Kamis, 22 Maret 2012

0 Intermezzo past curankor (beware)

          Para pria memang unik. Hanya bermodal sebatang rokok, hubungan mereka bisa seakrab saudara kembar siam. Rokok adalah selinting tembakau yang dicampur cengkeh, lalu dikemas sedemikian rupa sampai berbentuk silinder. Kandungan tar dan nikotin dalam silinder ini kalau dikonsumsi berlebihan dapat membahayakan keselamatan jiwa. Jika hanya tersisa sebatang, para pria miskin di kampusku menyedot benda ini secara bergiliran.
         Saat sedang melarat, biasanya para perokok di sekretariat patungan mengumpulkan uang receh.  Caranya gampang-gampang susah. Karena uang receh itu banyak dicemplungkan ke dalam kolam ketika mereka masih kaya, mau tidak mau mereka harus menyingsingkan celana untuk memunguti recehan tadi. Anak-anak cewek senang melihat pemandangan ini. Aku, Yula dan Ayu malah sering melempar-lempar koin selagi mereka asyik mengumpulkan harta karun itu. Rasanya persis seperti pelemparan sesaji ke dalam kawah gunung Bromo ketika upacara Kasada.
          Mereka mungkin saling berbagi sebatang rokok atau seteguk kopi, tapi tidak untuk korek api. Hanya gara-gara sebiji korek api, bisa pecah perang dunia ketiga di sekretariat Mapala. Kenapa? Karena entah mulai ngetren sejak kapan dan dipopulerkan oleh siapa, pencurian properti pribadi bernama korek api ini kerap meresahkan segenap warga sekretariat.
Pelaku curankor benar-benar canggih. Jangankan ditinggal tidur, makan atau mandi, baru menengok sebentar saja, korek bisa langsung amblas. Lenyap bagai ditelan ilmu sihir. Hanya butuh waktu dua detik untuk menyadarinya.
          Peran korek api sangat penting dalam aktifitas perokokan. Sebanyak apapun rokok tanpa korek api, benda itu tidak akan menyala. Dibawah teror curankor  yang menyusahkan, para smoker tetap memanfaatkan jasa korek sebagai pemantik. Mereka tidak menggunakan bara api atau membawa kompor ke mana-mana hanya untuk menyulut tembakau lintingan yang asapnya bikin sesak napas itu. Selain tidak praktis, berat dan malu-maluin, kompor juga tidak bisa dimasukkan dalam kantong.
          Korek api itu seperti pensil anak sekolah. Mudah hilang dan berpindah tangan. Berbagai macam cara dilakukan untuk memproteksi korek. Sesulit apapun, pemilik korek akan melindungi hartanya sedemikian rupa untuk menghindari maraknya curankor di kalangan Mapala. Mereka menyayangi benda mungil itu seperti nyawa sendiri. Benar-benar konsisten dan penuh totalitas.
         Kami mendengar penuturan berdasarkan pengalaman pribadi seorang pemilik korek yang jorok dan pikun. Sebut saja Acil. Itu memang nama aslinya. Dia mengungkapkan rahasianya kepada kami—meski dia pikun—bagaimana koreknya yang butut tetap utuh tak tersentuh. Berikut dia memberikan tips agar korek tetap awet dan tidak cepat hilang.
          Pertama, Acil akan memberi nama. Cara ini sudah umum tapi kurang berhasil kalau dia hanya mencantumkan nama saja. Siapa tahu si pelaku curankor tidak peduli dan langsung menghapus namanya begitu saja. Maka dia mencari terobosan yang lebih inovatif, yaitu menuliskan kata-kata untuk melengkapi namanya. Bisa dengan kata-kata bijak atau pesan moral. Contohnya; ‘Korek Acil punya. Jangan digondol. Nggak ada lagi!’ Atau; ‘Korek Acil. Yang punya galak. Kalau sayang nyawa, kembalikan secepatnya!!’ Atau kadang kayak gini; ‘Yang punya korek ini seorang psikopat.  Acil namanya. Siapa yang ngambil bakal dipotong-potong, dikalengkan, dijadikan sarden terus dijual.’ Atau bisa juga seperti ini; ‘Korek kesayangan Acil. Acil nggak bisa bobok kalo nggak ngelonin korek ini. Yang ngambil pliiizz kembaliin yah. Emmuach!’
         Kedua, dia memberi tanda pada koreknya. Cara ini efektif untuk mengurangi resiko kehilangan, soalnya kalau ada manusia kriminal yang mau merebut hak milik, dia bisa mengenalinya lewat tanda yang sudah dibuat tadi. Selain itu tampilannya yang mencolok akan memberi kesan berbeda.  Biasanya, orang memberi tanda dengan menempelkan stiker, membubuhkan tanda tangan dengan spidol marker, mencoret-coret dengan tip-ex atau bahkan merusak komponen korek. Cara ini sah-sah saja, tapi menyebabkan keindahan korek berkurang dan menjadikannya tidak sedap dipandang.
          Ada trik yang lebih ampuh dan mujarab. Caranya yaitu dengan memberi sedikit upil pada ujung korek. Hal ini terbukti efektif. Pencuri akan malas melihat, tidak mau memegang bahkan jijik menghapus tanda tadi. Jika hilang, pemilik sah bisa dengan mudah melacaknya dengan menjilati korek tersebut. Kalau upil sudah habis, bisa diganti dengan bahan kimia lain yang tidak kalah berbahaya seperti kotoran kuping, kotoran pusar, daki atau ingus.
         Ketiga, Acil memproteksi koreknya dengan memasang gantungan. Penambahan aksesoris berupa tali ini fungsinya sama seperti gantungan flesdis, gantungan ponsel, gantungan kamera, gantungan kunci atau tiang gantungan. Kalau dia sedang tidak ada duit buat beli gantungan ponsel, Acil memanfaatkan tali-tali yang ada. Misalnya dengan tali rafia, tali jemuran, tali pocong atau tali pusar bayi yang baru lahir. Pokoknya tali apa saja asal bukan tali bra.
Terakhir, dia memanfaatkan teknologi mutakhir. Yaitu dengan menempelkan korek pada ponsel. Jika hilang, tinggal dimiskol saja. Beres.
         Anak-anak yang mendengarkan nasehat dari sang suhu langsung manggut-manggut. Siap mengaplikasikan tips-tips sederhana barusan. Cara apapun dilakukan yang penting maling korek tidak semena-mena menebar teror.
Jika korek itu benar-benar hilang, lenyap, gone! Mereka akan menyisihkan tabungan untuk menggantinya dengan korek api yang baru, asli, bagus, berstandar internasional, punya suku cadang dan memiliki label halal dari Majelis Ulama Indonesia.

Malang 22 Maret 2012

0 komentar:

Posting Komentar

Kamis, 22 Maret 2012

Intermezzo past curankor (beware)

          Para pria memang unik. Hanya bermodal sebatang rokok, hubungan mereka bisa seakrab saudara kembar siam. Rokok adalah selinting tembakau yang dicampur cengkeh, lalu dikemas sedemikian rupa sampai berbentuk silinder. Kandungan tar dan nikotin dalam silinder ini kalau dikonsumsi berlebihan dapat membahayakan keselamatan jiwa. Jika hanya tersisa sebatang, para pria miskin di kampusku menyedot benda ini secara bergiliran.
         Saat sedang melarat, biasanya para perokok di sekretariat patungan mengumpulkan uang receh.  Caranya gampang-gampang susah. Karena uang receh itu banyak dicemplungkan ke dalam kolam ketika mereka masih kaya, mau tidak mau mereka harus menyingsingkan celana untuk memunguti recehan tadi. Anak-anak cewek senang melihat pemandangan ini. Aku, Yula dan Ayu malah sering melempar-lempar koin selagi mereka asyik mengumpulkan harta karun itu. Rasanya persis seperti pelemparan sesaji ke dalam kawah gunung Bromo ketika upacara Kasada.
          Mereka mungkin saling berbagi sebatang rokok atau seteguk kopi, tapi tidak untuk korek api. Hanya gara-gara sebiji korek api, bisa pecah perang dunia ketiga di sekretariat Mapala. Kenapa? Karena entah mulai ngetren sejak kapan dan dipopulerkan oleh siapa, pencurian properti pribadi bernama korek api ini kerap meresahkan segenap warga sekretariat.
Pelaku curankor benar-benar canggih. Jangankan ditinggal tidur, makan atau mandi, baru menengok sebentar saja, korek bisa langsung amblas. Lenyap bagai ditelan ilmu sihir. Hanya butuh waktu dua detik untuk menyadarinya.
          Peran korek api sangat penting dalam aktifitas perokokan. Sebanyak apapun rokok tanpa korek api, benda itu tidak akan menyala. Dibawah teror curankor  yang menyusahkan, para smoker tetap memanfaatkan jasa korek sebagai pemantik. Mereka tidak menggunakan bara api atau membawa kompor ke mana-mana hanya untuk menyulut tembakau lintingan yang asapnya bikin sesak napas itu. Selain tidak praktis, berat dan malu-maluin, kompor juga tidak bisa dimasukkan dalam kantong.
          Korek api itu seperti pensil anak sekolah. Mudah hilang dan berpindah tangan. Berbagai macam cara dilakukan untuk memproteksi korek. Sesulit apapun, pemilik korek akan melindungi hartanya sedemikian rupa untuk menghindari maraknya curankor di kalangan Mapala. Mereka menyayangi benda mungil itu seperti nyawa sendiri. Benar-benar konsisten dan penuh totalitas.
         Kami mendengar penuturan berdasarkan pengalaman pribadi seorang pemilik korek yang jorok dan pikun. Sebut saja Acil. Itu memang nama aslinya. Dia mengungkapkan rahasianya kepada kami—meski dia pikun—bagaimana koreknya yang butut tetap utuh tak tersentuh. Berikut dia memberikan tips agar korek tetap awet dan tidak cepat hilang.
          Pertama, Acil akan memberi nama. Cara ini sudah umum tapi kurang berhasil kalau dia hanya mencantumkan nama saja. Siapa tahu si pelaku curankor tidak peduli dan langsung menghapus namanya begitu saja. Maka dia mencari terobosan yang lebih inovatif, yaitu menuliskan kata-kata untuk melengkapi namanya. Bisa dengan kata-kata bijak atau pesan moral. Contohnya; ‘Korek Acil punya. Jangan digondol. Nggak ada lagi!’ Atau; ‘Korek Acil. Yang punya galak. Kalau sayang nyawa, kembalikan secepatnya!!’ Atau kadang kayak gini; ‘Yang punya korek ini seorang psikopat.  Acil namanya. Siapa yang ngambil bakal dipotong-potong, dikalengkan, dijadikan sarden terus dijual.’ Atau bisa juga seperti ini; ‘Korek kesayangan Acil. Acil nggak bisa bobok kalo nggak ngelonin korek ini. Yang ngambil pliiizz kembaliin yah. Emmuach!’
         Kedua, dia memberi tanda pada koreknya. Cara ini efektif untuk mengurangi resiko kehilangan, soalnya kalau ada manusia kriminal yang mau merebut hak milik, dia bisa mengenalinya lewat tanda yang sudah dibuat tadi. Selain itu tampilannya yang mencolok akan memberi kesan berbeda.  Biasanya, orang memberi tanda dengan menempelkan stiker, membubuhkan tanda tangan dengan spidol marker, mencoret-coret dengan tip-ex atau bahkan merusak komponen korek. Cara ini sah-sah saja, tapi menyebabkan keindahan korek berkurang dan menjadikannya tidak sedap dipandang.
          Ada trik yang lebih ampuh dan mujarab. Caranya yaitu dengan memberi sedikit upil pada ujung korek. Hal ini terbukti efektif. Pencuri akan malas melihat, tidak mau memegang bahkan jijik menghapus tanda tadi. Jika hilang, pemilik sah bisa dengan mudah melacaknya dengan menjilati korek tersebut. Kalau upil sudah habis, bisa diganti dengan bahan kimia lain yang tidak kalah berbahaya seperti kotoran kuping, kotoran pusar, daki atau ingus.
         Ketiga, Acil memproteksi koreknya dengan memasang gantungan. Penambahan aksesoris berupa tali ini fungsinya sama seperti gantungan flesdis, gantungan ponsel, gantungan kamera, gantungan kunci atau tiang gantungan. Kalau dia sedang tidak ada duit buat beli gantungan ponsel, Acil memanfaatkan tali-tali yang ada. Misalnya dengan tali rafia, tali jemuran, tali pocong atau tali pusar bayi yang baru lahir. Pokoknya tali apa saja asal bukan tali bra.
Terakhir, dia memanfaatkan teknologi mutakhir. Yaitu dengan menempelkan korek pada ponsel. Jika hilang, tinggal dimiskol saja. Beres.
         Anak-anak yang mendengarkan nasehat dari sang suhu langsung manggut-manggut. Siap mengaplikasikan tips-tips sederhana barusan. Cara apapun dilakukan yang penting maling korek tidak semena-mena menebar teror.
Jika korek itu benar-benar hilang, lenyap, gone! Mereka akan menyisihkan tabungan untuk menggantinya dengan korek api yang baru, asli, bagus, berstandar internasional, punya suku cadang dan memiliki label halal dari Majelis Ulama Indonesia.

Malang 22 Maret 2012

..::Artikel Menarik Lainnya::..

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan menuliskan komentar anda pada opsi Google/Blogger untuk anda yang memiliki akun Google/Blogger.

Silahkan pilih account yang sesuai dengan blog/website anda (LiveJournal, WordPress, TypePad, AIM).

Pada opsi OpenID silahkan masukkan URL blog/website anda pada kotak yang tersedia.

Atau anda bisa memilih opsi Nama/URL, lalu tulis nama anda dan URL blog/website anda pada kotak yang tersedia.

Jika anda tidak punya blog/website, kolom URL boleh dikosongi atau dapat juga diganti dengan email anda.

Gunakan opsi 'Anonim' jika anda tidak ingin mempublikasikan data anda. (sangat tidak disarankan). Jika komentar anda berupa pertanyaan, maka jika anda menggunakan opsi ini tidak akan ditanggapi.

Terima kasih, komentar anda sangat berarti untuk Ceritaku di Dalam Ceritamu
:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g:
:h: :i: :j: :k: :l: :m: :n: