Mungkin kau sudah menjadi sinting karena dua tahun lebih mengalami kesulitan tidur dan jadwal istirahat yang tak teratur. Tidak apa-apa jika kau melakukan sesuatu yang berguna, tapi yang kaulakukan hanya diam seperti orang bodoh, membiarkan kalimat-kalimat di bagian kanan otakmu terperangkap hingga akhirnya mati dan membusuk di sana tanpa sempat kau bentuk dan kau ramu menjadi sesuatu yang bisa dicerna.
Kau terjaga dini hari dan mengumpulkan segala daya upaya memahami kegilaanmu sendiri. Ketika semua orang terlelap dalam peraduan ditemani mimpi-mimpi surga, kau di sini merangkai ketidakberdayaan menghadapi kenyataan yang semakin beringas dan terburai membunuhi spektrum sel-sel di pori-pori kulitmu hingga tak dapat lagi kaurasakan apapun.
Di ruang 3x3 meter ini kautemukan dirimu meringkuk dijejali euphoria menjadi pengecut baru. Tidak bisa mentransformasikan makhluk-makhluk imajiner ke dalam rumus-rumus kalkulus dan logaritma agar orang lain dapat membacanya.
Lalu pada suatu ketika, masa itu akan datang dengan tiba-tiba, dimana penyair merasa dikhianati tulisannya sendiri. Setiap kali selesai menulis, rasa puas itu tidak pernah muncul serta merta tetapi berlarian memberondong untuk menciptakan sesuatu yang baru dan belum pernah ada. Kau terjebak di antara keduanya.
Melihat tanganmu sendiri yang menyerupai potongan kayu, kau ingat Tuhan menganugerahkannya untukmu agar bisa kaumanfaatkan. Kau sekarat, tertatih-tatih mengumpulkan nyawa agar diberi kekuatan untuk mengusir roh jahat yang bersemayam dalam jiwamu, sehingga dapat kaucurahkan semua gangguan yang ada di kepala agar kau bisa bermetamorfosis sebagai partikel kecil dalam tata surya intelejensi penemu pola pikir yang berbeda, unik dan radikal untuk memberi pijar nyala terakhir kreatifitas kita sebagai manusia sebelum dihisab di neraka.
Karena metafora yang kauciptakan adalah ketidakkonsistenan dua belah bagian otakmu yang kadar kerjanya masing-masing tidak sama antara yang kanan dan kiri, maka pilihanmu terjebak di tengah-tengah. Waktu tidak memberimu kesempatan sedikit pun untuk bernapas.
Sebuah kontradiksi planet dan lapisan ozon yang melingkupinya. Terjebak dalam nebula, kabut gas pelindung yang over protektif sehingga menyesakkan material dan sel-sel hidup yang bersemayam dan berkembang biak di dalamnya. Jika ingin bebas, jadilah individu yang mampu melintasi waktu.
Malam hari adalah saat di mana segala kemungkinan bisa terjadi. Inspirasi muncul ketika jam dinding berbunyi duabelas kali dan kau menyukai suaranya yang mengetuk-ngetuk daya imajinasi. Ia muncul seperti cahaya yang berpendar-pendar menyilaukan masuk melalui tempurung kepalamu, diserap otak dengan rakus, turun melalui sumsum tulang belakang ke jantung sehingga memompa darah dengan gilanya ke seluruh tubuh, memijarkan mata yang semula redup sampai pipimu bersemu merah. Kau bisa merasakan sensasi itu ketika dengan kurang ajarnya tanganmu menciptakan bentuk-bentuk, huruf-huruf, simbol-simbol dan sesuatu dalam wujud ganjil yang hanya datang dari dirimu sendiri.
“Orang-orang berlalu lalang, bergumam, bercakap, diam. Wajah-wajah yang kaukenang dalam ingatan kini mulai berubah warna, keriput, tua dan rapuh. Seseorang berlari, tersamar dalam gelap, berkelebat sekilat siluet senja hari.”
Manusia bernapas dan hidup. Ketika lampu-lampu mulai menyala, segala yang kaulihat bergerak, segala yang kaulihat hidup. Karena kita, yang selalu terasing dari sunyi surga dan tatap dunia, hidup sejak awal sampai akhir sendiri. Menjalani sesuatu, merenung, melihat, mengamati, bergerak, tumbuh, merasakan, merenungi, memahami, mencintai, menciptakan, menjalani, mengetahui, melakukan. Sendiri.
Tak ada sebutan yang lebih mengerikan dari keterasingan. Kau menjalaninya bertahun lalu di sini, tempat yang sama, waktu yang berbeda, dalam kegamangan abadi yang melingkupi kepala. Apa yang kaucari? Tuhan tidak menyimpannya di puncak gunung-gunung, di hilir sungai, di atas tebing, di dasar goa-goa, di buritan kapal, di kaki langit dan tempat-tempat yang kaukenal dalam mimpi maupun nyata.
Hingga pagi menjelang… .
Kau menjalaninya bertahun lalu di sini. Menyatu dengan tiang-tiang, bercanda dalam ketergerakan yang diam, membunuhi satu per satu jiwa-jiwa kerontang, mengamati wajah-wajah seredup bintang pada malam sebelum hujan, yang kaukenal di suatu tempat entah dimana. Burung layang-layang, angin, rerumputan yang kering, tiang-tiang membisu, langit yang terang, pohon beringin, patung, semak yang layu, lantai marmer, daun gugur, awan putih. Hidup terasa lebih eksotis dengan melakukan hal-hal berbahaya.
Kau menyumpah dalam hati pada temanmu yang tidak pintar menyimpan rahasia. Tak ada yang bisa dipercaya, tidak satu pun. Maka ujung pencarian itu berakhir pada satu titik klimaks yang membuatmu meregang nyawa. Jika nanti ada yang menemukanmu terbujur kaku, bicaralah pada mereka bahwa kau ingin memulas dunia dengan semua warna.
Seseorang menjadi agnostik dan mengkhianati agamanya sendiri dalam upaya pencarian terhadap Tuhan, karena dunia ini terlalu kecil untuk menampung keinginan kita semua. Tuhan bersama orang berani. Orang-orang yang berani percaya bahwa Dia benar-benar ada.
03.04
Malang, 22 Maret 2012
2 komentar:
menarik...suka
gmn sh crnya bwt paduan kt yg mnrik??biar gak monoton gt..
hohoho pejmkan matamu dan lihatlah dunia disekelilingmu, semakin lebar dan semakin lebar,sehingga kamu bisa melihat semuanya, ikan yang terbang, biji yang memunculkan tunasnya, penguin yg sedang mengejar mangsanya, awan yg bergerak membentuk sketsa wajah bill clinton, semuanya... kamu bisa melebarkan pandanganmu selebar mngkin. dan tulislah apayang kamu lihat.
Posting Komentar