Aku melihat kita duduk di sini dan bicara tentang ide-ide nakal yang belum terungkap, mengomentari kalimat ambigu, mengkritisi tulisan di spanduk yang terpasang di sudut-sudut jalan, mengamati orang-orang berlalu lalang, mengejek teman, saling memaki, menganiaya dan melakukan tingkah aneh lainnya. Semuanya dilakukan sambil makan krupuk. Saudara… di luar negeri krupuk disebut cracker, jadi kita sekarang sedang makan cracker, hebat kan?
Anak-anak penentang senior dan pembuat onar. Saling bertanya apakah kucing-kucing di UKM itu perlu diberi nama, diskusi tentang birokrasi, ngotot bahwa gado-gado adalah cikal bakal salad, setuju kalau batagor dan cilok adalah saudara sepupu bakso.
Tidak ada yang lebih tidak penting, tapi kita menikmatinya.
Kita berontak, melawan, menyumpah dalam hati karena pengkhianatan, bersyukur telah dipertemukan satu sama lain yang senasib. Memiliki visi, misi dan ambisi yang—nyaris—sama. Lega melihat salah seorang dari kita baik-baik saja.
Kami adalah bom waktu yang setiap saat bisa meledak. Mengumpulkan kekuatan dalam gerakan bawah tanah. Kadang ketika sedang diskusi, beberapa senior mempergoki kami. Rasanya seperti tentara gerilya yang tertangkap Belanda. Antar ngeri, berdebar, panik, bangga, cemas dan meletup-letup. Kalian yang membuat kami seperti ini. Jangan pernah lupakan itu.
Kadang aku berpikir kita ini sebagai robot, dan senior-senior itu adalah ilmuwan yang menciptakan kita. Mereka mencetak kita dengan berbagai cara. Membekali dengan berbagai keahlian, ilmu, ketrampilan, pengetahuan, skill, mengajari banyak hal, mencuci otak dan memasukkan ideologi.
Kita memang tumbuh. Tapi tunas ini muncul bersama dendam yang menyertai mekarnya spora chouvinisme. Tunas yang belum sepenuhnya matang sudah tercerabut. Kita menciptakan kubu pemberontakan dengan cara lazim yang orang sebut sebagai pengelompokan diri.
Kami adalah kami, kalian adalah kalian. Tetaplah mendaki puncak pengkotak-kotakkan.
Para ilmuwan itu merasa robot-robotnya mati rasa, mereka terpecah belah. Kita semakin kuat.
Memberontak ternyata tidak hanya bisa dengan merusak, tapi bisa juga dengan diam.
Kita menjadi reaktif dan tidak pernah proaktif
Kita membuat benteng
Kita menggali liang
Kita bergerilya tengah malam
Kita koordinasi
Kita membangun sarang
Kita kesakitan
Kita berusaha lari
Kita menangis malam hari
Kita tidak akan mati
00.09
23 Maret 2012
0 komentar:
Posting Komentar