Kamis, 08 Maret 2012

4 Past Chapter 3

         Udara pagi menyapa dengan dingin yang membelai lembut menuturkan kata-kata akan terbitnya matahari dari ufuk timur. Sekelebatan kupu-kupu terbang mengintari bunga dendelion yang menghiasi jendela kamar yang bertirai, membuat distorsi antara pagi yang indah dan wangi. El terbangun dari mimpinya semalam, selagi menghirup udara pagi dengan semerbak khas bunga dendelion, El mengerjapkan kedua pelupuk matanya.

         Dia mencoba mengingat ingat mimpinya semalam, sekelebat garis parasnya muncul malam itu, mencoba bernaung diantara antrian mimpi yang menunggu untuk hadir dalam imajinasinya. Tertegun anggun dengan mata sayup-sayup, menghadirkan kontras sensual yang memenuhi ingatan tentang apa yang El mimpikan semalam. Kenapa wanita ini hadir kembali dalam mimpinya, menghadirkan kecamuk yang membuat pusaran badai kecil yang sempat membuat El bingung.

         Jam menunjukan pukul enam lebih lima belas menit, saatnya untul El pergi mandi dan bersiap-siap melanjutkan aktifitas paginya. Hari ini tidak terlalu bising untuk menikmati tetesan embun yang mulai menguap, disana matahari sudah menampakkan warna kuningnya, membuat hangat siapapun yang ingin mengambil cahayanya dengan damai.

         Sambil menenteng tas yang berisikan buku kuliah serta mengambil sepotong roti yang dia siapakan sejak semalam untuk sekedar mengisi energinya pagi ini, El menyalakan mesin sepeda motor yang selalu membawanya kemana dia suka. Memanaskan mesin yang dingin karena tidak terpakai semenjak El mengistirahatkan fikiran yang berkecamuk semalam. Sembari menghilangkan debu yang menempel dengan kain lap yang sedikit basah, berharap sepedanya masih menghadirkan kilau ketika beradu dengan sepeda motor lainnya dijalanan, sebenarnya motor itu sudah dimilikinnya sejak dia duduk pada bangku SMA. Kala itu ulang tahunnya yang ke tujuh belas, alih-alih hadiah ulang tahun dari kedua orang tua yang menginginkan anak dari tiga bersaudara itu tidak berjalan kaki saat sekolah nanti. Sebenarnya sudah usang dari segi luarnya tetapi mesinnya masih terawat sempurna. Kadang El berfikir mengenai motornya yang nampak rusak dari luar tetapi memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan motor keluaran terbaru. Seharusnya manusia juga begitu, walau sudah usang sebaiknya masih produktif seperti motor udiknya itu. Time to go.

          El hanya melihat keluar melalui jendela ruang kuliahnya. Orang-orang  berlalu lalang melintas dengan kesibukannya sendiri-sendiri tanpa saling menyapa, apakah yang mereka kerjakan. Benar-benar sibuk ataukah hanya menyibukkan diri agar dianggap sibuk oleh orang-orang sekitar, sungguh aneh mereka itu, padahal semut yang pekerja keras saja mau menyapa sesama ketika bertemu. Tiba-tiba ada suara gebrakan meja, pelan tapi cukuplah untuk mengalihkan pandangannya keluar dan beralih menatap kedua bola mata yang siap mencengkeram erat siapa saja yang tidak memperhatikan. Ups...

         “Iya Ibu, ada yang salahkah?” dengan memberikan senyum terbaik yang El punya.

         “Coba jawab apa yang Ibu tanyakan tadi?” Tanya dosen sembari melotot.

         Bentakan itu menyudutkan El yang sejak tadi pagi ketika masuk kelas dia memilih tempat duduk yang paling sudut, bahkan tidak ada seinci pun dia menggeliat ingin melarikan diri dari tempat duduknya.

        “Ehm anu Bu, itu lho Bu... saya sedang melihat orang yang lalu lalang diparkiran situ, kenapa ya Bu mereka tidak mau saling menyapa, padahal kan sudah jelas-jelas mereka berpapasan tapi kenapa hanya membuang muka sembari beranggapan tidak saling berpapasan?” krik krik jawaban yang seperti apa yang kamu fikirkan El?. Udahlah kamu penulis tidak usah ikut campur.El  Kembali memandang Bu dosen yang berpose seperti ingin memakan ala film-film kanibal.

         “Sekarang Ibu tanya, kapan terakhir kali kamu menyapa orang yang lewat didepanmu, termasuk menyapa pelajaran yang Ibu berikan?” kembali bertanya dengan nada yang sedikit ditekan.
        
          Tiba-tiba seakan waktu berhenti sejenak, memutuskan percakapan antara El dan dosen yang sedari tadi melotot tanpa berkedip sedikitpun.

          “(Jleb kena kamu El, makanya jangan lihat keluar terus, perhatikan jika dosenmu itu sedang menerangkan.)” celoteh penulis disela-sela percakapan El dengan dosennya tersebut

          “Eh kamu penulis udah diem aja kamu itu ga usah ikut campur masalahku dengan salah satu pasangan kung fu hustle yang satu ini.” Teriak El dalam fikirannya.

          “Hu hu hu aku ga denger.” Jawab penulis.

          “Ngapain kamu ikut-ikutan segala nimbrung dalam novelku, kamu itu tugasnya Cuma nulis tentangku, udahlah ga usah ikut campur. Mau eksis yah kamu!” El memasang kuda-kuda.

           “gag denger, gag denger. Eh itu jawab dulu pertanyaan dosenmu, ntar kalau udah selesai kuiahnya panggil aku lagi ya, aku lanjutin menulisnya. Sumonggo?” tutur penulis sembari memutar kembali waktu yang sempat berhenti tadi.

            Tiba-tiba El kembali menatap kedua bola mata itu, kedua bola mata yang mengandung bola-bola sepak bola yang ditendang dengan keras sehingga mau keluar dari sangkarnya.

           “Eh iya bu anu, itu lho pas... kapan yah, Ibu tau?” El menjawab pertanyaan dari dosennya sambil cengengesan.

           “Buat makalah tentang bagaimana caranya menghargai orang lain, dikumpulkan besok diruangan Ibu jam empat sore. Jangan telat atau kamu terancam tidak lulus untuk mata kuliah ini” Ancam Bu dosen sembari mengakhiri kuliahnya hari ini.

           “Hufh ini yang tidak aku suka, ketika asik-asik melamun melihat orang berlalu lalang eh malah dikasih tugas individu pula. Dasar dosen perguruan kungfu hustle, tau aja kalau ada mahasiswanya yang tidak memperhatikan. Kaya punya mata disetiap sudut bagian tubuhnya saja, atau jangan-jangan dosen itu punya mata di bagian tubuh yang itu (sensor). Hihihihi lucu. Hey penulis ini aku El yang cerita dan menulis sendiri, kamu istirahat sejenak saja dulu. Kasihan itu kesehatanmu.” Kata El dalam fikirannya.

            "Zzzzzz zzzz..." Penulis tertidur.

            Hari itu El mengakhiri perkuliahannya dengan membawa beban tugas yang banyak, berjalan terseok-seok dengan memegangi perutnya yang mulai berteriak-teriak minta jatah. El kemudian berlari kencang dan menemukan papan dipintu bertuliskan “Toilet”

4 komentar:

veronicka mengatakan...

like this...d'tunggu crita slnjtnya..
sesuatu emang..

Ceritaku Didalam Ceritamu mengatakan...

yang sesuatu apa coba?ayo km juga nulis.

Ainil Ashfa mengatakan...

saya baru tau ada penulis dan pemain dalam cerita berbincang hahaha
inovasinya menarik...
tapi lucu mas ceritanya hehe...
saya tunggu lanjutannya hehe....

Ceritaku Didalam Ceritamu mengatakan...

hehehe iya ini memang ruet...ya rada gendeng juga se penulisnya.

Posting Komentar

Kamis, 08 Maret 2012

Past Chapter 3

         Udara pagi menyapa dengan dingin yang membelai lembut menuturkan kata-kata akan terbitnya matahari dari ufuk timur. Sekelebatan kupu-kupu terbang mengintari bunga dendelion yang menghiasi jendela kamar yang bertirai, membuat distorsi antara pagi yang indah dan wangi. El terbangun dari mimpinya semalam, selagi menghirup udara pagi dengan semerbak khas bunga dendelion, El mengerjapkan kedua pelupuk matanya.

         Dia mencoba mengingat ingat mimpinya semalam, sekelebat garis parasnya muncul malam itu, mencoba bernaung diantara antrian mimpi yang menunggu untuk hadir dalam imajinasinya. Tertegun anggun dengan mata sayup-sayup, menghadirkan kontras sensual yang memenuhi ingatan tentang apa yang El mimpikan semalam. Kenapa wanita ini hadir kembali dalam mimpinya, menghadirkan kecamuk yang membuat pusaran badai kecil yang sempat membuat El bingung.

         Jam menunjukan pukul enam lebih lima belas menit, saatnya untul El pergi mandi dan bersiap-siap melanjutkan aktifitas paginya. Hari ini tidak terlalu bising untuk menikmati tetesan embun yang mulai menguap, disana matahari sudah menampakkan warna kuningnya, membuat hangat siapapun yang ingin mengambil cahayanya dengan damai.

         Sambil menenteng tas yang berisikan buku kuliah serta mengambil sepotong roti yang dia siapakan sejak semalam untuk sekedar mengisi energinya pagi ini, El menyalakan mesin sepeda motor yang selalu membawanya kemana dia suka. Memanaskan mesin yang dingin karena tidak terpakai semenjak El mengistirahatkan fikiran yang berkecamuk semalam. Sembari menghilangkan debu yang menempel dengan kain lap yang sedikit basah, berharap sepedanya masih menghadirkan kilau ketika beradu dengan sepeda motor lainnya dijalanan, sebenarnya motor itu sudah dimilikinnya sejak dia duduk pada bangku SMA. Kala itu ulang tahunnya yang ke tujuh belas, alih-alih hadiah ulang tahun dari kedua orang tua yang menginginkan anak dari tiga bersaudara itu tidak berjalan kaki saat sekolah nanti. Sebenarnya sudah usang dari segi luarnya tetapi mesinnya masih terawat sempurna. Kadang El berfikir mengenai motornya yang nampak rusak dari luar tetapi memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan motor keluaran terbaru. Seharusnya manusia juga begitu, walau sudah usang sebaiknya masih produktif seperti motor udiknya itu. Time to go.

          El hanya melihat keluar melalui jendela ruang kuliahnya. Orang-orang  berlalu lalang melintas dengan kesibukannya sendiri-sendiri tanpa saling menyapa, apakah yang mereka kerjakan. Benar-benar sibuk ataukah hanya menyibukkan diri agar dianggap sibuk oleh orang-orang sekitar, sungguh aneh mereka itu, padahal semut yang pekerja keras saja mau menyapa sesama ketika bertemu. Tiba-tiba ada suara gebrakan meja, pelan tapi cukuplah untuk mengalihkan pandangannya keluar dan beralih menatap kedua bola mata yang siap mencengkeram erat siapa saja yang tidak memperhatikan. Ups...

         “Iya Ibu, ada yang salahkah?” dengan memberikan senyum terbaik yang El punya.

         “Coba jawab apa yang Ibu tanyakan tadi?” Tanya dosen sembari melotot.

         Bentakan itu menyudutkan El yang sejak tadi pagi ketika masuk kelas dia memilih tempat duduk yang paling sudut, bahkan tidak ada seinci pun dia menggeliat ingin melarikan diri dari tempat duduknya.

        “Ehm anu Bu, itu lho Bu... saya sedang melihat orang yang lalu lalang diparkiran situ, kenapa ya Bu mereka tidak mau saling menyapa, padahal kan sudah jelas-jelas mereka berpapasan tapi kenapa hanya membuang muka sembari beranggapan tidak saling berpapasan?” krik krik jawaban yang seperti apa yang kamu fikirkan El?. Udahlah kamu penulis tidak usah ikut campur.El  Kembali memandang Bu dosen yang berpose seperti ingin memakan ala film-film kanibal.

         “Sekarang Ibu tanya, kapan terakhir kali kamu menyapa orang yang lewat didepanmu, termasuk menyapa pelajaran yang Ibu berikan?” kembali bertanya dengan nada yang sedikit ditekan.
        
          Tiba-tiba seakan waktu berhenti sejenak, memutuskan percakapan antara El dan dosen yang sedari tadi melotot tanpa berkedip sedikitpun.

          “(Jleb kena kamu El, makanya jangan lihat keluar terus, perhatikan jika dosenmu itu sedang menerangkan.)” celoteh penulis disela-sela percakapan El dengan dosennya tersebut

          “Eh kamu penulis udah diem aja kamu itu ga usah ikut campur masalahku dengan salah satu pasangan kung fu hustle yang satu ini.” Teriak El dalam fikirannya.

          “Hu hu hu aku ga denger.” Jawab penulis.

          “Ngapain kamu ikut-ikutan segala nimbrung dalam novelku, kamu itu tugasnya Cuma nulis tentangku, udahlah ga usah ikut campur. Mau eksis yah kamu!” El memasang kuda-kuda.

           “gag denger, gag denger. Eh itu jawab dulu pertanyaan dosenmu, ntar kalau udah selesai kuiahnya panggil aku lagi ya, aku lanjutin menulisnya. Sumonggo?” tutur penulis sembari memutar kembali waktu yang sempat berhenti tadi.

            Tiba-tiba El kembali menatap kedua bola mata itu, kedua bola mata yang mengandung bola-bola sepak bola yang ditendang dengan keras sehingga mau keluar dari sangkarnya.

           “Eh iya bu anu, itu lho pas... kapan yah, Ibu tau?” El menjawab pertanyaan dari dosennya sambil cengengesan.

           “Buat makalah tentang bagaimana caranya menghargai orang lain, dikumpulkan besok diruangan Ibu jam empat sore. Jangan telat atau kamu terancam tidak lulus untuk mata kuliah ini” Ancam Bu dosen sembari mengakhiri kuliahnya hari ini.

           “Hufh ini yang tidak aku suka, ketika asik-asik melamun melihat orang berlalu lalang eh malah dikasih tugas individu pula. Dasar dosen perguruan kungfu hustle, tau aja kalau ada mahasiswanya yang tidak memperhatikan. Kaya punya mata disetiap sudut bagian tubuhnya saja, atau jangan-jangan dosen itu punya mata di bagian tubuh yang itu (sensor). Hihihihi lucu. Hey penulis ini aku El yang cerita dan menulis sendiri, kamu istirahat sejenak saja dulu. Kasihan itu kesehatanmu.” Kata El dalam fikirannya.

            "Zzzzzz zzzz..." Penulis tertidur.

            Hari itu El mengakhiri perkuliahannya dengan membawa beban tugas yang banyak, berjalan terseok-seok dengan memegangi perutnya yang mulai berteriak-teriak minta jatah. El kemudian berlari kencang dan menemukan papan dipintu bertuliskan “Toilet”

..::Artikel Menarik Lainnya::..

4 komentar:

veronicka 8 Maret 2012 pukul 20.59  

like this...d'tunggu crita slnjtnya..
sesuatu emang..

Ceritaku Didalam Ceritamu 9 Maret 2012 pukul 09.42  

yang sesuatu apa coba?ayo km juga nulis.

Ainil Ashfa 11 Maret 2012 pukul 18.34  

saya baru tau ada penulis dan pemain dalam cerita berbincang hahaha
inovasinya menarik...
tapi lucu mas ceritanya hehe...
saya tunggu lanjutannya hehe....

Ceritaku Didalam Ceritamu 22 Maret 2012 pukul 02.25  

hehehe iya ini memang ruet...ya rada gendeng juga se penulisnya.

Posting Komentar

Silahkan menuliskan komentar anda pada opsi Google/Blogger untuk anda yang memiliki akun Google/Blogger.

Silahkan pilih account yang sesuai dengan blog/website anda (LiveJournal, WordPress, TypePad, AIM).

Pada opsi OpenID silahkan masukkan URL blog/website anda pada kotak yang tersedia.

Atau anda bisa memilih opsi Nama/URL, lalu tulis nama anda dan URL blog/website anda pada kotak yang tersedia.

Jika anda tidak punya blog/website, kolom URL boleh dikosongi atau dapat juga diganti dengan email anda.

Gunakan opsi 'Anonim' jika anda tidak ingin mempublikasikan data anda. (sangat tidak disarankan). Jika komentar anda berupa pertanyaan, maka jika anda menggunakan opsi ini tidak akan ditanggapi.

Terima kasih, komentar anda sangat berarti untuk Ceritaku di Dalam Ceritamu
:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g:
:h: :i: :j: :k: :l: :m: :n: