Jumat, 23 Maret 2012

0 Nightingale

        Sebuah hadiah kecil untuk dongeng yang pernah kau ceritakan padaku
        Monolog suatu malam di tepi kolam
        Ini adalah minggu ke tiga. Hari yang sama ketika aku dilahirkan. Kadang kenangan tak lagi berbeda.
         Aku mengembara melintasi sudut-sudut hidup. Melewati portal yang membuat dunia terpisah ruang dan waktu. Di sini, tempat keramat yang aku inginkan sebagai pusaran angin di mana kami bertemu. Musim dingin selalu menjadikannya lebih kelam dan beku.
        Sore yang muram. Bangku-bangku kosong, pohon-pohon kurus menjulang,  geliat angin yang tak lagi berang.
         Aku tengah menunggu seseorang. Ia dulu adalah temanku yang sedikit berbeda. Sekarang ia menjadi seorang penulis yang telah menghasilkan banyak buku. Aku selalu tertarik dengan dunia sastra dan literature, karena itu, sebagian besar karyanya berhasil memenuhi rak buku di kamarku.
        Bertahun lalu kami dipertemukan dalam kegiatan yang dijalankan oleh sebuah komunitas. Kami selalu menjadi pemberontak waktu itu. Menjalani sesuatu tanpa berpikir dan melakukan hal-hal yang sering membahayakan jiwa. Kami masih begitu dikendalikan oleh rasa ingin tahu dan tidak menyadari betapa berbahayanya ketika bosan melingkupi segenap jiwa.
        Ia adalah anak laki-laki yang tak mau menyerah dan mengalah untuk melegakan hati temannya. Aku juga tak pernah ingin dianggap lemah. Begitu naif, begitu ragu-ragu.
        Kini kehidupannya yang misterius tidak banyak diketahui publik karena sifat tertutupnya yang rumit. Semua orang mengatakan ia seorang jenius yang eksentrik. Entah seperti apa ia sekarang, bertahun-tahun kami jalani tanpa mengetahui kondisi satu sama lain. Aku hanya membaca karyanya. Sebuah tulisan yang dulu senantiasa menjadi perdebatan panjang di antara kami telah mengisi berlembar-lembar halaman dalam kumpulan cerita pendeknya. Ia sering mengutip pembicaraan kami untuk tulisannya.
        Detik-detik berlalu, sore makin menggila dengan aroma musim gugur yang redup.
        Lampu-lampu mulai menyala, orang-orang berlalu lalang dengan tergesa. Dari ujung pertigaan kulihat seorang laki-laki berjalan cepat ke arahku. Suhu yang dingin memaksanya menghembuskan butiran embun halus dari balik mantel.
Itu dia! Florian. Tidak banyak berubah, ia tetaplah anak laki-laki yang kukenal tiga tahun lalu dalam sebuah kegiatan yang akhirnya mencetak kami menjadi pemberontak dengan cara kami sendiri.
         Matanya sehitam jelaga. Rambutnya sedikit panjang berombak membingkai wajah pucat dengan rahang keras dan dagu yang lancip. Aku seolah terseret kembali ke masa lampau yang aus termakan jaman. Dengan gerakan kaku, ia menghampiri. Aku berdiri dan menatapnya.
         “Sekarang sudah hampir gelap. Lama sekali kita tidak bersama sejak upacara kelulusan.” Florian mengulurkan tangan sambil tersenyum. Jauh sekali penampilannya dengan yang dikatakan orang bahwa ia seorang eksentrik, ia bahkan tumbuh menjadi seorang yang cool.
         “Kau terlihat baik-baik saja” ujarku.
           Kami berjabat tangan. Jari-jarinya membeku seperti bongkahan es. Kami masih berdiri dalam kegamangan yang absurd. Matanya kelam melihat sekeliling, lalu bertolak menukik tajam padaku.   Aku menggigil karena takjub. Syal hijau tuaku berkibar, dingin menusuk-nusuk melalui celah sweater yang kukenakan.
         Perbincangan kami lalu mengalir begitu saja seperti mata tombak Poseidon. Ia telah membeli sebuah rumah kosong yang agak jauh di atas bukit. Di sanalah sebagian waktunya digunakan untuk menulis. Maka lahirlah karya-karya fenomenal yang menyihir banyak pecinta karya sastra bergenre surealis.
        Lalu ia mengundangku makan malam di rumahnya. Sebuah kebetulan yang tiba-tiba, karena aku merasa begitu tidak mengenali sahabatku ini. Rasanya ingin sekali mengetahui kehidupannya yang misterius.
                                                                           ***
        Akhirnya tibalah pada malam yang ditentukan. Aku berdiri di depan pintu rumahnya yang luas. Dari luar, bangunan kuno yang lama tidak ditempati itu layaknya sebuah rumah hantu yang menyeramkan.
        Halamannya ditumbuhi rumput liar yang tidak pernah dipangkas. Beberapa pohon besar tampak liar menghalangi sinar rembulan. Bukit ini begitu tinggi sehingga aku dapat melihat lampu-lampu di kota yang berkelap-kelip seperti milyaran kunang-kunang bercahaya perak. Empat pilar besar menjadi penopang kanopi depan, dinding rumah ini telah terkelupas dan kusam. Lampu redup yang menyala di sisi pintu membuatnya semakin suram.
        Aku memeriksa penampilanku. Gaun malam berwarna hitam pemberiannya untuk kukenakan malam ini terlalu besar. Aku tak bisa melihat ujung kakiku sendiri. Tiba-tiba pintu terbuka. Aku masuk, tapi tak ada siapapun di sana. Sebuah lampu gantung bercahaya kuning redup menyambutku, beberapa bagian telah patah dan sarang laba-laba menghiasi kristal-kristalnya yang bergelantungan.
        Di ruang tengah, lampu-lampu dinyalakan, sinarnya merah dan temaram. Sebuah meja makan dilengkapi lilin dan dua buah kursi cantik berpita hitam berada di tengah-tengah ruangan. Kipas angin berputar di langit-langit tepat di atas meja menimbulkan bunyi derit panjang karena geriginya telah aus dimakan waktu.
       “Selamat datang di rumahku...Nightingale.”
       Aku terkejut, Florian sudah berdiri di tangga. Ia mengenakan setelan tuxedo gelap dan rambutnya yang mulai panjang disisir acak menutupi dahi. Ia melangkah maju, mencium tanganku.
       “Kau cantik sekali, terimakasih untuk membiarkan rambutmu tergerai.” Ia membimbingku ke meja makan dan mempersilahkan duduk. Aku masih terpukau dengan situasi yang tak pernah kuduga sebelumnya.
        “Rumahmu membuatku merasa aneh. Sepertinya kau tidak pernah benar-benar berusaha membuatnya nyaman.”
       “Hhm…. Mari bersulang,”
       Florian tidak menanggapi ucapanku, tapi aku menurut ketika ia meminta kami bersulang.        Anggur merah pekat ini rasanya seperti telah tercampur sesuatu. Kental dan anyir. Aromanya sangat menusuk dan tajam. Aku merasa pusing. Kami makan tanpa bicara.
        Lalu ia mengajakku berdansa.
       Piringan hitam berputar dan mengalunlah musik klasik yang lembut. Gaunku berkibar-kibar.        Hentakan kaki seirama dengan hentakan jantung yang tiba-tiba berdegup di luar kendali.
Ia tak pernah berhenti menatapku selama kami berdansa. Gerakanku kaku. Jengah berusaha mengalihkan perhatian tapi matanya yang sendu meluluhkan pertahananku. Kami berputar-putar di ruangan luas itu mengikuti aliran musik yang menghantam perasaan seolah membawa untuk larut ke dalamnya. Malam menjadi semakin tua. Di luar, kabut tebal menyelimuti bukit itu.
        Florian mengajakku melihat-lihat rumahnya. Dimana kamar tidur, dapur dan studio tempatnya menghabiskan banyak waktu untuk menulis, taman belakang dan loteng tempatnya menyimpan semua koleksi karya seni dan sebuah ruang terlarang yang tidak ia sebutkan seperti apa fungsinya dan tidak ingin mengajakku masuk ke sana.
      “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu…” katanya tiba-tiba, aku menatapnya curiga, matanya sebeku es. Meski telah mengenalnya bertahun lalu, tapi aku tak bisa mengembalikan perasaanku seperti dulu lagi.
      “Katakan saja”
      “Aku mencintaimu. Menikahlah denganku.” Satu yang tidak berubah, Florian tetaplah seorang pemuda yang tidak suka basa basi, ia akan spontan melakukan apa yang menurutnya tepat. Tapi aku tetap terkejut mendengarnya. Selama ini kami seperti sahabat karib yang tak pernah menyimpan rasa apapun melebihi persahabatan itu sendiri. Hubungan kami telah terkunci mati dalam simbol yang hanya bisa diterjemahkan sebagai pertemanan.
       “Flor, aku…” aku bimbang mengatakannya, tapi ia malah menggenggam tanganku. Bisa kurasakan jantungnya berdegupan dengan gila.
       “Aku tidak bisa.” Kataku, berusaha selembut mungkin agar tidak membuatnya marah, perlahan-lahan genggamannya lepas. Ia berdiri seperti patung lilin, menatap tajam kisi-kisi lantai perkamen. Aku minta maaf berkali-kali sambil menyatakan alasan bahwa aku tak bisa menghilangkan perasaanku padanya sebagai teman.
       Perlahan kulihat seulas senyum menghiasi bibirnya yang tipis. Ia mengangkat wajahnya. Lingkar  hitam di bawah kedua mata membuat rona pucatnya semakin nyata dalan pantulan cahaya lampu gantung di ruangan remang-remang itu. Aku lega ia tidak tersinggung dengan penolakanku. Tapi rasa lega itu hanya sesaat karena samar kulihat kibasan benda mengkilat dari balik tuxedo hitamnya. Aku terpekik, ulu hatiku terasa nyeri. Senyum di bibirnya makin mengembang. Aku masih sempat menangkap mulutnya mengatakan sesuatu, tapi telingaku seperti tuli, pori-pori kulitnya mati rasa, aku tak sanggup bersuara dan napasku sesak sekali.
        Florian bersimpuh, memelukku yang jatuh terbaring di lantai perkamen, cairan kental membasahi gaun dan tanganku. Aku menelan ludah berkali-kali. Pelan sekali ia mencium pipiku yang mulai kehilangan rona merahnya. Lalu ruangan luas yang remang-remang itu berubah gelap sekali. Aku kehilangan Florian. Ia lenyap.
                                                                                ***
        Aku berjalan penuh semangat. Ini akan menjadi waktu yang sangat berharga untukku. Semua undangan telah tersebar, gedung resepsi telah dipesan, dan hanya menunggu waktu sampai mempelaiku benar-benar siap. Aku masuk ke ruang itu, ruangan yang khusus kusiapkan untuknya. Ia duduk di kursi malas menghadap jendela, matanya terpejam, sepertinya ia kelelahan hari ini.   Bias-bias sinar matahari senja memantulkan kulitnya yang pualam.
        Ia masih sangat belia. Seperti beberapa tahun lalu ketika kami bertemu, menjadi satu tim dalam sebuah pendakian ke puncak gunung. Ia tertatih menapaki jalur terjal dan berencana menghentikan pejalanan sebelum pada akhirnya kuseret ia dengan paksa menyelesaikan misi pendakian itu. Sifat keras kepalanya yang tak terkalahkan telah memenjarakan egoku, kepolosan yang naïf seorang  Nightingale berhasil menjatuhkan pilihanku padanya. Ia benar-benar tuan putri yang sombong membiarkan hati punggawa buruk rupa sepertiku tercabik-cabik, memburai berserakan di lantai perkamen satu tahun lalu.
       Tapi kini putri Elle-ku yang jelita telah menjadi milikku selamanya. Ia senantiasa tersenyum, tak ada rona kesedihan di matanya.
       Perlahan kututup kembali pintu ruangan itu. Membiarkannya istirahat sejenak. Sementara segala perlengkapan harus kusiapkan malam ini. Hatiku berdebar kencang sekali.
       Akhirnya tiba pada saat yang sangat kunantikan. Berdiri di altar dengan perasaan yang tak terlukiskan. Sebagai seorang mempelai laki-laki yang menunggu kekasihnya untuk berjanji di hadapan Tuhan.
       Malam telah mengirimkan sejuta aroma musim yang nyaris berganti. Bulan separuh bagian menghiasi langit. Gedung ini sangat benderang, lusinan cahaya dari kristal di langit-langit berpendar-pendar menyilaukan.
       Semua undangan telah hadir. Disana kulihat wajah-wajah asing para wartawan media massa yang siaga dengan kamera dan blitz yang menyala-nyala. Kurasa mereka semua
penasaran denganku yang selama ini memang sengaja menjauh dari media. Mantan-mantan kekasihku yang datang sendirian atau bersama suami-suami mereka, teman-temanku tercinta dari masa lalu, keluarga yang masih mengingatku, mantan kekasih mempelaiku, teman-temannya dan seseorang yang sangat mencintainya dulu, kini duduk di bangku paling depan menyaksikan ia menikah denganku malam ini. Entah apa yang ia rasakan sekarang.
        “Semua hadirin, mohon berdiri…” sebuah suara dari pemandu acara.
        Seluruh tamu undangan berdiri, mata mereka tertuju pada pintu gedung yang menjulang dan segera terbuka. Tampak sebuah pemandangan yang akan membuat jantung siapapun berdetak lebih kencang dari biasanya. Seseorang berjalan mendorong kursi roda. Di atas kursi roda itu, pengantin yang begitu bercahaya duduk dengan anggun. Gaun putih yang indah berlapis-lapis ditaburi mutiara, sebuah liontin yang berkilau di lehernya, sarung tangan transparan membalut lengan terbukanya yang cantik, sebuah mahkota dan penutup wajah yang menyembunyikan auranya yang menawan. Aku sadar semua undangan terpukau pada pesona Nightingale melebihi apapun. Ia benar-benar menyihir kami.
          Kami semakin dekat dan benar-benar bersanding bersama. Pendeta membacakan doa-doa.
          “…. Berjanji sepenuh hati untuk bersama dalam suka, duka, kaya, miskin, sakit maupun sehat dan untuk bersama sampai ajal memisahkan…. ”
         “Ya… aku berjanji..” Aku mengucapkan janji dan melirik mempelaiku sekilas. Ia tak bergeming.
          Hingga pada sesi dimana pendeta menyatakan untuk membuka penutup wajah pengantin wanita dan menciumnya. Aku berdebar-debar. Ini mengingatkanku pada malam dimana aku melamarnya satu tahun lalu, malam di mana aku tak sanggup membedakan mana detak jarum jam dan mana detak jantungku sendiri. 
         Kubuka kerudung penutup kepalanya perlahan. Yang nampak adalah sesosok wajah pucat dengan mata terpejam. Lingkar hitam matanya tak dapat disamarkan, bibir yang berkilau oleh riasan terkatup rapat menyembunyikan senyum dinginnya, bahkan pipinya yang pucat masih begitu lembut. Ia bagai patung marmer yang duduk dalam singgasana.
        Aku menciumnya. Dingin. Tak ada hawa hidup yang melingkupi napasnya.
        Aku melihat wajah-wajah para undangan berubah menjadi lebih tawar dari wajah pengantinku. Namun aku menghargainya sebagai ungkapan kebahagiaan yang tak terkira.
                                                                       ***
       Nightingale, selama satu tahun kurawat jasadnya yang kaku. Aku memandikannya, memakaikan gaun, menyisir rambutnya yang panjang dan menghiasinya dengan bunga-bunga kecil.
        Aku mengajaknya berdansa, menyusuri pantai, membuatkan makan malam dan menidurkannya. Aku melukisnya dalam sebuah sketsa, menciptakan karakter seperti dirinya dalam cerita yang sedang kutulis, mengajaknya bercanda dan membangunkannya kala pagi menjelang. Aku bicara padanya, berdiskusi dan selalu mencintainya.
        Nightingale, selama satu tahun kusimpan jasad bersama kenangan indah kami bersama.
        Sejak kejadian malam itu, aku memeluknya sepanjang malam. Kugendong sosok tak bernyawa yang mulai mengurai itu ke dalam bathtub, mengguyur bersih darah yang mengalir dari dadanya. Kulitnya yang pualam tak lagi merona, pipinya seputih kapas dan bibirnya… seperti ada darah beku yang mengendap di sana, hitam dan cekung.
        Kutumpahkan semua cairan dalam botol yang berbau menyengat itu bersama aliran air. Ia tampak melayang di bak mandi yang terlalu besar menampung tubuhnya. Aku telah melihat sosok putri duyung dalam wujud yang berbeda.
        Sepanjang hari kuceritakan tentang pangeran kaki peri dan burung layang-layang yang terbang ke selatan menghindari musim dingin. Kududukkan ia di sebuah perahu kecil di danau taman belakang rumah. Ditemani lilin-lilin ketika bulan tak bersinar dan bintang muncul membentuk nebula. Aku juga memainkan biola untuk menghiburnya. Kami mendayung bersama mengitari danau.
        Ia akan terlelap karena lelah dan segera kubopong ke tempat tidurnya yang dipenuhi mawar.  Nightingale yang menemaniku menyelesaikan tulisan untuk buku-buku yang akan kuterbitkan. Ia tak mengeluh meski aku tak pernah tidur. Ia akan setia menemaniku hingga hari berganti.
Ini adalah minggu ketiga. Hari yang sama sejak malam itu. Dalam keremangan cahaya bulan, kulihat wajah Nightingale berseri-seri menatapku.

04.12 wib
Malang, Senin 24 Maret 2012

0 komentar:

Posting Komentar

Jumat, 23 Maret 2012

Nightingale

        Sebuah hadiah kecil untuk dongeng yang pernah kau ceritakan padaku
        Monolog suatu malam di tepi kolam
        Ini adalah minggu ke tiga. Hari yang sama ketika aku dilahirkan. Kadang kenangan tak lagi berbeda.
         Aku mengembara melintasi sudut-sudut hidup. Melewati portal yang membuat dunia terpisah ruang dan waktu. Di sini, tempat keramat yang aku inginkan sebagai pusaran angin di mana kami bertemu. Musim dingin selalu menjadikannya lebih kelam dan beku.
        Sore yang muram. Bangku-bangku kosong, pohon-pohon kurus menjulang,  geliat angin yang tak lagi berang.
         Aku tengah menunggu seseorang. Ia dulu adalah temanku yang sedikit berbeda. Sekarang ia menjadi seorang penulis yang telah menghasilkan banyak buku. Aku selalu tertarik dengan dunia sastra dan literature, karena itu, sebagian besar karyanya berhasil memenuhi rak buku di kamarku.
        Bertahun lalu kami dipertemukan dalam kegiatan yang dijalankan oleh sebuah komunitas. Kami selalu menjadi pemberontak waktu itu. Menjalani sesuatu tanpa berpikir dan melakukan hal-hal yang sering membahayakan jiwa. Kami masih begitu dikendalikan oleh rasa ingin tahu dan tidak menyadari betapa berbahayanya ketika bosan melingkupi segenap jiwa.
        Ia adalah anak laki-laki yang tak mau menyerah dan mengalah untuk melegakan hati temannya. Aku juga tak pernah ingin dianggap lemah. Begitu naif, begitu ragu-ragu.
        Kini kehidupannya yang misterius tidak banyak diketahui publik karena sifat tertutupnya yang rumit. Semua orang mengatakan ia seorang jenius yang eksentrik. Entah seperti apa ia sekarang, bertahun-tahun kami jalani tanpa mengetahui kondisi satu sama lain. Aku hanya membaca karyanya. Sebuah tulisan yang dulu senantiasa menjadi perdebatan panjang di antara kami telah mengisi berlembar-lembar halaman dalam kumpulan cerita pendeknya. Ia sering mengutip pembicaraan kami untuk tulisannya.
        Detik-detik berlalu, sore makin menggila dengan aroma musim gugur yang redup.
        Lampu-lampu mulai menyala, orang-orang berlalu lalang dengan tergesa. Dari ujung pertigaan kulihat seorang laki-laki berjalan cepat ke arahku. Suhu yang dingin memaksanya menghembuskan butiran embun halus dari balik mantel.
Itu dia! Florian. Tidak banyak berubah, ia tetaplah anak laki-laki yang kukenal tiga tahun lalu dalam sebuah kegiatan yang akhirnya mencetak kami menjadi pemberontak dengan cara kami sendiri.
         Matanya sehitam jelaga. Rambutnya sedikit panjang berombak membingkai wajah pucat dengan rahang keras dan dagu yang lancip. Aku seolah terseret kembali ke masa lampau yang aus termakan jaman. Dengan gerakan kaku, ia menghampiri. Aku berdiri dan menatapnya.
         “Sekarang sudah hampir gelap. Lama sekali kita tidak bersama sejak upacara kelulusan.” Florian mengulurkan tangan sambil tersenyum. Jauh sekali penampilannya dengan yang dikatakan orang bahwa ia seorang eksentrik, ia bahkan tumbuh menjadi seorang yang cool.
         “Kau terlihat baik-baik saja” ujarku.
           Kami berjabat tangan. Jari-jarinya membeku seperti bongkahan es. Kami masih berdiri dalam kegamangan yang absurd. Matanya kelam melihat sekeliling, lalu bertolak menukik tajam padaku.   Aku menggigil karena takjub. Syal hijau tuaku berkibar, dingin menusuk-nusuk melalui celah sweater yang kukenakan.
         Perbincangan kami lalu mengalir begitu saja seperti mata tombak Poseidon. Ia telah membeli sebuah rumah kosong yang agak jauh di atas bukit. Di sanalah sebagian waktunya digunakan untuk menulis. Maka lahirlah karya-karya fenomenal yang menyihir banyak pecinta karya sastra bergenre surealis.
        Lalu ia mengundangku makan malam di rumahnya. Sebuah kebetulan yang tiba-tiba, karena aku merasa begitu tidak mengenali sahabatku ini. Rasanya ingin sekali mengetahui kehidupannya yang misterius.
                                                                           ***
        Akhirnya tibalah pada malam yang ditentukan. Aku berdiri di depan pintu rumahnya yang luas. Dari luar, bangunan kuno yang lama tidak ditempati itu layaknya sebuah rumah hantu yang menyeramkan.
        Halamannya ditumbuhi rumput liar yang tidak pernah dipangkas. Beberapa pohon besar tampak liar menghalangi sinar rembulan. Bukit ini begitu tinggi sehingga aku dapat melihat lampu-lampu di kota yang berkelap-kelip seperti milyaran kunang-kunang bercahaya perak. Empat pilar besar menjadi penopang kanopi depan, dinding rumah ini telah terkelupas dan kusam. Lampu redup yang menyala di sisi pintu membuatnya semakin suram.
        Aku memeriksa penampilanku. Gaun malam berwarna hitam pemberiannya untuk kukenakan malam ini terlalu besar. Aku tak bisa melihat ujung kakiku sendiri. Tiba-tiba pintu terbuka. Aku masuk, tapi tak ada siapapun di sana. Sebuah lampu gantung bercahaya kuning redup menyambutku, beberapa bagian telah patah dan sarang laba-laba menghiasi kristal-kristalnya yang bergelantungan.
        Di ruang tengah, lampu-lampu dinyalakan, sinarnya merah dan temaram. Sebuah meja makan dilengkapi lilin dan dua buah kursi cantik berpita hitam berada di tengah-tengah ruangan. Kipas angin berputar di langit-langit tepat di atas meja menimbulkan bunyi derit panjang karena geriginya telah aus dimakan waktu.
       “Selamat datang di rumahku...Nightingale.”
       Aku terkejut, Florian sudah berdiri di tangga. Ia mengenakan setelan tuxedo gelap dan rambutnya yang mulai panjang disisir acak menutupi dahi. Ia melangkah maju, mencium tanganku.
       “Kau cantik sekali, terimakasih untuk membiarkan rambutmu tergerai.” Ia membimbingku ke meja makan dan mempersilahkan duduk. Aku masih terpukau dengan situasi yang tak pernah kuduga sebelumnya.
        “Rumahmu membuatku merasa aneh. Sepertinya kau tidak pernah benar-benar berusaha membuatnya nyaman.”
       “Hhm…. Mari bersulang,”
       Florian tidak menanggapi ucapanku, tapi aku menurut ketika ia meminta kami bersulang.        Anggur merah pekat ini rasanya seperti telah tercampur sesuatu. Kental dan anyir. Aromanya sangat menusuk dan tajam. Aku merasa pusing. Kami makan tanpa bicara.
        Lalu ia mengajakku berdansa.
       Piringan hitam berputar dan mengalunlah musik klasik yang lembut. Gaunku berkibar-kibar.        Hentakan kaki seirama dengan hentakan jantung yang tiba-tiba berdegup di luar kendali.
Ia tak pernah berhenti menatapku selama kami berdansa. Gerakanku kaku. Jengah berusaha mengalihkan perhatian tapi matanya yang sendu meluluhkan pertahananku. Kami berputar-putar di ruangan luas itu mengikuti aliran musik yang menghantam perasaan seolah membawa untuk larut ke dalamnya. Malam menjadi semakin tua. Di luar, kabut tebal menyelimuti bukit itu.
        Florian mengajakku melihat-lihat rumahnya. Dimana kamar tidur, dapur dan studio tempatnya menghabiskan banyak waktu untuk menulis, taman belakang dan loteng tempatnya menyimpan semua koleksi karya seni dan sebuah ruang terlarang yang tidak ia sebutkan seperti apa fungsinya dan tidak ingin mengajakku masuk ke sana.
      “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu…” katanya tiba-tiba, aku menatapnya curiga, matanya sebeku es. Meski telah mengenalnya bertahun lalu, tapi aku tak bisa mengembalikan perasaanku seperti dulu lagi.
      “Katakan saja”
      “Aku mencintaimu. Menikahlah denganku.” Satu yang tidak berubah, Florian tetaplah seorang pemuda yang tidak suka basa basi, ia akan spontan melakukan apa yang menurutnya tepat. Tapi aku tetap terkejut mendengarnya. Selama ini kami seperti sahabat karib yang tak pernah menyimpan rasa apapun melebihi persahabatan itu sendiri. Hubungan kami telah terkunci mati dalam simbol yang hanya bisa diterjemahkan sebagai pertemanan.
       “Flor, aku…” aku bimbang mengatakannya, tapi ia malah menggenggam tanganku. Bisa kurasakan jantungnya berdegupan dengan gila.
       “Aku tidak bisa.” Kataku, berusaha selembut mungkin agar tidak membuatnya marah, perlahan-lahan genggamannya lepas. Ia berdiri seperti patung lilin, menatap tajam kisi-kisi lantai perkamen. Aku minta maaf berkali-kali sambil menyatakan alasan bahwa aku tak bisa menghilangkan perasaanku padanya sebagai teman.
       Perlahan kulihat seulas senyum menghiasi bibirnya yang tipis. Ia mengangkat wajahnya. Lingkar  hitam di bawah kedua mata membuat rona pucatnya semakin nyata dalan pantulan cahaya lampu gantung di ruangan remang-remang itu. Aku lega ia tidak tersinggung dengan penolakanku. Tapi rasa lega itu hanya sesaat karena samar kulihat kibasan benda mengkilat dari balik tuxedo hitamnya. Aku terpekik, ulu hatiku terasa nyeri. Senyum di bibirnya makin mengembang. Aku masih sempat menangkap mulutnya mengatakan sesuatu, tapi telingaku seperti tuli, pori-pori kulitnya mati rasa, aku tak sanggup bersuara dan napasku sesak sekali.
        Florian bersimpuh, memelukku yang jatuh terbaring di lantai perkamen, cairan kental membasahi gaun dan tanganku. Aku menelan ludah berkali-kali. Pelan sekali ia mencium pipiku yang mulai kehilangan rona merahnya. Lalu ruangan luas yang remang-remang itu berubah gelap sekali. Aku kehilangan Florian. Ia lenyap.
                                                                                ***
        Aku berjalan penuh semangat. Ini akan menjadi waktu yang sangat berharga untukku. Semua undangan telah tersebar, gedung resepsi telah dipesan, dan hanya menunggu waktu sampai mempelaiku benar-benar siap. Aku masuk ke ruang itu, ruangan yang khusus kusiapkan untuknya. Ia duduk di kursi malas menghadap jendela, matanya terpejam, sepertinya ia kelelahan hari ini.   Bias-bias sinar matahari senja memantulkan kulitnya yang pualam.
        Ia masih sangat belia. Seperti beberapa tahun lalu ketika kami bertemu, menjadi satu tim dalam sebuah pendakian ke puncak gunung. Ia tertatih menapaki jalur terjal dan berencana menghentikan pejalanan sebelum pada akhirnya kuseret ia dengan paksa menyelesaikan misi pendakian itu. Sifat keras kepalanya yang tak terkalahkan telah memenjarakan egoku, kepolosan yang naïf seorang  Nightingale berhasil menjatuhkan pilihanku padanya. Ia benar-benar tuan putri yang sombong membiarkan hati punggawa buruk rupa sepertiku tercabik-cabik, memburai berserakan di lantai perkamen satu tahun lalu.
       Tapi kini putri Elle-ku yang jelita telah menjadi milikku selamanya. Ia senantiasa tersenyum, tak ada rona kesedihan di matanya.
       Perlahan kututup kembali pintu ruangan itu. Membiarkannya istirahat sejenak. Sementara segala perlengkapan harus kusiapkan malam ini. Hatiku berdebar kencang sekali.
       Akhirnya tiba pada saat yang sangat kunantikan. Berdiri di altar dengan perasaan yang tak terlukiskan. Sebagai seorang mempelai laki-laki yang menunggu kekasihnya untuk berjanji di hadapan Tuhan.
       Malam telah mengirimkan sejuta aroma musim yang nyaris berganti. Bulan separuh bagian menghiasi langit. Gedung ini sangat benderang, lusinan cahaya dari kristal di langit-langit berpendar-pendar menyilaukan.
       Semua undangan telah hadir. Disana kulihat wajah-wajah asing para wartawan media massa yang siaga dengan kamera dan blitz yang menyala-nyala. Kurasa mereka semua
penasaran denganku yang selama ini memang sengaja menjauh dari media. Mantan-mantan kekasihku yang datang sendirian atau bersama suami-suami mereka, teman-temanku tercinta dari masa lalu, keluarga yang masih mengingatku, mantan kekasih mempelaiku, teman-temannya dan seseorang yang sangat mencintainya dulu, kini duduk di bangku paling depan menyaksikan ia menikah denganku malam ini. Entah apa yang ia rasakan sekarang.
        “Semua hadirin, mohon berdiri…” sebuah suara dari pemandu acara.
        Seluruh tamu undangan berdiri, mata mereka tertuju pada pintu gedung yang menjulang dan segera terbuka. Tampak sebuah pemandangan yang akan membuat jantung siapapun berdetak lebih kencang dari biasanya. Seseorang berjalan mendorong kursi roda. Di atas kursi roda itu, pengantin yang begitu bercahaya duduk dengan anggun. Gaun putih yang indah berlapis-lapis ditaburi mutiara, sebuah liontin yang berkilau di lehernya, sarung tangan transparan membalut lengan terbukanya yang cantik, sebuah mahkota dan penutup wajah yang menyembunyikan auranya yang menawan. Aku sadar semua undangan terpukau pada pesona Nightingale melebihi apapun. Ia benar-benar menyihir kami.
          Kami semakin dekat dan benar-benar bersanding bersama. Pendeta membacakan doa-doa.
          “…. Berjanji sepenuh hati untuk bersama dalam suka, duka, kaya, miskin, sakit maupun sehat dan untuk bersama sampai ajal memisahkan…. ”
         “Ya… aku berjanji..” Aku mengucapkan janji dan melirik mempelaiku sekilas. Ia tak bergeming.
          Hingga pada sesi dimana pendeta menyatakan untuk membuka penutup wajah pengantin wanita dan menciumnya. Aku berdebar-debar. Ini mengingatkanku pada malam dimana aku melamarnya satu tahun lalu, malam di mana aku tak sanggup membedakan mana detak jarum jam dan mana detak jantungku sendiri. 
         Kubuka kerudung penutup kepalanya perlahan. Yang nampak adalah sesosok wajah pucat dengan mata terpejam. Lingkar hitam matanya tak dapat disamarkan, bibir yang berkilau oleh riasan terkatup rapat menyembunyikan senyum dinginnya, bahkan pipinya yang pucat masih begitu lembut. Ia bagai patung marmer yang duduk dalam singgasana.
        Aku menciumnya. Dingin. Tak ada hawa hidup yang melingkupi napasnya.
        Aku melihat wajah-wajah para undangan berubah menjadi lebih tawar dari wajah pengantinku. Namun aku menghargainya sebagai ungkapan kebahagiaan yang tak terkira.
                                                                       ***
       Nightingale, selama satu tahun kurawat jasadnya yang kaku. Aku memandikannya, memakaikan gaun, menyisir rambutnya yang panjang dan menghiasinya dengan bunga-bunga kecil.
        Aku mengajaknya berdansa, menyusuri pantai, membuatkan makan malam dan menidurkannya. Aku melukisnya dalam sebuah sketsa, menciptakan karakter seperti dirinya dalam cerita yang sedang kutulis, mengajaknya bercanda dan membangunkannya kala pagi menjelang. Aku bicara padanya, berdiskusi dan selalu mencintainya.
        Nightingale, selama satu tahun kusimpan jasad bersama kenangan indah kami bersama.
        Sejak kejadian malam itu, aku memeluknya sepanjang malam. Kugendong sosok tak bernyawa yang mulai mengurai itu ke dalam bathtub, mengguyur bersih darah yang mengalir dari dadanya. Kulitnya yang pualam tak lagi merona, pipinya seputih kapas dan bibirnya… seperti ada darah beku yang mengendap di sana, hitam dan cekung.
        Kutumpahkan semua cairan dalam botol yang berbau menyengat itu bersama aliran air. Ia tampak melayang di bak mandi yang terlalu besar menampung tubuhnya. Aku telah melihat sosok putri duyung dalam wujud yang berbeda.
        Sepanjang hari kuceritakan tentang pangeran kaki peri dan burung layang-layang yang terbang ke selatan menghindari musim dingin. Kududukkan ia di sebuah perahu kecil di danau taman belakang rumah. Ditemani lilin-lilin ketika bulan tak bersinar dan bintang muncul membentuk nebula. Aku juga memainkan biola untuk menghiburnya. Kami mendayung bersama mengitari danau.
        Ia akan terlelap karena lelah dan segera kubopong ke tempat tidurnya yang dipenuhi mawar.  Nightingale yang menemaniku menyelesaikan tulisan untuk buku-buku yang akan kuterbitkan. Ia tak mengeluh meski aku tak pernah tidur. Ia akan setia menemaniku hingga hari berganti.
Ini adalah minggu ketiga. Hari yang sama sejak malam itu. Dalam keremangan cahaya bulan, kulihat wajah Nightingale berseri-seri menatapku.

04.12 wib
Malang, Senin 24 Maret 2012

..::Artikel Menarik Lainnya::..

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan menuliskan komentar anda pada opsi Google/Blogger untuk anda yang memiliki akun Google/Blogger.

Silahkan pilih account yang sesuai dengan blog/website anda (LiveJournal, WordPress, TypePad, AIM).

Pada opsi OpenID silahkan masukkan URL blog/website anda pada kotak yang tersedia.

Atau anda bisa memilih opsi Nama/URL, lalu tulis nama anda dan URL blog/website anda pada kotak yang tersedia.

Jika anda tidak punya blog/website, kolom URL boleh dikosongi atau dapat juga diganti dengan email anda.

Gunakan opsi 'Anonim' jika anda tidak ingin mempublikasikan data anda. (sangat tidak disarankan). Jika komentar anda berupa pertanyaan, maka jika anda menggunakan opsi ini tidak akan ditanggapi.

Terima kasih, komentar anda sangat berarti untuk Ceritaku di Dalam Ceritamu
:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g:
:h: :i: :j: :k: :l: :m: :n: