tak berubah, pohon – pohon mahoni masih berdiri kokoh dipinggir jalan, menyaring polusi yang ditimbulkan asap yang keluar dari knalpot – knalpot kendaraan tak ber-emisi. Sama seperti yang El lihat dua tahun yang lalu, bedanya mungkin pohon tersebut sudah sangat tua untuk menyaring CO2 menjadi O2.
    Motor yang El kendarai melaju pelan saat pandangannya berubah - ubah dari pohon yang satu kepohon yang lain, udara hari ini begitu menusuk kulitku, padahal jaket hitam yang El kenakan selama ini cukup untuk menahan hembusan – hembusan angin liar. Awan menampakkan kesedihannya kala sang mentari tidak dapat menembus partikel – partikel air yang akan menghujam jatuh ke bumi. Membuat suasana yang nyaman disertai kekhawatiran akan tertusuk air yang melompat kala sang awan tidak mampu menahannya lagi.
    Hari itu sangat membosankan, malam telah menampakkan gelapnya, tidak ada hal yang ingin El lakukan, meski hanya berjalan -  jalan sambil menikmati sosok – sosok cantik berlalu lalang. Dan dia memutuskan untuk pergi kesanggar, ya sanggar dimana El menemukan keasikan – keasikan semu dan ketenangan bersama orang – orang aneh dengan drama disetiap langkah – langkahnya.
    Disinilah El berada, di tengah orang berpura – pura, dimana terdapat orang yang bingung diantara persimpangan dua jalur yang menurutnya tidak realis ketika dipilih, atau mungkin terpilih. Menyenangkan sekaligus membosankan ketika suatu peran dibawakan begitu sempurna sampai kaki ini rasanya mau bergerak sendiri mengikuti gerakan itu, dan akhirnya El memutuskan untuk pergi dari tempat latihan tersebut. Kebosanannya pun berlanjut.
    Satu pesan masuk ke ponsel yang dari tadi dia acuhkan, pesannya singkat berisi suatu ajakan yang menurutnya bakal membosankan daripada yang sebelumnya, tapi kali ini dengan orang – orang yang berbeda, kumpulan orang berseni tinggi dengan mimpi – mimpi yang sering disalurkan lewat lukisan aneh tak berbentuk tapi penuh warna dan imaginative.
    Mengamen? Hufh bernyanyi dengan diiringi petikan gitar dan suara benturan dari tutup minuman ringan yang digepengkan sehingga menghasilkan suara seperti besi yang beradu. Membahagiakan setiap orang yang mendengarnya dan mengharap diberi uang seadanya dari saku sang pendengar. Ajakan itupun El iyakan. Sending.
    Malam itu terasa biasa saja, tidak ada perubahan yang signifikan ketika El mengikuti langkahnya yang tidak pernah tau akan membawaku kemana,  bosan yang  dia rasakan setiap hari dan semu yang tercipta setiap mata yang menatapnya membuatku mual dalam melihat setiap topeng yang mereka kenakan didepan mukanya. El menggaruk kepalanya yang terasa gatal karena debu akibat tiga hari dia tidak keluar kamar dan hanya diam, tanpa sadar El belum membersihkan badannya selama itu. Hmm sadarlah hai otak.

1 komentar:

Ainil Ashfa mengatakan...

"...akan membawaku kemana, bosan..."
bukankah yang benar itu "...akan membawanya kemana,..."
bagus mas... serasa berada dalam ceritanya... ^^

Posting Komentar

Kamis, 23 Februari 2012

Past Chapter 1

“Semua terjadi begitu cepat. Sakit itu tiba dengan atau tanpa permisi. Menerjang setiap saraf otak El membuatnya mengirimkan rasa sakit tak berujung dari ujung jari kaki sampai pada titik sakit tersebut, tiba – tiba pandangannya kabur, menjadi dua bagian, tiga bagian, empat bagian, lima bagian dan akhirnya gelap…..”
    Jalanan ini tak berubah, pohon – pohon mahoni masih berdiri kokoh dipinggir jalan, menyaring polusi yang ditimbulkan asap yang keluar dari knalpot – knalpot kendaraan tak ber-emisi. Sama seperti yang El lihat dua tahun yang lalu, bedanya mungkin pohon tersebut sudah sangat tua untuk menyaring CO2 menjadi O2.
    Motor yang El kendarai melaju pelan saat pandangannya berubah - ubah dari pohon yang satu kepohon yang lain, udara hari ini begitu menusuk kulitku, padahal jaket hitam yang El kenakan selama ini cukup untuk menahan hembusan – hembusan angin liar. Awan menampakkan kesedihannya kala sang mentari tidak dapat menembus partikel – partikel air yang akan menghujam jatuh ke bumi. Membuat suasana yang nyaman disertai kekhawatiran akan tertusuk air yang melompat kala sang awan tidak mampu menahannya lagi.
    Hari itu sangat membosankan, malam telah menampakkan gelapnya, tidak ada hal yang ingin El lakukan, meski hanya berjalan -  jalan sambil menikmati sosok – sosok cantik berlalu lalang. Dan dia memutuskan untuk pergi kesanggar, ya sanggar dimana El menemukan keasikan – keasikan semu dan ketenangan bersama orang – orang aneh dengan drama disetiap langkah – langkahnya.
    Disinilah El berada, di tengah orang berpura – pura, dimana terdapat orang yang bingung diantara persimpangan dua jalur yang menurutnya tidak realis ketika dipilih, atau mungkin terpilih. Menyenangkan sekaligus membosankan ketika suatu peran dibawakan begitu sempurna sampai kaki ini rasanya mau bergerak sendiri mengikuti gerakan itu, dan akhirnya El memutuskan untuk pergi dari tempat latihan tersebut. Kebosanannya pun berlanjut.
    Satu pesan masuk ke ponsel yang dari tadi dia acuhkan, pesannya singkat berisi suatu ajakan yang menurutnya bakal membosankan daripada yang sebelumnya, tapi kali ini dengan orang – orang yang berbeda, kumpulan orang berseni tinggi dengan mimpi – mimpi yang sering disalurkan lewat lukisan aneh tak berbentuk tapi penuh warna dan imaginative.
    Mengamen? Hufh bernyanyi dengan diiringi petikan gitar dan suara benturan dari tutup minuman ringan yang digepengkan sehingga menghasilkan suara seperti besi yang beradu. Membahagiakan setiap orang yang mendengarnya dan mengharap diberi uang seadanya dari saku sang pendengar. Ajakan itupun El iyakan. Sending.
    Malam itu terasa biasa saja, tidak ada perubahan yang signifikan ketika El mengikuti langkahnya yang tidak pernah tau akan membawaku kemana,  bosan yang  dia rasakan setiap hari dan semu yang tercipta setiap mata yang menatapnya membuatku mual dalam melihat setiap topeng yang mereka kenakan didepan mukanya. El menggaruk kepalanya yang terasa gatal karena debu akibat tiga hari dia tidak keluar kamar dan hanya diam, tanpa sadar El belum membersihkan badannya selama itu. Hmm sadarlah hai otak.

..::Artikel Menarik Lainnya::..

1 komentar:

Ainil Ashfa 28 Februari 2012 pukul 00.19  

"...akan membawaku kemana, bosan..."
bukankah yang benar itu "...akan membawanya kemana,..."
bagus mas... serasa berada dalam ceritanya... ^^

Posting Komentar

Silahkan menuliskan komentar anda pada opsi Google/Blogger untuk anda yang memiliki akun Google/Blogger.

Silahkan pilih account yang sesuai dengan blog/website anda (LiveJournal, WordPress, TypePad, AIM).

Pada opsi OpenID silahkan masukkan URL blog/website anda pada kotak yang tersedia.

Atau anda bisa memilih opsi Nama/URL, lalu tulis nama anda dan URL blog/website anda pada kotak yang tersedia.

Jika anda tidak punya blog/website, kolom URL boleh dikosongi atau dapat juga diganti dengan email anda.

Gunakan opsi 'Anonim' jika anda tidak ingin mempublikasikan data anda. (sangat tidak disarankan). Jika komentar anda berupa pertanyaan, maka jika anda menggunakan opsi ini tidak akan ditanggapi.

Terima kasih, komentar anda sangat berarti untuk Ceritaku di Dalam Ceritamu
:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g:
:h: :i: :j: :k: :l: :m: :n: