Aku sedang melukis hidupku. Setiap hari harus ada warna baru, karena Tuhan tak mau memberi tahu kapan aku mati. Ketika aku memucat, bumi ikut pucat, awan bagai menembus hamparan kelabu di sudut hidup yang hanya sejengkal. Layaknya tanah rengkah-rengkah dengan rumput kering yang takut akar-akarnya akan terlepas oleh angin yang terhembus keras. Menjelma lapisan tipis kabut pagi hari yang tersuruk di antara embun musim gugur, membawa mimpi dan kenyataan jauh terbang. Bersama keterasingan yang sesak. Seperti rumput-rumput yang tercerabut, tak ada batas yang jelas waktu yang diberikan untukku.
Aku sedang melukisi jiwaku. Belajar mencampur warna dan membuat sketsa. Menggoreskan kuas yang terbentang dari masa lalu hingga masa depan. Apa yang kualami, yang kuketahui, dan yang kurasakan adalah warna, garis, titik, bidang, tekstur, dan komposisi, menyatu dalam imajinasi. Semuanya membaur, semuanya teratur, menjadi sebuah irama khayali.
Seperti ketika pertama kali belajar nirmana. Mengenal yang tiada, mengetahui ketiadaan, mempelajari yang tidak ada dan menelusuri yang ditiadakan. Nirmana adalah simbol kebebasan yang pernah kupelajari di sekolah. Mengasah kepekaan rasa dan empati, mencetak generasi yang kritis akan karya seni.
Dunia yang kuciptakan sendiri begitu sempit, begitu pekat. Lorong-lorong kedap suaranya steril dan mengkilat. Hitam. Putih. Monoton. Tanpa dinamika. Tanpa ruang dan waktu. Tanpa panel dan skrup pembuka jendela ketika cemas menyesak. Menghantui segenap jiwa-jiwa skizoid. Tanpa rongga penuh udara ketika gelap melerai matahari yang menyiksa bumi dengan geletar lembut ujung angin yang menyentuh kaki.
Tapi aku tidak mau begitu. Aku ingin lukisan hidupku memenuhinya, menerangi kepekatannya,
menyelusupi kekedapannya dan menyemarakkan kesterilannya. Dengan warna.
Dunia yang kuciptakan sendiri hanya aku yang mengetahui. Aku bisa menjadi siapapun sesukaku, menjelma apapun dan hidup di manapun, tak ada yang mencegah, tak ada yang bisa membatasi. Diam-diam kita adalah Tuhan bagi karya yang kita ciptakan. Tak ada yang lain. Juga ayah dan ibu. Mereka adalah kegelisahan yang selama ini membelenggu ruang gerakku. Kecemasannya justru membuatku mati rasa.
Perlahan-lahan lorong di depanku menyempit. Menciut. Sampai akhirnya hanya berupa satu titik cahaya. Warna putih berpendar-pendar menyilaukan, tubuhku seringan kapas, seperti malaikat kecil dengan sepasang sayap bulu angsa keperakan. Mengabur menjadi segerombolan kunang-kunang bercahaya pelangi. Aku lari hendak mencapai ujungnya, tapi sia-sia. Lorong itu mengecil tanpa mempedulikanku yang penuh peluh menggapainya.
Aku tergeragap. Memandang sekeliling dan mendapati diriku sedang duduk di meja belajar ketikaholophone di ruang tengah berbunyi nyaring sekali mencerai-beraikan khayalanku. Holophone adalah telepon seluler dengan alat pemindai khusus yang dapat menampilkan gambar orang yang menghubungi dalam wujud tiga dimensi.
Jendela kamarku masih tertutup. Sinar matahari senja menerobos masuk lewat kaca yang buram berembun. Menembus tirai tipis biru muda yang membingkainya. Tampak serpihan cahaya menjilati lantai, bayangan satu-satunya pohon akasia di luar sana bergerak-berak tertiup angin.
Aku beranjak ke ruang tengah dengan malas. Memencet tombol on dan seketika visualisasi tiga dimensi penelepon dari seberang sana muncul. Ayah. Setelah beberapa bulan berangkat ke Borneo untuk memotret dan penelitian mengenai penyebab deforestrasi pulau itu, dia belum pernah memberi kabar. Dia seorang fotografer, keliling dunia dan pulang memberiku oleh-oleh lusinan buku dalam berbagai bahasa. Dia pelahap buku.
Dalam sehari bisa membaca tiga-empat buku dengan tebal tak kurang dari kamus bahasa duapuluh juta kata dan katalog kamera keluaran terbaru di perpustakaan. Dari buku-bukunya, aku bisa tahu bagaimana kehidupan di ujung dunia seberang sana tercipta. Dunia ke tiga yang tak terbatas oleh peradaban dan teknologi. Dunia penuh kesunyian dan diliputi mantra-mantra para pemeluk teguh keimanan.
“Ayah!”
“Ve, apa kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan aneh, pikirku. Tentu saja aku baik-baik saja berada di rumah yang melindungiku dari badai hujan asam dan sengatan ultraviolet ini.
“Aku baik, ayah sendiri bagaimana? Kudengar, Konferensi Greenworld di Masachussets sedang memproses pengajuan kasus peng-gurun-an Borneo sebagai dampak global warming. Itu sudah terjadi sejak beberapa dasawarsa terakhir ini. Ayah salah satu personel tim yang menangani risetnya, sudah siap jadi juru bicara?” Tanyaku semangat.
“Hahaha….anak nakal! Kamu pikir ayah tidak tahu apa yang kamu lakukan di rumah dengan pigmen dan kuas di gudang bawah tanah? Kau sibuk dengan sketsbook dan pensil warnamu. Masih berani pura-pura mengikuti berita up to date padahal di rumah hanya menekuni hal-hal aneh, heh??!!”
Ups!! Ketahuan. Inilah ayah, dia pasti menyembunyikan alat pendeteksi. Semacam microchipwarm detector, chip mini yang memindai panas tubuh, atau kamera tersembunyi entah dimana di rumah ini sampai kegiatanku pun tak lepas dari pantauannya.
“Ve, jangan terlalu sering memanjakan salah satu bagian otakmu dan menelantarkan yang lain, kamu mengerti kan?”
“Aku tidak sedang menelantarkan bagian otakku, ayah. Ini mengenai pelampiasan rasa aneh yang tidak kuketahui, aku tak akan bertahan jika tidak menciptakan hidupku sendiri.” Lagi-lagi angin berhembus mendesau-desau di luar sana menyeret debu dari jalanan ke lantai kayu di ruang tamu.
”Jiwa yang terbelah tidak akan kembali lagi Ve, percayalah, hentikan khayalanmu sekarang karena kita hidup dalam realita yang tak dapat kita kendalikan. Ada kekuatan besar lain yang telah mengaturnya.”
“Yeahh…” Jawabku malas.
Dan inilah aku, jika sudah dilarang melakukan sesuatu yang aku suka, selalu aku sempatkan mencuri-curi waktu. Ayahku ahli desain grafis, tapi sepertinya ia tak senang aku terlalu akrab dengan dunianya. Aku tidak boleh menggambar terlalu sering, mendesain sesuatu, melukis, bahkan sekedar mengerjakan proyek autocad untuk interior rumah salah satu temanku. Ia hanya mengajariku memotret. Seringkali ia mengatakan bahwa dengan memotret, kita bisa menghentikan waktu. Satu-satunya cara untuk mematikan sebuah kejadian hanya dengan sepersekian detik dan semuanya terabadikan dalam selembar ingatan.
“Jangan menjawab dengan kata itu, ayah tidak suka!” visualisasi cetak biru ayah di monitor transparan tiga dimensi itu berkacak pinggang, wajahnya berkerut-kerut, aku ingin sekali tertawa tapi kutahan mati-matian. Aku mulai menghitung di kepala dan berkata serius…
“Baiklah akan kukatakan, aku tidak mau ayah melarangku untuk memanjakan salah satu otakku karena akulah yang menggunakannya. Seperti ayah, aku tak pernah melarangmu pergi ke manapun asal mau kembali ke rumah. Ayah yang mengajariku untuk berusaha tidak bosan pada hidup sampai datang kematian.” Aku menatap nanar wujud tiga dimensinya di monitor pemindai. Bagiku, memunguti kerak-kerak keterpaksaan karena tuntutan tidak akan menyelesaikan masalah. “Ayah, aku hanya ingin menciptakan sesuatu yang bisa menjadi tanda bahwa aku pernah ada di dunia....”
Kulihat ayah tercenung, memandangku dengan heran, mungkin sedikit takjub. Aku merasa ada berjuta warna berkelebat di antara kami, menari-nari, berputar-putar, saling bertabrakan, membentuk komposisinya sendiri. Ingin sekali aku segera menyambar cat dan kuas, lalu mengubah dari yang abstrak menjadi nyata. Sepi. Hening. Tak ada suara selain detak jarum jam. Jeda yang lama dalam kekhidmatan doa-doa orang suci.
Aku anak satu-satunya, kedua orangtuaku bercerai dan aku putuskan ikut ayah karena kami punya banyak kesamaan. Membaca, memotret, berpetualang, travelling dan melakukan hal-hal baru adalah kegiatan yang menjadi pengikat di antara kami. Kadang aku sering ditinggalkan untuk tugas-tugasnya keluar kota bahkan keluar negeri, tapi kami tak pernah melewatkan hoby bersama.
Ketika ibu masih bersama kami, ia selalu memaksaku untuk mempelajari matematika dan ilmu pasti lainnya. Ibu sangat perfeksionis, sementara pelajaran eksak bukan satu-satunya yang kubenci. Aku juga tak pernah suka dengan seragam sekolah, kenapa mereka memberlakukan formalitas sedemikian gilanya? Orang dewasa memang sulit dimengerti.
“Kau tahu Nak, terlalu idealis akan membuat seseorang jadi ambisius. Itu penyebab utama kehancuran manusia.”
Aku berdiri tegak, memandang visualisasi tiga dimensi-nya, kami sama-sama membeku dalam diam, mencari celah agar terbebas dari himpitan ketiadaan. Serasa ada jarak ribuan mill yang terbentang menyeret kami untuk menjauh, memisah, melebur menjadi awan tipis kelabu dan menutup semua pandangan. Gelap merayap.
Aku tak pernah tahu bahwa di seberang sana, seorang laki-laki yang selalu merindukan putrinya tengah tepekur begitu lama. Kegersangan gurun Borneo yang dibalut sedikit hutan lebat, satu-satunya zona inti yang tersisa telah memisahkannya jauh dari harta yang paling berharga. Dinginnya sungai Barito yang membentang kecoklatan menjadi tameng tersendiri seolah mencegahnya untuk kembali. Penderitaan di setiap jengkal tanah menjadi alasan untuk bertahan. Setiap hari berganti, burung-burung terbang ke sarang, capung berkejaran di tepi muara Kapuas yang makin kerontang, sementara ia di sana hanya berteman teropong dan kamera.
“Ayah harus menyelesaikan laporan penelitian.” Ucapnya singkat mengakhiri pembicaraan.
Visualisasinya lenyap, terdengar bunyi telepon putus. Ini juga merupakan kesamaan kami, keras kepala dan memandang ego sama dengan harga diri. Ibuku yang perfeksionis itu tentu saja tidak bisa hidup bersamanya yang eksentrik lebih lama lagi.
Kuletakkan holophone di tempatnya dan berpikir, masa inikah yang membuatku ketakutan? Jadi pucat mata dan kaku tulang-tulangku? Bagaimana jika nanti kutinggalkan dunia yang tak habis kucumbu rayu? Sedangkan aku bagi ayah adalah satu-satunya sisa cinta dalam hidupnya yang terbuang dan sunyi senyap.
Pada akhirnya aku kembali dengan pensil warnaku. Memintal dan merajut duniaku sendiri yang kurasa semakin sempit dan menyesakkan. Aku mulai berkhayal tentang negeri seribu pelangi yang dihuni peri-peri penjaga hutan, penuh cahaya secantik berlian, dikelilingi sungai kecil yang jernih dan tak pernah kering sepanjang masa, rumput tak lagi kemerahan tapi sehijau dahan pisang, serangga berderik dan binatang-binatang kecil bebas berkeliaran, tumbuhan subur berwarna-warni ada dimana-mana, anak-anak berlarian di bawah terik matahari, para gembala melantunkan nyanyian hujan, dan orang-orang di desa ramah bersahaja.
Mungkin ribuan abad silam seperti itulah dunia yang kutempati. Tak ada polutan berbahaya, ultraviolet mematikan, dan air penuh kaporit. Sianida, uranium, timbal dan arsenik mencemari sungai di taman kota yang hanya ditumbuhi beberapa tanaman serta suhu tinggi akibat pemanasan global menciptakan padang gersang dimana-mana.
Di luar, kabut turun menciptakan titik-titik air bercampur udara yang membuat lembab dan malam bertambah pekat. Musim ini tidak ada hujan, kalau pun ada, itu sangat jarang terjadi. Sepertinya air telah dikuras habis sejak puluhan tahun lalu. Gedung pencakar langit bertebaran dimana-mana, menyerap dengan rakus sumber daya air tanah yang ada. Rumahku-lah yang termungil dan tersuruk di antara kemegahan desain postmo minimalis yang diterapkan pada gedung-gedung itu. Di kotaku, hanya ada beberapa rumah yang bisa disebut rumah, salah satunya tempatku. Kebanyakan orang menyewa flat atau apartemen di menara kotak berwarna abu-abu yang seringkali menghalangi sinar matahari pagi itu.
Mengenai kenapa rumahku tetap dipertahankan keberadaannya sementara tanah semakin sempit dan kebutuhan akan ruang gerak makin meningkat, aku tak tahu pasti. Kudengar, rumahku yang masih bergaya mediteran ini patut dilestarikan, karenanya pemerintah melarang penggusuran dilakukan. Kurasa itu bukan satu-satunya alasan. Entahlah, aku merasa aneh dengan kebijakan mereka yang kadang membuat anak seusiaku semakin tidak mengerti banyak hal.
Jika malam tiba, jalanan akan macet luar biasa. Orang-orang baru pulang kerja ketika langit gelap dan lampu-lampu di bawah bayangannya menyala. Bukan hanya di tol dan brigderoad atau jalan yang dibuat dengan konsep jembatan tepat di atas jalan utama, tapi juga jalan udara. Flyingcar yang kini sudah makin canggih berseliweran di udara membuat bising dan kadang hasil pembuangan bahan bakarnya akan mengendap di udara, turun ke permukaan bumi dan mengganggu pernapasan.
Untuk keluar rumah dan pergi sekolah, aku harus memakai pakaian pelapis terbuat dari bahan elastis tahan panas, syal, kacamata hitam anti radiasi dan sepatu boot selutut, jika tidak, kulit seketika terbakar kena sengatan matahari. Aku juga harus memakai masker atau tabung udara kecil. Seperti juga orang-orang kebanyakan, aku tak mau mengambil resiko menderita kanker kulit akut yang tidak perlu menunggu waktu lama untuk melihat gejalanya. Asap mesin buatan manusia benar-benar sanggup menciptakan jarak pandang ke depan berhenti pada titik di meter ke seratus.
Matahari bukan lagi sesuatu yang dapat dirindukan dan diharapkan manfaatnya. Mungkin bola api raksasa yang telah bopeng separuh akibat pendinginan di permukaannya itu menjadi sesuatu yang ditakutkan penduduk bumi masa kini, bahkan menjadi pembunuh terbesar ketiga setelah tembakau dan polutan. Orang-orang takut keluar rumah. Ternak mati, tidak tahan kepanasan, rumput tak lagi segar, serangga-serangga menghilang, membuat pertahanan sendiri di dalam tanah yang menyisakan sedikit kenyamanan.
Pensil warna di tanganku masih bergerak-gerak mengikuti perintah dari otak yang selama ini memang -mengambil istilah ayah- sedikit ku”manjakan”. Aku menggambar dan menulis hanya menggunakan tangan kiri, karena kidal, tangan kananku tidak terlalu berfungsi. Garis demi garis, setiap tekanan, setiap guratan, aku ingin hasilnya sempurna. Karena aku, pemegang kendali segalanya, aku yang menentukan…. seperti kata ayah lagi, “Kitalah yang menentukan bagaimana shutter ditekan dan di mana ujung pensil dihentikan”.
Banyak hal berubah, dunia berubah, iklim berubah, warna berubah, periode berubah, waktu berubah, begitu juga aku… ini hanya sebuah pilihan. Kulirik jam dinding, malam melewati pertengahannya, aku tak sanggup memejamkan mata, beberapa hari tidak tidur tak membuatku beralasan untuk menghentikan apa yang kusenangi. Meski lelah menyayat dan udara pekat penuh polutan flyingcar di atas sana menggerogotiku, aku tak bisa berhenti. Ayah, tiba-tiba aku begitu merindukannya…
Ranting-ranting akasia yang kerontang kekeringan tertiup angin menggesek-gesek daun jendela kamarku menciptakan suara gemeretak penuh aroma mistis yang mengerikan. Aku benar-benar lelah, insomnia yang kuderita menimbulkan halusinasi berkepanjangan sejak beberapa minggu lalu. Jari-jariku kaku, tulang-tulangnya yang kurus begitu sulit kugerakkan. Aku gemetar ketika menyeret pensil dan mataku mulai semakin jelas melihat sesuatu yang tak tampak.
Aku merasa tengah berlari di lorong putih pekat dan steril. Di sisi kanan kirinya kulihat lukisan yang dulu kubuat tanpa mempedulikan larangan ayah. Warna-warna membaur menjadi bentuk abstrak yang tak pernah ada di dunia. Aku terus berlari menuju arah cahaya. Perlahan-lahan lorong di depanku menyempit. Menciut. Sampai akhirnya hanya berupa satu titik putih berpendar menyilaukan. Aku lari hendak mencapai ujungnya, dan berhasil.
Aku tiba di sebuah padang terbuka….
(00.31) 23 Maret 2012.....
Read More