Selasa, 27 Maret 2012

0 Lebah Kecil Sendirian Menikmati Hari

           Hari ini langit cerah sekali. Aku sendirian di sini ditemani desir angin dan kicauan burung bulbul. Apa yang sedang kalian lakukan? Apa kalian baik-baik saja?
           Melihat kawanan burung-burung terbang berkelompok, aku iri sekali. Apa kita akan bertemu lagi? Apa kita bisa bersama seperti dulu lagi? Mencari daerah jajahan baru untuk bermain dan melakukan hal-hal bodoh. Tempat-tempat yang dulu kita kunjungi kini menjadi sunyi senyap.
Aku sedang mengamati deretan pegunungan yang menyambung tanpa putus. Di puncak gunung Kawi itulah dulu kita mendaki bersama. Lerengnya tertutup awan. Kelabu membayang seolah memutus puncak dan dunia kecil di bawahnya. Ini adalah taman milik kita. Dulu kita duduk di sini bersama, sambil memesan jus alpukat dan susu hangat. Kita bercengkerama tanpa peduli betapa keras kita tertawa dan berebut mainan seperti anak-anak.
           Kalian selalu menindasku. Memasukkan sesuatu ke dalam susuku, mengaitkan tas plastik di punggungku, mengeroyok dan menghimpitku ramai-ramai. Kalian selalu tampak bahagia jika bisa menindas teman.
           Angin musim kemarau ini sangat dingin. Ingusku berleleran dan aku menggigil dengan gigi saling beradu, jari-jari kaku, sikap duduk tegang dan mataku berair, tapi aku ingin terus duduk di sini.
Sudah hampir gelap. Puncak-puncak gunung tetap kokoh menyembunyikan keangkuhannya. Apa kita juga sama seperti mereka? Angkuh menjalani hidup karena tangan selalu berpegangan.
           Daun-daun berguguran di sekitarku. Gugur pula ingatan dan catatan tentang kita di atas kertas lusuh ini. Apakah kalian merasakan apa yang kurasakan????
Sudah empat tahun, seorang pun dari kita tak pernah mengungkapkan perasaan. Tanpa menyadarinya, waktu kita sangat sedikit.
            Aku berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Seperti orang gila mencopoti realitas yang ada di depan mata dan berkhayal habis-habisan tentang masa lalu. Di jalan ini, pertigaan yang lengang sama seperti tengah malam dulu kita duduk melingkar, saling cerita tentang masa kecil yang bahagia, melupakan sejenak penindasan yang menimpa kita dan saling bercanda. Dalam baluran kabut malam itu aku mendengar suara-suara berceloteh di sekelilingku. Kita membuat lingkaran dan saling menggenggam.
            Sekarang pertigaan jalan yang di dekatnya dipasang banyak baliho itu kosong, usang dan dingin. Tidak ada apa-apa. Lampu mercury di atasnya tampak lelah menunggu manusia-manusia yang akan memeriahkan setiap malam di bawah cahayanya yang makin temaram.
          Samar kulihat lima bayangan anak-anak itu bergerak, beranjak pergi meninggalkannya menembus dingin dan kabut malam hari, meninggalkan cerita yang sama usangnya dengan temaram lampu mercury.
           Sudah gelap, malam merayap. Ingatan dan catatan mengalir memberi sedikit kehangatan dalam pembuluh darah.
           Sekarang banyak baliho dan spanduk print, bukan lagi dari kain dan triplek. Kita tidak akan bisa mencopoti spanduk lagi. Seperti dulu, ketika harus berurusan dengan satpam karena membersihkan spanduk kain dan mencuri tripleks untuk membuat baliho. Waktu itu kita masih begitu naif, begitu lugu. Selalu melakukan apapun yang kita suka bersama-sama.
            Sampai akhirnya... kita break, retak, pecah-pecah dan merekah, kita meradang penuh kebimbangan. Saling curiga dan kecewa, menyakiti, tersakiti, dikhianati, sakit hati dan sendiri.
          Waktu itu aku tidak tahu kenapa kalian bersikap seperti itu padaku. Kalian menghindariku dan membentuk kubu lain yang tidak menyertakanku di dalamnya. Kita tidak lagi bisa melebur. Dan aku pun berangsur-angsur menuju hancur.
           Ini adalah tempat berikutnya. Seperti flashback, aku melihat kalian berempat duduk tepekur, tak mengindahkanku yang menyapa seperti biasa. Apa yang salah???
Saat itu serasa ada jutaan jarum menusuk mata dan kepalaku. Terasing. Tak ada sebutan yang lebih mengerikan dari keterasingan. Perlu waktu lama dan saat-saat sulit yang kita lalui.
            Aku tak pernah tahu apakah kalian memiliki perasaan yang sama denganku atau tidak. Kehilangan. Tapi ego dan idealisme anak-anak yang beranjak tumbuh seperti kita telah memenjarakan sebuah komunikasi yang terbuka, jujur dan terus terang. Kita melewatinya begitu saja seolah tak pernah terjadi apa-apa. Seperti senyawa kimia yang bereaksi, saling terkait, terikat dan teremulsi. Kenapa kalian begitu seduktif? Sangat menagihkan.
              Aku tak pernah tahu apakah kalian juga tersaruk-saruk, terserpih, berkeping-keping menjadi abu dan lenyap. Kalian tak pernah mengatakannya padaku. Aku memang selfis karena mengkhianati kalian untuk kehidupan pribadiku. Dan kalian membenciku. Kenapa waktu itu serasa dunia hanya berputar pada porosnya, tidak lagi mengorbit mengitari matahari. Karena bagiku matahari selalu tidak bersahabat dengan pemberontak-pemberontak seperti kita.
                Aku menyayangi kalian. Bukan hanya kalian pernah mengisi lembaran-lembaran imajinasi masa laluku, tapi juga kalian yang membuatku mengenal arti pertemanan dan belajar mempercayai diri sendiri dan orang lain. Kalian yang membuatku penuh ide kreatif dan senantiasa berkarya.
               Kita selalu dibutakan oleh idealisme dan mengagungkannya sebagai harta terakhir yang kita miliki sebagai generasi muda.
              ”Setiap bagian dari kami adalah malaikat-malaikat dengan hanya satu sayap. Untuk dapat terbang kami harus saling merangkul satu dengan yang lain.”

02 Agusus 2009

0 Nocturnal Rest

          Jika berhasil membuat seribu bangau kertas, semua keinginanmu akan terkabul.

         Ia menyusuri malam menyatu dengan bayangannya sendiri melintasi waktu. Ia menghilang dalam gelap dan merayap bersama pekat. Ia tercabik-cabik keterasingan dan mengalir bersama kelam. Hingga fajar turun, arwahnya kembali dan menyeret untuk terbang meninggalkan dunia beserta kepingan-kepingan ingatan yang tercerabut. Menyusup bersama kabut pagi hari, ia lenyap ditelan sinar matahari.
        Kulitnya sepucat kapas terbalut gaun hitam dengan mata merah yang selalu cekung. Rambutnya tak pernah rapi, senantiasa terurai panjang serampangan. Jari-jari yang kurus itu terus melipat dalam gelap. Teronggok diam di ruangan tempatnya bernaung dari siang hari.
       Jendela kamarnya tertutup rapat oleh korden merah berlapis-lapis. Lantai penuh debu, meja kusam, lemari dan kursi berserakan di sisi jendela, kertas bekas bertumpuk-tumpuk dan sekeranjang bangau kecil warna-warni dari kertas.
       Ia tak pernah bersentuhan dengan cahaya.
      Tinggal di loteng pengap yang dipenuhi sarang laba-laba adalah bagian paling menggembirakan dalam hidupnya. Jika siang datang ia akan terbenam dalam selimut hitam tebal. Seluruh waktunya dihabiskan untuk berkarya. Melipat serpihan-serpihan kertas menjadi bangau adalah kesenangan paling mendasar yang membuatnya bertahan. Ia selalu pergi setiap matahari tenggelam. Bagai seekor kucing, matanya yang liar lebih cepat menangkap objek pada malam hari. Ia memunguti kertas di sepanjang jalan yang dilalui dan kembali ketika fajar menyingsing. Tak peduli meski orang yang tinggal di flat bawah kamarnya selalu terganggu tiap kali ia pergi malam hari dengan memanjat jendela.
                                                                                ***
          Selamat datang tengah malam. Dunia gelap yang tiap hari kunikmati. Jika malam tiba aku merasa hidup. Dengan cahaya seadanya, aku tak pernah terkena matahari hingga kulitku memucat seperti bohlam lampu. Pukul 23:12, aku ingin jalan-jalan.
Jembatan itu menghubungkan seberang sungai yang membelah kota. Aku senang melihat pantulan lampu-lampu dari permukaannya yang beriak. Malam ini Vero terlambat. Ketika kulihat ia berlari-lari membawa sepeda, aku melambai.
          ”Ibu menyuruhku membeli sesuatu, aku baru pulang dan langsung kesini. Kau sudah lama?” tanyanya mengusap peluh. Aku menggeleng.
          ”Hei, aku sudah bisa melakukan trik kartu yang kamu ajarkan kemarin lho, kau harus melihatnya.” Vero mulai beraksi. Ia bermain kartu dengan gesit, aku duduk di trotoar jembatan, memperhatikan. Vero adalah satu-satunya orang yang menemani jika aku pergi.
Kabut perlahan mengelabu menutup permukaan air sungai. Lewat tengah malam. Hening merayap lambat. Kami melangkah pergi dan memunguti sobekan kertas di jalanan.
           ”Swara, Lawliet sudah bicara padaku, kau tidak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja.” ujar Vero memecah keheningan. Nada bicaranya yang bergetar mengindikasikan adanya hal yang ada di luar kuasanya.
           ”Aku mengerti. Meski sudah berusaha, aku takkan pernah bisa melihat siang hari lagi.” aku meliriknya sekilas, tampak jelas ia sedang gundah
          .”Mengenai bangau kertas, aku akan terus membuatnya. Aku takkan menyerah.”
           ”Swara...”
           ”Aku tahu itu tidak ada gunanya. Hanya operasi dan terapi satu-satunya yang bisa kita usahakan. Tapi aku percaya. Sejak Vero mengatakan padaku bahwa dengan membuat seribu bangau kertas, semua permohonan akan terkabul, aku sudah memutuskan.” dingin menyergap.
Itu mustahil, hentikan khayalanmu tentang bangau kertas. Bangunlah dan katakan kau akan sembuh. Aku hanya memberimu semangat hidup dengan mengatakan hal bodoh itu.”
         ”Temani aku melihat matahari terbit.” pintaku.
Vero hampir terjengkang karena kaget, tapi ia tak punya pilihan selain menemaniku.
” Dalam suluran waktu
  Kulihat riak-riak hatimu dipenuhi
  Ikan-ikan bercahaya ungu, tapi
  Apakah kau melihat?
  Sisik-sisiknya berpantulan menusuk mataku ”
                                                                           ***
           Meski matanya hanya dapat melihat samar-samar, tapi tangannya terus melipat sampai akhirnya tak bisa merasakan apapun lagi. Bangau ke seribu harus selesai malam ini. Ia tak keluar untuk menyusuri jalanan seperti biasa. Ia terus melipat. Ketika sampai pada kertas terakhir, ia menggapai-gapai untuk meraih. Rasa nyeri menjalari pelupuk mata hingga pelipisnya.
            Ia merasa jarinya menyentuh sesuatu. Pelan dilipatnya benda itu seperti biasa, tapi tangannya telah kaku dan sekelilingnya berubah menjadi hitam. Ini adalah lipatan untuk bangau terakhirnya. Ia merasa dunia yang gelap merayapi harapannya yang kelam. Sedetik kemudian ia terkulai. Bangau terakhir untuk permohonannya tak pernah selesai.
           Semesta berkabung dalam kedamaian yang putih. Hening mencekam ketika angin mendiris menerpa debu-debu paling hitam, menerbangkannya dalam lapisan-lapisan tak bertuan. Sementara malaikat maut baru saja menelungkupkan sayapnya, merengkuh benda paling abstrak tak terjamah yang disebut ruh. Setiap bulu di sayapnya adalah duka, jelmaan airmata perkabungan semesta.
           Senja yang muram di akhir bulan musim penghujan. Mendung menggelayut seperti onggokan kembang gula rasa anggur, abu-abu keunguan. Vero berjalan menuju jembatan. Ia selalu menunggu matahari tenggelam berharap Swara datang membawa mimpi dan harapan. Selama apapun ia menanti, Pria itu tak pernah muncul lagi.
           “Ia akan buta jika melihat sinar berintensitas tinggi. Matahari adalah hal utama yang harus ia hindari. Itu akan mengurangi rasa sakit dan penderitaannya.”
          “Sangat sedikit penderita kanker mata yang sanggup bertahan.” Kata-kata dokter Lawliet terngiang di otaknya.

           Jika orang lain tidak bisa hidup tanpa matahari, justru ia akan tetap hidup tanpa matahari.
           Orang-orang sedang terkena demam aliran realis, maka Vero pun belajar untuk menjadi lebih realistis. Ia menghela napas dengan sulit.
           Suatu ketika kita semua akan mati dalam kegelapan total.

03:08 am
28-03-2012
Masih digelayuti insomnia, sekalipun hanya sugesti

Jumat, 23 Maret 2012

0 Nightingale

        Sebuah hadiah kecil untuk dongeng yang pernah kau ceritakan padaku
        Monolog suatu malam di tepi kolam
        Ini adalah minggu ke tiga. Hari yang sama ketika aku dilahirkan. Kadang kenangan tak lagi berbeda.
         Aku mengembara melintasi sudut-sudut hidup. Melewati portal yang membuat dunia terpisah ruang dan waktu. Di sini, tempat keramat yang aku inginkan sebagai pusaran angin di mana kami bertemu. Musim dingin selalu menjadikannya lebih kelam dan beku.
        Sore yang muram. Bangku-bangku kosong, pohon-pohon kurus menjulang,  geliat angin yang tak lagi berang.
         Aku tengah menunggu seseorang. Ia dulu adalah temanku yang sedikit berbeda. Sekarang ia menjadi seorang penulis yang telah menghasilkan banyak buku. Aku selalu tertarik dengan dunia sastra dan literature, karena itu, sebagian besar karyanya berhasil memenuhi rak buku di kamarku.
        Bertahun lalu kami dipertemukan dalam kegiatan yang dijalankan oleh sebuah komunitas. Kami selalu menjadi pemberontak waktu itu. Menjalani sesuatu tanpa berpikir dan melakukan hal-hal yang sering membahayakan jiwa. Kami masih begitu dikendalikan oleh rasa ingin tahu dan tidak menyadari betapa berbahayanya ketika bosan melingkupi segenap jiwa.
        Ia adalah anak laki-laki yang tak mau menyerah dan mengalah untuk melegakan hati temannya. Aku juga tak pernah ingin dianggap lemah. Begitu naif, begitu ragu-ragu.
        Kini kehidupannya yang misterius tidak banyak diketahui publik karena sifat tertutupnya yang rumit. Semua orang mengatakan ia seorang jenius yang eksentrik. Entah seperti apa ia sekarang, bertahun-tahun kami jalani tanpa mengetahui kondisi satu sama lain. Aku hanya membaca karyanya. Sebuah tulisan yang dulu senantiasa menjadi perdebatan panjang di antara kami telah mengisi berlembar-lembar halaman dalam kumpulan cerita pendeknya. Ia sering mengutip pembicaraan kami untuk tulisannya.
        Detik-detik berlalu, sore makin menggila dengan aroma musim gugur yang redup.
        Lampu-lampu mulai menyala, orang-orang berlalu lalang dengan tergesa. Dari ujung pertigaan kulihat seorang laki-laki berjalan cepat ke arahku. Suhu yang dingin memaksanya menghembuskan butiran embun halus dari balik mantel.
Itu dia! Florian. Tidak banyak berubah, ia tetaplah anak laki-laki yang kukenal tiga tahun lalu dalam sebuah kegiatan yang akhirnya mencetak kami menjadi pemberontak dengan cara kami sendiri.
         Matanya sehitam jelaga. Rambutnya sedikit panjang berombak membingkai wajah pucat dengan rahang keras dan dagu yang lancip. Aku seolah terseret kembali ke masa lampau yang aus termakan jaman. Dengan gerakan kaku, ia menghampiri. Aku berdiri dan menatapnya.
         “Sekarang sudah hampir gelap. Lama sekali kita tidak bersama sejak upacara kelulusan.” Florian mengulurkan tangan sambil tersenyum. Jauh sekali penampilannya dengan yang dikatakan orang bahwa ia seorang eksentrik, ia bahkan tumbuh menjadi seorang yang cool.
         “Kau terlihat baik-baik saja” ujarku.
           Kami berjabat tangan. Jari-jarinya membeku seperti bongkahan es. Kami masih berdiri dalam kegamangan yang absurd. Matanya kelam melihat sekeliling, lalu bertolak menukik tajam padaku.   Aku menggigil karena takjub. Syal hijau tuaku berkibar, dingin menusuk-nusuk melalui celah sweater yang kukenakan.
         Perbincangan kami lalu mengalir begitu saja seperti mata tombak Poseidon. Ia telah membeli sebuah rumah kosong yang agak jauh di atas bukit. Di sanalah sebagian waktunya digunakan untuk menulis. Maka lahirlah karya-karya fenomenal yang menyihir banyak pecinta karya sastra bergenre surealis.
        Lalu ia mengundangku makan malam di rumahnya. Sebuah kebetulan yang tiba-tiba, karena aku merasa begitu tidak mengenali sahabatku ini. Rasanya ingin sekali mengetahui kehidupannya yang misterius.
                                                                           ***
        Akhirnya tibalah pada malam yang ditentukan. Aku berdiri di depan pintu rumahnya yang luas. Dari luar, bangunan kuno yang lama tidak ditempati itu layaknya sebuah rumah hantu yang menyeramkan.
        Halamannya ditumbuhi rumput liar yang tidak pernah dipangkas. Beberapa pohon besar tampak liar menghalangi sinar rembulan. Bukit ini begitu tinggi sehingga aku dapat melihat lampu-lampu di kota yang berkelap-kelip seperti milyaran kunang-kunang bercahaya perak. Empat pilar besar menjadi penopang kanopi depan, dinding rumah ini telah terkelupas dan kusam. Lampu redup yang menyala di sisi pintu membuatnya semakin suram.
        Aku memeriksa penampilanku. Gaun malam berwarna hitam pemberiannya untuk kukenakan malam ini terlalu besar. Aku tak bisa melihat ujung kakiku sendiri. Tiba-tiba pintu terbuka. Aku masuk, tapi tak ada siapapun di sana. Sebuah lampu gantung bercahaya kuning redup menyambutku, beberapa bagian telah patah dan sarang laba-laba menghiasi kristal-kristalnya yang bergelantungan.
        Di ruang tengah, lampu-lampu dinyalakan, sinarnya merah dan temaram. Sebuah meja makan dilengkapi lilin dan dua buah kursi cantik berpita hitam berada di tengah-tengah ruangan. Kipas angin berputar di langit-langit tepat di atas meja menimbulkan bunyi derit panjang karena geriginya telah aus dimakan waktu.
       “Selamat datang di rumahku...Nightingale.”
       Aku terkejut, Florian sudah berdiri di tangga. Ia mengenakan setelan tuxedo gelap dan rambutnya yang mulai panjang disisir acak menutupi dahi. Ia melangkah maju, mencium tanganku.
       “Kau cantik sekali, terimakasih untuk membiarkan rambutmu tergerai.” Ia membimbingku ke meja makan dan mempersilahkan duduk. Aku masih terpukau dengan situasi yang tak pernah kuduga sebelumnya.
        “Rumahmu membuatku merasa aneh. Sepertinya kau tidak pernah benar-benar berusaha membuatnya nyaman.”
       “Hhm…. Mari bersulang,”
       Florian tidak menanggapi ucapanku, tapi aku menurut ketika ia meminta kami bersulang.        Anggur merah pekat ini rasanya seperti telah tercampur sesuatu. Kental dan anyir. Aromanya sangat menusuk dan tajam. Aku merasa pusing. Kami makan tanpa bicara.
        Lalu ia mengajakku berdansa.
       Piringan hitam berputar dan mengalunlah musik klasik yang lembut. Gaunku berkibar-kibar.        Hentakan kaki seirama dengan hentakan jantung yang tiba-tiba berdegup di luar kendali.
Ia tak pernah berhenti menatapku selama kami berdansa. Gerakanku kaku. Jengah berusaha mengalihkan perhatian tapi matanya yang sendu meluluhkan pertahananku. Kami berputar-putar di ruangan luas itu mengikuti aliran musik yang menghantam perasaan seolah membawa untuk larut ke dalamnya. Malam menjadi semakin tua. Di luar, kabut tebal menyelimuti bukit itu.
        Florian mengajakku melihat-lihat rumahnya. Dimana kamar tidur, dapur dan studio tempatnya menghabiskan banyak waktu untuk menulis, taman belakang dan loteng tempatnya menyimpan semua koleksi karya seni dan sebuah ruang terlarang yang tidak ia sebutkan seperti apa fungsinya dan tidak ingin mengajakku masuk ke sana.
      “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu…” katanya tiba-tiba, aku menatapnya curiga, matanya sebeku es. Meski telah mengenalnya bertahun lalu, tapi aku tak bisa mengembalikan perasaanku seperti dulu lagi.
      “Katakan saja”
      “Aku mencintaimu. Menikahlah denganku.” Satu yang tidak berubah, Florian tetaplah seorang pemuda yang tidak suka basa basi, ia akan spontan melakukan apa yang menurutnya tepat. Tapi aku tetap terkejut mendengarnya. Selama ini kami seperti sahabat karib yang tak pernah menyimpan rasa apapun melebihi persahabatan itu sendiri. Hubungan kami telah terkunci mati dalam simbol yang hanya bisa diterjemahkan sebagai pertemanan.
       “Flor, aku…” aku bimbang mengatakannya, tapi ia malah menggenggam tanganku. Bisa kurasakan jantungnya berdegupan dengan gila.
       “Aku tidak bisa.” Kataku, berusaha selembut mungkin agar tidak membuatnya marah, perlahan-lahan genggamannya lepas. Ia berdiri seperti patung lilin, menatap tajam kisi-kisi lantai perkamen. Aku minta maaf berkali-kali sambil menyatakan alasan bahwa aku tak bisa menghilangkan perasaanku padanya sebagai teman.
       Perlahan kulihat seulas senyum menghiasi bibirnya yang tipis. Ia mengangkat wajahnya. Lingkar  hitam di bawah kedua mata membuat rona pucatnya semakin nyata dalan pantulan cahaya lampu gantung di ruangan remang-remang itu. Aku lega ia tidak tersinggung dengan penolakanku. Tapi rasa lega itu hanya sesaat karena samar kulihat kibasan benda mengkilat dari balik tuxedo hitamnya. Aku terpekik, ulu hatiku terasa nyeri. Senyum di bibirnya makin mengembang. Aku masih sempat menangkap mulutnya mengatakan sesuatu, tapi telingaku seperti tuli, pori-pori kulitnya mati rasa, aku tak sanggup bersuara dan napasku sesak sekali.
        Florian bersimpuh, memelukku yang jatuh terbaring di lantai perkamen, cairan kental membasahi gaun dan tanganku. Aku menelan ludah berkali-kali. Pelan sekali ia mencium pipiku yang mulai kehilangan rona merahnya. Lalu ruangan luas yang remang-remang itu berubah gelap sekali. Aku kehilangan Florian. Ia lenyap.
                                                                                ***
        Aku berjalan penuh semangat. Ini akan menjadi waktu yang sangat berharga untukku. Semua undangan telah tersebar, gedung resepsi telah dipesan, dan hanya menunggu waktu sampai mempelaiku benar-benar siap. Aku masuk ke ruang itu, ruangan yang khusus kusiapkan untuknya. Ia duduk di kursi malas menghadap jendela, matanya terpejam, sepertinya ia kelelahan hari ini.   Bias-bias sinar matahari senja memantulkan kulitnya yang pualam.
        Ia masih sangat belia. Seperti beberapa tahun lalu ketika kami bertemu, menjadi satu tim dalam sebuah pendakian ke puncak gunung. Ia tertatih menapaki jalur terjal dan berencana menghentikan pejalanan sebelum pada akhirnya kuseret ia dengan paksa menyelesaikan misi pendakian itu. Sifat keras kepalanya yang tak terkalahkan telah memenjarakan egoku, kepolosan yang naïf seorang  Nightingale berhasil menjatuhkan pilihanku padanya. Ia benar-benar tuan putri yang sombong membiarkan hati punggawa buruk rupa sepertiku tercabik-cabik, memburai berserakan di lantai perkamen satu tahun lalu.
       Tapi kini putri Elle-ku yang jelita telah menjadi milikku selamanya. Ia senantiasa tersenyum, tak ada rona kesedihan di matanya.
       Perlahan kututup kembali pintu ruangan itu. Membiarkannya istirahat sejenak. Sementara segala perlengkapan harus kusiapkan malam ini. Hatiku berdebar kencang sekali.
       Akhirnya tiba pada saat yang sangat kunantikan. Berdiri di altar dengan perasaan yang tak terlukiskan. Sebagai seorang mempelai laki-laki yang menunggu kekasihnya untuk berjanji di hadapan Tuhan.
       Malam telah mengirimkan sejuta aroma musim yang nyaris berganti. Bulan separuh bagian menghiasi langit. Gedung ini sangat benderang, lusinan cahaya dari kristal di langit-langit berpendar-pendar menyilaukan.
       Semua undangan telah hadir. Disana kulihat wajah-wajah asing para wartawan media massa yang siaga dengan kamera dan blitz yang menyala-nyala. Kurasa mereka semua
penasaran denganku yang selama ini memang sengaja menjauh dari media. Mantan-mantan kekasihku yang datang sendirian atau bersama suami-suami mereka, teman-temanku tercinta dari masa lalu, keluarga yang masih mengingatku, mantan kekasih mempelaiku, teman-temannya dan seseorang yang sangat mencintainya dulu, kini duduk di bangku paling depan menyaksikan ia menikah denganku malam ini. Entah apa yang ia rasakan sekarang.
        “Semua hadirin, mohon berdiri…” sebuah suara dari pemandu acara.
        Seluruh tamu undangan berdiri, mata mereka tertuju pada pintu gedung yang menjulang dan segera terbuka. Tampak sebuah pemandangan yang akan membuat jantung siapapun berdetak lebih kencang dari biasanya. Seseorang berjalan mendorong kursi roda. Di atas kursi roda itu, pengantin yang begitu bercahaya duduk dengan anggun. Gaun putih yang indah berlapis-lapis ditaburi mutiara, sebuah liontin yang berkilau di lehernya, sarung tangan transparan membalut lengan terbukanya yang cantik, sebuah mahkota dan penutup wajah yang menyembunyikan auranya yang menawan. Aku sadar semua undangan terpukau pada pesona Nightingale melebihi apapun. Ia benar-benar menyihir kami.
          Kami semakin dekat dan benar-benar bersanding bersama. Pendeta membacakan doa-doa.
          “…. Berjanji sepenuh hati untuk bersama dalam suka, duka, kaya, miskin, sakit maupun sehat dan untuk bersama sampai ajal memisahkan…. ”
         “Ya… aku berjanji..” Aku mengucapkan janji dan melirik mempelaiku sekilas. Ia tak bergeming.
          Hingga pada sesi dimana pendeta menyatakan untuk membuka penutup wajah pengantin wanita dan menciumnya. Aku berdebar-debar. Ini mengingatkanku pada malam dimana aku melamarnya satu tahun lalu, malam di mana aku tak sanggup membedakan mana detak jarum jam dan mana detak jantungku sendiri. 
         Kubuka kerudung penutup kepalanya perlahan. Yang nampak adalah sesosok wajah pucat dengan mata terpejam. Lingkar hitam matanya tak dapat disamarkan, bibir yang berkilau oleh riasan terkatup rapat menyembunyikan senyum dinginnya, bahkan pipinya yang pucat masih begitu lembut. Ia bagai patung marmer yang duduk dalam singgasana.
        Aku menciumnya. Dingin. Tak ada hawa hidup yang melingkupi napasnya.
        Aku melihat wajah-wajah para undangan berubah menjadi lebih tawar dari wajah pengantinku. Namun aku menghargainya sebagai ungkapan kebahagiaan yang tak terkira.
                                                                       ***
       Nightingale, selama satu tahun kurawat jasadnya yang kaku. Aku memandikannya, memakaikan gaun, menyisir rambutnya yang panjang dan menghiasinya dengan bunga-bunga kecil.
        Aku mengajaknya berdansa, menyusuri pantai, membuatkan makan malam dan menidurkannya. Aku melukisnya dalam sebuah sketsa, menciptakan karakter seperti dirinya dalam cerita yang sedang kutulis, mengajaknya bercanda dan membangunkannya kala pagi menjelang. Aku bicara padanya, berdiskusi dan selalu mencintainya.
        Nightingale, selama satu tahun kusimpan jasad bersama kenangan indah kami bersama.
        Sejak kejadian malam itu, aku memeluknya sepanjang malam. Kugendong sosok tak bernyawa yang mulai mengurai itu ke dalam bathtub, mengguyur bersih darah yang mengalir dari dadanya. Kulitnya yang pualam tak lagi merona, pipinya seputih kapas dan bibirnya… seperti ada darah beku yang mengendap di sana, hitam dan cekung.
        Kutumpahkan semua cairan dalam botol yang berbau menyengat itu bersama aliran air. Ia tampak melayang di bak mandi yang terlalu besar menampung tubuhnya. Aku telah melihat sosok putri duyung dalam wujud yang berbeda.
        Sepanjang hari kuceritakan tentang pangeran kaki peri dan burung layang-layang yang terbang ke selatan menghindari musim dingin. Kududukkan ia di sebuah perahu kecil di danau taman belakang rumah. Ditemani lilin-lilin ketika bulan tak bersinar dan bintang muncul membentuk nebula. Aku juga memainkan biola untuk menghiburnya. Kami mendayung bersama mengitari danau.
        Ia akan terlelap karena lelah dan segera kubopong ke tempat tidurnya yang dipenuhi mawar.  Nightingale yang menemaniku menyelesaikan tulisan untuk buku-buku yang akan kuterbitkan. Ia tak mengeluh meski aku tak pernah tidur. Ia akan setia menemaniku hingga hari berganti.
Ini adalah minggu ketiga. Hari yang sama sejak malam itu. Dalam keremangan cahaya bulan, kulihat wajah Nightingale berseri-seri menatapku.

04.12 wib
Malang, Senin 24 Maret 2012

Kamis, 22 Maret 2012

0 (Ve)odipus Complex

Aku sedang melukis hidupku. Setiap hari harus ada warna baru, karena Tuhan tak mau memberi tahu kapan aku mati. Ketika aku memucat, bumi ikut pucat, awan bagai menembus hamparan kelabu di sudut hidup yang hanya sejengkal. Layaknya tanah rengkah-rengkah dengan rumput kering yang takut akar-akarnya akan terlepas oleh angin yang terhembus keras. Menjelma lapisan tipis kabut pagi hari yang tersuruk di antara embun musim gugur, membawa mimpi dan kenyataan jauh terbang. Bersama keterasingan yang sesak. Seperti rumput-rumput yang tercerabut, tak ada batas yang jelas waktu yang diberikan untukku.
          Aku sedang melukisi jiwaku. Belajar mencampur warna dan membuat sketsa. Menggoreskan kuas yang terbentang dari masa lalu hingga masa depan. Apa yang kualami, yang kuketahui, dan yang kurasakan adalah warna, garis, titik, bidang, tekstur, dan komposisi, menyatu dalam imajinasi. Semuanya membaur, semuanya teratur, menjadi sebuah irama khayali.
         Seperti ketika pertama kali belajar nirmana. Mengenal yang tiada, mengetahui ketiadaan, mempelajari yang tidak ada dan menelusuri yang ditiadakan. Nirmana adalah simbol kebebasan yang pernah kupelajari di sekolah. Mengasah kepekaan rasa dan empati, mencetak generasi yang kritis akan karya seni.
        Dunia yang kuciptakan sendiri begitu sempit, begitu pekat. Lorong-lorong kedap suaranya steril dan mengkilat. Hitam. Putih. Monoton. Tanpa dinamika. Tanpa ruang dan waktu. Tanpa panel dan skrup pembuka jendela ketika cemas menyesak. Menghantui segenap jiwa-jiwa skizoid. Tanpa rongga penuh udara ketika gelap melerai matahari yang menyiksa bumi dengan geletar lembut ujung angin yang menyentuh kaki.
       Tapi aku tidak mau begitu. Aku ingin lukisan hidupku memenuhinya, menerangi kepekatannya,
menyelusupi kekedapannya dan menyemarakkan kesterilannya. Dengan warna.
       Dunia yang kuciptakan sendiri hanya aku yang mengetahui. Aku bisa menjadi siapapun sesukaku, menjelma apapun dan hidup di manapun, tak ada yang mencegah, tak ada yang bisa membatasi. Diam-diam kita adalah Tuhan bagi karya yang kita ciptakan. Tak ada yang lain. Juga ayah dan ibu. Mereka adalah kegelisahan yang selama ini membelenggu ruang gerakku. Kecemasannya justru membuatku mati rasa.
       Perlahan-lahan lorong di depanku menyempit. Menciut. Sampai akhirnya hanya berupa satu titik cahaya. Warna putih berpendar-pendar menyilaukan, tubuhku seringan kapas, seperti malaikat kecil dengan sepasang sayap bulu angsa keperakan. Mengabur menjadi segerombolan kunang-kunang bercahaya pelangi. Aku lari hendak mencapai ujungnya, tapi sia-sia. Lorong itu mengecil tanpa mempedulikanku yang penuh peluh menggapainya.
        Aku tergeragap. Memandang sekeliling dan mendapati diriku sedang duduk di meja belajar ketikaholophone di ruang tengah berbunyi nyaring sekali mencerai-beraikan khayalanku. Holophone adalah telepon seluler dengan alat pemindai khusus yang dapat menampilkan gambar orang yang menghubungi dalam wujud tiga dimensi.
        Jendela kamarku masih tertutup. Sinar matahari senja menerobos masuk lewat kaca yang buram berembun. Menembus tirai tipis biru muda yang membingkainya. Tampak serpihan cahaya menjilati lantai, bayangan satu-satunya pohon akasia di luar sana bergerak-berak tertiup angin.
       Aku beranjak ke ruang tengah dengan malas. Memencet tombol on dan seketika visualisasi tiga dimensi penelepon dari seberang sana muncul. Ayah. Setelah beberapa bulan berangkat ke Borneo untuk memotret dan penelitian mengenai penyebab deforestrasi pulau itu, dia belum pernah memberi kabar. Dia seorang fotografer, keliling dunia dan pulang memberiku oleh-oleh lusinan buku dalam berbagai bahasa. Dia pelahap buku.
        Dalam sehari bisa membaca tiga-empat buku dengan tebal tak kurang dari kamus bahasa duapuluh juta kata dan katalog kamera keluaran terbaru di perpustakaan. Dari buku-bukunya, aku bisa tahu bagaimana kehidupan di ujung dunia seberang sana tercipta. Dunia ke tiga yang tak terbatas oleh peradaban dan teknologi. Dunia penuh kesunyian dan diliputi mantra-mantra para pemeluk teguh keimanan.
        “Ayah!”
        “Ve, apa kamu baik-baik saja?”
        Pertanyaan aneh, pikirku. Tentu saja aku baik-baik saja berada di rumah yang melindungiku dari badai hujan asam dan sengatan ultraviolet ini.
       “Aku baik, ayah sendiri bagaimana? Kudengar, Konferensi Greenworld di Masachussets sedang memproses pengajuan kasus peng-gurun-an Borneo sebagai dampak global warming. Itu sudah terjadi sejak beberapa dasawarsa terakhir ini. Ayah salah satu personel tim yang menangani risetnya, sudah siap jadi juru bicara?” Tanyaku semangat.
        “Hahaha….anak nakal! Kamu pikir ayah tidak tahu apa yang kamu lakukan di rumah dengan pigmen dan kuas di gudang bawah tanah? Kau sibuk dengan sketsbook dan pensil warnamu. Masih berani pura-pura mengikuti berita up to date padahal di rumah hanya menekuni hal-hal aneh, heh??!!”
         Ups!! Ketahuan. Inilah ayah, dia pasti menyembunyikan alat pendeteksi. Semacam microchipwarm detector, chip mini yang memindai panas tubuh, atau kamera tersembunyi entah dimana di rumah ini sampai kegiatanku pun tak lepas dari pantauannya.
        “Ve, jangan terlalu sering memanjakan salah satu bagian otakmu dan menelantarkan yang lain, kamu mengerti kan?”
        “Aku tidak sedang menelantarkan bagian otakku, ayah. Ini mengenai pelampiasan rasa aneh yang tidak kuketahui, aku tak akan bertahan jika tidak menciptakan hidupku sendiri.” Lagi-lagi angin berhembus mendesau-desau di luar sana menyeret debu dari jalanan ke lantai kayu di ruang tamu.
         ”Jiwa yang terbelah tidak akan kembali lagi Ve, percayalah, hentikan khayalanmu sekarang karena kita hidup dalam realita yang tak dapat kita kendalikan. Ada kekuatan besar lain yang telah mengaturnya.”
        “Yeahh…” Jawabku malas.
        Dan inilah aku, jika sudah dilarang melakukan sesuatu yang aku suka, selalu aku sempatkan mencuri-curi waktu. Ayahku ahli desain grafis, tapi sepertinya ia tak senang aku terlalu akrab dengan dunianya. Aku tidak boleh menggambar terlalu sering, mendesain sesuatu, melukis, bahkan sekedar mengerjakan proyek autocad untuk interior rumah salah satu temanku. Ia hanya mengajariku memotret. Seringkali ia mengatakan bahwa dengan memotret, kita bisa menghentikan waktu. Satu-satunya cara untuk mematikan sebuah kejadian hanya dengan sepersekian detik dan semuanya terabadikan dalam selembar ingatan.
       “Jangan menjawab dengan kata itu, ayah tidak suka!” visualisasi cetak biru ayah di monitor transparan tiga dimensi itu berkacak pinggang, wajahnya berkerut-kerut, aku ingin sekali tertawa tapi kutahan mati-matian. Aku mulai menghitung di kepala dan berkata serius…
       “Baiklah akan kukatakan, aku tidak mau ayah melarangku untuk memanjakan salah satu otakku karena akulah yang menggunakannya. Seperti ayah, aku tak pernah melarangmu pergi ke manapun asal mau kembali ke rumah. Ayah yang mengajariku untuk berusaha tidak bosan pada hidup sampai datang kematian.” Aku menatap nanar wujud tiga dimensinya di monitor pemindai. Bagiku, memunguti kerak-kerak keterpaksaan karena tuntutan tidak akan menyelesaikan masalah. “Ayah, aku hanya ingin menciptakan sesuatu yang bisa menjadi tanda bahwa aku pernah ada di dunia....”
         Kulihat ayah tercenung, memandangku dengan heran, mungkin sedikit takjub. Aku merasa ada berjuta warna berkelebat di antara kami, menari-nari, berputar-putar, saling bertabrakan, membentuk komposisinya sendiri. Ingin sekali aku segera menyambar cat dan kuas, lalu mengubah dari yang abstrak menjadi nyata. Sepi. Hening. Tak ada suara selain detak jarum jam. Jeda yang lama dalam kekhidmatan doa-doa orang suci.
        Aku anak satu-satunya, kedua orangtuaku bercerai dan aku putuskan ikut ayah karena kami punya banyak kesamaan. Membaca, memotret, berpetualang, travelling dan melakukan hal-hal baru adalah kegiatan yang menjadi pengikat di antara kami. Kadang aku sering ditinggalkan untuk tugas-tugasnya keluar kota bahkan keluar negeri, tapi kami tak pernah melewatkan hoby bersama.
         Ketika ibu masih bersama kami, ia selalu memaksaku untuk mempelajari matematika dan ilmu pasti lainnya. Ibu sangat perfeksionis, sementara pelajaran eksak bukan satu-satunya yang kubenci. Aku juga tak pernah suka dengan seragam sekolah, kenapa mereka memberlakukan formalitas sedemikian gilanya? Orang dewasa memang sulit dimengerti.
        “Kau tahu Nak, terlalu idealis akan membuat seseorang jadi ambisius. Itu penyebab utama kehancuran manusia.”
         Aku  berdiri tegak, memandang visualisasi tiga dimensi-nya, kami sama-sama membeku dalam diam, mencari celah agar terbebas dari himpitan ketiadaan. Serasa ada jarak ribuan mill yang terbentang menyeret kami untuk menjauh, memisah, melebur menjadi awan tipis kelabu dan menutup semua pandangan. Gelap merayap.
        Aku tak pernah tahu bahwa di seberang sana, seorang laki-laki yang selalu merindukan putrinya tengah tepekur begitu lama. Kegersangan gurun Borneo yang dibalut sedikit hutan lebat, satu-satunya zona inti yang tersisa telah memisahkannya jauh dari harta yang paling berharga. Dinginnya sungai Barito yang membentang kecoklatan menjadi tameng tersendiri seolah mencegahnya untuk kembali. Penderitaan di setiap jengkal tanah menjadi alasan untuk bertahan. Setiap hari berganti, burung-burung terbang ke sarang,  capung berkejaran di tepi muara Kapuas yang makin kerontang,  sementara ia di sana hanya berteman teropong dan kamera.
        “Ayah harus menyelesaikan laporan penelitian.” Ucapnya singkat mengakhiri pembicaraan.
         Visualisasinya lenyap, terdengar bunyi telepon putus. Ini juga merupakan kesamaan kami, keras kepala dan memandang ego sama dengan harga diri. Ibuku yang perfeksionis itu tentu saja tidak bisa hidup bersamanya yang eksentrik lebih lama lagi.
          Kuletakkan holophone di tempatnya dan berpikir, masa inikah yang membuatku ketakutan? Jadi pucat mata dan kaku tulang-tulangku? Bagaimana jika nanti kutinggalkan dunia yang tak habis kucumbu rayu? Sedangkan aku bagi ayah adalah satu-satunya sisa cinta dalam hidupnya yang terbuang dan sunyi senyap.
          Pada akhirnya aku kembali dengan pensil warnaku. Memintal dan merajut duniaku sendiri yang kurasa semakin sempit dan menyesakkan. Aku mulai berkhayal tentang negeri seribu pelangi yang dihuni peri-peri penjaga hutan, penuh cahaya secantik berlian, dikelilingi sungai kecil yang jernih dan tak pernah kering sepanjang masa, rumput tak lagi kemerahan tapi sehijau dahan pisang, serangga berderik dan binatang-binatang kecil bebas berkeliaran, tumbuhan subur berwarna-warni ada dimana-mana, anak-anak berlarian di bawah terik matahari, para gembala melantunkan nyanyian hujan, dan orang-orang di desa ramah bersahaja.
          Mungkin ribuan abad silam seperti itulah dunia yang kutempati. Tak ada polutan berbahaya, ultraviolet mematikan, dan air penuh kaporit. Sianida, uranium, timbal dan arsenik mencemari sungai di taman kota yang hanya ditumbuhi beberapa tanaman serta suhu tinggi akibat pemanasan global menciptakan padang gersang dimana-mana.
           Di luar, kabut turun menciptakan titik-titik air bercampur udara yang membuat lembab dan malam bertambah pekat. Musim ini tidak ada hujan, kalau pun ada, itu sangat jarang terjadi. Sepertinya air telah dikuras habis sejak puluhan tahun lalu. Gedung pencakar langit bertebaran dimana-mana, menyerap dengan rakus sumber daya air tanah yang ada. Rumahku-lah yang termungil dan tersuruk di antara kemegahan desain postmo minimalis yang diterapkan pada gedung-gedung itu. Di kotaku, hanya ada beberapa rumah yang bisa disebut rumah, salah satunya tempatku. Kebanyakan orang menyewa flat atau apartemen di menara kotak berwarna abu-abu yang seringkali menghalangi sinar matahari pagi itu.
          Mengenai kenapa rumahku tetap dipertahankan keberadaannya sementara tanah semakin sempit dan kebutuhan akan ruang gerak makin meningkat, aku tak tahu pasti. Kudengar, rumahku yang masih bergaya mediteran ini patut dilestarikan, karenanya pemerintah melarang penggusuran dilakukan. Kurasa itu bukan satu-satunya alasan. Entahlah, aku merasa aneh dengan kebijakan mereka yang kadang membuat anak seusiaku semakin tidak mengerti banyak hal.
          Jika malam tiba, jalanan akan macet luar biasa. Orang-orang baru pulang kerja ketika langit gelap dan lampu-lampu di bawah bayangannya menyala. Bukan hanya di tol dan brigderoad atau jalan yang dibuat dengan konsep jembatan tepat di atas jalan utama, tapi juga jalan udara. Flyingcar yang kini sudah makin canggih berseliweran di udara membuat bising dan kadang hasil pembuangan bahan bakarnya akan mengendap di udara, turun ke permukaan bumi dan mengganggu pernapasan.
          Untuk keluar rumah dan pergi sekolah, aku harus memakai pakaian pelapis terbuat dari bahan elastis tahan panas, syal, kacamata hitam anti radiasi dan sepatu boot selutut, jika tidak, kulit seketika terbakar kena sengatan matahari. Aku juga harus memakai masker atau tabung udara kecil. Seperti juga orang-orang kebanyakan, aku tak mau mengambil resiko menderita kanker kulit akut yang tidak perlu menunggu waktu lama untuk melihat gejalanya. Asap mesin buatan manusia benar-benar sanggup menciptakan jarak pandang ke depan berhenti pada titik di meter ke seratus.
           Matahari bukan lagi sesuatu yang dapat dirindukan dan diharapkan manfaatnya. Mungkin bola api raksasa yang telah bopeng separuh akibat pendinginan di permukaannya itu menjadi sesuatu yang ditakutkan penduduk bumi masa kini, bahkan menjadi pembunuh terbesar ketiga setelah tembakau dan polutan. Orang-orang takut keluar rumah. Ternak mati, tidak tahan kepanasan, rumput tak lagi segar, serangga-serangga menghilang, membuat pertahanan sendiri di dalam tanah yang menyisakan sedikit kenyamanan.
           Pensil warna di tanganku masih bergerak-gerak mengikuti perintah dari otak yang selama ini memang -mengambil istilah ayah- sedikit ku”manjakan”. Aku menggambar dan menulis hanya menggunakan tangan kiri, karena kidal, tangan kananku tidak terlalu berfungsi. Garis demi garis, setiap tekanan, setiap guratan, aku ingin hasilnya sempurna. Karena aku, pemegang kendali segalanya, aku yang menentukan…. seperti kata ayah lagi, “Kitalah yang menentukan bagaimana shutter ditekan dan di mana ujung pensil dihentikan”.
            Banyak hal berubah, dunia berubah, iklim berubah, warna berubah, periode berubah, waktu berubah, begitu juga aku… ini hanya sebuah pilihan. Kulirik jam dinding, malam melewati pertengahannya, aku tak sanggup memejamkan mata, beberapa hari tidak tidur tak membuatku beralasan untuk menghentikan apa yang kusenangi. Meski lelah menyayat dan udara pekat penuh polutan flyingcar di atas sana menggerogotiku, aku tak bisa berhenti. Ayah, tiba-tiba aku begitu merindukannya…
            Ranting-ranting akasia yang kerontang kekeringan tertiup angin menggesek-gesek daun jendela kamarku menciptakan suara gemeretak penuh aroma mistis yang mengerikan. Aku benar-benar lelah, insomnia yang kuderita menimbulkan halusinasi berkepanjangan sejak beberapa minggu lalu. Jari-jariku kaku, tulang-tulangnya yang kurus begitu sulit kugerakkan. Aku gemetar ketika menyeret pensil dan mataku mulai semakin jelas melihat sesuatu yang tak tampak.
            Aku merasa tengah berlari di lorong putih pekat dan steril. Di sisi kanan kirinya kulihat lukisan yang dulu kubuat tanpa mempedulikan larangan ayah. Warna-warna membaur menjadi bentuk abstrak yang tak pernah ada di dunia. Aku terus berlari menuju arah cahaya. Perlahan-lahan lorong di depanku menyempit. Menciut. Sampai akhirnya hanya berupa satu titik putih berpendar menyilaukan. Aku lari hendak mencapai ujungnya, dan berhasil.
Aku tiba di sebuah padang terbuka….
(00.31) 23 Maret 2012

0 Lebah Kecil Yang Gemar Menyengat

      Suatu hari,
      Aku melihat kita duduk di sini dan bicara tentang ide-ide nakal yang belum terungkap, mengomentari kalimat ambigu, mengkritisi tulisan di spanduk yang terpasang di sudut-sudut jalan, mengamati orang-orang berlalu lalang, mengejek teman, saling memaki, menganiaya dan melakukan tingkah aneh lainnya. Semuanya dilakukan sambil makan krupuk. Saudara… di luar negeri krupuk disebut cracker, jadi kita sekarang sedang makan cracker, hebat kan?
       Anak-anak penentang senior dan pembuat onar. Saling bertanya apakah kucing-kucing di UKM itu perlu diberi nama, diskusi tentang birokrasi, ngotot bahwa gado-gado adalah cikal bakal salad, setuju kalau batagor dan cilok adalah saudara sepupu bakso.
       Tidak ada yang lebih tidak penting, tapi kita menikmatinya.
       Kita berontak, melawan, menyumpah dalam hati karena pengkhianatan, bersyukur telah dipertemukan satu sama lain yang senasib. Memiliki visi, misi dan ambisi yang—nyaris—sama. Lega melihat salah seorang dari kita baik-baik saja.
       Kami adalah bom waktu yang setiap saat bisa meledak. Mengumpulkan kekuatan dalam gerakan bawah tanah. Kadang ketika sedang diskusi, beberapa senior mempergoki kami. Rasanya seperti tentara gerilya yang tertangkap Belanda. Antar ngeri, berdebar, panik, bangga, cemas dan meletup-letup. Kalian yang membuat kami seperti ini. Jangan pernah lupakan itu.
       Kadang aku berpikir kita ini sebagai robot, dan senior-senior itu adalah ilmuwan yang menciptakan kita. Mereka mencetak kita dengan berbagai cara. Membekali dengan berbagai keahlian, ilmu, ketrampilan, pengetahuan, skill, mengajari banyak hal, mencuci otak dan memasukkan ideologi.
        Kita memang tumbuh. Tapi tunas ini muncul bersama dendam yang menyertai mekarnya spora  chouvinisme. Tunas yang belum sepenuhnya matang sudah tercerabut. Kita menciptakan kubu pemberontakan dengan cara lazim yang orang sebut sebagai pengelompokan diri.
       Kami adalah kami, kalian adalah kalian. Tetaplah mendaki puncak pengkotak-kotakkan.
       Para ilmuwan itu merasa robot-robotnya mati rasa, mereka terpecah belah. Kita semakin kuat.
       Memberontak ternyata tidak hanya bisa dengan merusak, tapi bisa juga dengan diam.
Kita menjadi reaktif dan tidak pernah proaktif
Kita membuat benteng
Kita menggali liang
Kita bergerilya tengah malam
Kita koordinasi
Kita membangun sarang
Kita kesakitan
Kita berusaha lari
Kita menangis malam hari
Kita tidak akan mati

00.09
23 Maret 2012

0 Intermezzo past curankor (beware)

          Para pria memang unik. Hanya bermodal sebatang rokok, hubungan mereka bisa seakrab saudara kembar siam. Rokok adalah selinting tembakau yang dicampur cengkeh, lalu dikemas sedemikian rupa sampai berbentuk silinder. Kandungan tar dan nikotin dalam silinder ini kalau dikonsumsi berlebihan dapat membahayakan keselamatan jiwa. Jika hanya tersisa sebatang, para pria miskin di kampusku menyedot benda ini secara bergiliran.
         Saat sedang melarat, biasanya para perokok di sekretariat patungan mengumpulkan uang receh.  Caranya gampang-gampang susah. Karena uang receh itu banyak dicemplungkan ke dalam kolam ketika mereka masih kaya, mau tidak mau mereka harus menyingsingkan celana untuk memunguti recehan tadi. Anak-anak cewek senang melihat pemandangan ini. Aku, Yula dan Ayu malah sering melempar-lempar koin selagi mereka asyik mengumpulkan harta karun itu. Rasanya persis seperti pelemparan sesaji ke dalam kawah gunung Bromo ketika upacara Kasada.
          Mereka mungkin saling berbagi sebatang rokok atau seteguk kopi, tapi tidak untuk korek api. Hanya gara-gara sebiji korek api, bisa pecah perang dunia ketiga di sekretariat Mapala. Kenapa? Karena entah mulai ngetren sejak kapan dan dipopulerkan oleh siapa, pencurian properti pribadi bernama korek api ini kerap meresahkan segenap warga sekretariat.
Pelaku curankor benar-benar canggih. Jangankan ditinggal tidur, makan atau mandi, baru menengok sebentar saja, korek bisa langsung amblas. Lenyap bagai ditelan ilmu sihir. Hanya butuh waktu dua detik untuk menyadarinya.
          Peran korek api sangat penting dalam aktifitas perokokan. Sebanyak apapun rokok tanpa korek api, benda itu tidak akan menyala. Dibawah teror curankor  yang menyusahkan, para smoker tetap memanfaatkan jasa korek sebagai pemantik. Mereka tidak menggunakan bara api atau membawa kompor ke mana-mana hanya untuk menyulut tembakau lintingan yang asapnya bikin sesak napas itu. Selain tidak praktis, berat dan malu-maluin, kompor juga tidak bisa dimasukkan dalam kantong.
          Korek api itu seperti pensil anak sekolah. Mudah hilang dan berpindah tangan. Berbagai macam cara dilakukan untuk memproteksi korek. Sesulit apapun, pemilik korek akan melindungi hartanya sedemikian rupa untuk menghindari maraknya curankor di kalangan Mapala. Mereka menyayangi benda mungil itu seperti nyawa sendiri. Benar-benar konsisten dan penuh totalitas.
         Kami mendengar penuturan berdasarkan pengalaman pribadi seorang pemilik korek yang jorok dan pikun. Sebut saja Acil. Itu memang nama aslinya. Dia mengungkapkan rahasianya kepada kami—meski dia pikun—bagaimana koreknya yang butut tetap utuh tak tersentuh. Berikut dia memberikan tips agar korek tetap awet dan tidak cepat hilang.
          Pertama, Acil akan memberi nama. Cara ini sudah umum tapi kurang berhasil kalau dia hanya mencantumkan nama saja. Siapa tahu si pelaku curankor tidak peduli dan langsung menghapus namanya begitu saja. Maka dia mencari terobosan yang lebih inovatif, yaitu menuliskan kata-kata untuk melengkapi namanya. Bisa dengan kata-kata bijak atau pesan moral. Contohnya; ‘Korek Acil punya. Jangan digondol. Nggak ada lagi!’ Atau; ‘Korek Acil. Yang punya galak. Kalau sayang nyawa, kembalikan secepatnya!!’ Atau kadang kayak gini; ‘Yang punya korek ini seorang psikopat.  Acil namanya. Siapa yang ngambil bakal dipotong-potong, dikalengkan, dijadikan sarden terus dijual.’ Atau bisa juga seperti ini; ‘Korek kesayangan Acil. Acil nggak bisa bobok kalo nggak ngelonin korek ini. Yang ngambil pliiizz kembaliin yah. Emmuach!’
         Kedua, dia memberi tanda pada koreknya. Cara ini efektif untuk mengurangi resiko kehilangan, soalnya kalau ada manusia kriminal yang mau merebut hak milik, dia bisa mengenalinya lewat tanda yang sudah dibuat tadi. Selain itu tampilannya yang mencolok akan memberi kesan berbeda.  Biasanya, orang memberi tanda dengan menempelkan stiker, membubuhkan tanda tangan dengan spidol marker, mencoret-coret dengan tip-ex atau bahkan merusak komponen korek. Cara ini sah-sah saja, tapi menyebabkan keindahan korek berkurang dan menjadikannya tidak sedap dipandang.
          Ada trik yang lebih ampuh dan mujarab. Caranya yaitu dengan memberi sedikit upil pada ujung korek. Hal ini terbukti efektif. Pencuri akan malas melihat, tidak mau memegang bahkan jijik menghapus tanda tadi. Jika hilang, pemilik sah bisa dengan mudah melacaknya dengan menjilati korek tersebut. Kalau upil sudah habis, bisa diganti dengan bahan kimia lain yang tidak kalah berbahaya seperti kotoran kuping, kotoran pusar, daki atau ingus.
         Ketiga, Acil memproteksi koreknya dengan memasang gantungan. Penambahan aksesoris berupa tali ini fungsinya sama seperti gantungan flesdis, gantungan ponsel, gantungan kamera, gantungan kunci atau tiang gantungan. Kalau dia sedang tidak ada duit buat beli gantungan ponsel, Acil memanfaatkan tali-tali yang ada. Misalnya dengan tali rafia, tali jemuran, tali pocong atau tali pusar bayi yang baru lahir. Pokoknya tali apa saja asal bukan tali bra.
Terakhir, dia memanfaatkan teknologi mutakhir. Yaitu dengan menempelkan korek pada ponsel. Jika hilang, tinggal dimiskol saja. Beres.
         Anak-anak yang mendengarkan nasehat dari sang suhu langsung manggut-manggut. Siap mengaplikasikan tips-tips sederhana barusan. Cara apapun dilakukan yang penting maling korek tidak semena-mena menebar teror.
Jika korek itu benar-benar hilang, lenyap, gone! Mereka akan menyisihkan tabungan untuk menggantinya dengan korek api yang baru, asli, bagus, berstandar internasional, punya suku cadang dan memiliki label halal dari Majelis Ulama Indonesia.

Malang 22 Maret 2012

2 Intermezzo Past Insomnia (keluarkan semuanya sekarang)

        Kata-kata seperti menari-nari begitu saja di kepala seolah mengejek ketidakbecusanmu mengungkapkannya sebagai tulisan. Dalam deraan insomnia akut berkepanjangan, kau hanya ditemani suara kran air bocor di kamar mandi, detik-detik yang memilukan dan lantunan melody Kitaro yang tak mau enyah dari pantulan gendang telinga meski kau sedang berlari-lari di jalanan, bergurau dengan teman, bahkan berteriak sendirian.
        Mungkin kau sudah menjadi sinting karena dua tahun lebih mengalami kesulitan tidur dan jadwal istirahat yang tak teratur. Tidak apa-apa jika kau melakukan sesuatu yang berguna, tapi yang kaulakukan hanya diam seperti orang bodoh, membiarkan kalimat-kalimat di bagian kanan otakmu terperangkap hingga akhirnya mati dan membusuk di sana tanpa sempat kau bentuk dan kau ramu menjadi sesuatu yang bisa dicerna.
        Kau terjaga dini hari dan mengumpulkan segala daya upaya memahami kegilaanmu sendiri. Ketika semua orang terlelap dalam peraduan ditemani mimpi-mimpi surga, kau di sini merangkai ketidakberdayaan menghadapi kenyataan yang semakin beringas dan terburai membunuhi spektrum sel-sel di pori-pori kulitmu hingga tak dapat lagi kaurasakan apapun.
          Di ruang 3x3 meter ini kautemukan dirimu meringkuk dijejali euphoria menjadi pengecut baru. Tidak bisa mentransformasikan makhluk-makhluk imajiner ke dalam rumus-rumus kalkulus dan logaritma agar orang lain dapat membacanya.
         Lalu pada suatu ketika, masa itu akan datang dengan tiba-tiba, dimana penyair merasa dikhianati tulisannya sendiri. Setiap kali selesai menulis, rasa puas itu tidak pernah muncul serta merta tetapi berlarian memberondong untuk menciptakan sesuatu yang baru dan belum pernah ada. Kau terjebak di antara keduanya.
         Melihat tanganmu sendiri yang menyerupai potongan kayu, kau ingat Tuhan menganugerahkannya untukmu agar bisa kaumanfaatkan. Kau sekarat, tertatih-tatih mengumpulkan nyawa agar diberi kekuatan untuk mengusir roh jahat yang bersemayam dalam jiwamu, sehingga dapat kaucurahkan semua gangguan yang ada di kepala agar kau bisa bermetamorfosis  sebagai partikel kecil dalam tata surya intelejensi penemu pola pikir yang berbeda, unik dan radikal untuk memberi pijar nyala terakhir kreatifitas kita sebagai manusia sebelum dihisab di neraka.
        Karena metafora yang kauciptakan adalah ketidakkonsistenan dua belah bagian otakmu yang kadar kerjanya masing-masing tidak sama antara yang kanan dan kiri, maka pilihanmu terjebak di tengah-tengah. Waktu tidak memberimu kesempatan sedikit pun untuk bernapas.
         Sebuah kontradiksi planet dan lapisan ozon yang melingkupinya. Terjebak dalam nebula, kabut gas pelindung yang over protektif sehingga menyesakkan material dan sel-sel hidup yang bersemayam dan berkembang biak di dalamnya. Jika ingin bebas, jadilah individu yang mampu melintasi waktu.
         Malam hari adalah saat di mana segala kemungkinan bisa terjadi. Inspirasi muncul ketika jam dinding berbunyi duabelas kali dan kau menyukai suaranya yang mengetuk-ngetuk daya imajinasi. Ia muncul seperti cahaya yang berpendar-pendar menyilaukan masuk melalui tempurung kepalamu, diserap otak dengan rakus, turun melalui sumsum tulang belakang ke jantung sehingga memompa darah dengan gilanya ke seluruh tubuh, memijarkan mata yang semula redup sampai pipimu bersemu merah. Kau bisa merasakan sensasi itu ketika dengan kurang ajarnya tanganmu menciptakan bentuk-bentuk, huruf-huruf, simbol-simbol dan sesuatu dalam wujud ganjil yang hanya datang dari dirimu sendiri.
         “Orang-orang berlalu lalang, bergumam, bercakap, diam. Wajah-wajah yang kaukenang dalam ingatan kini mulai berubah warna, keriput, tua dan rapuh. Seseorang berlari, tersamar dalam gelap, berkelebat sekilat siluet senja hari.”
         Manusia bernapas dan hidup. Ketika lampu-lampu mulai menyala, segala yang kaulihat bergerak, segala yang kaulihat hidup. Karena kita, yang selalu terasing dari sunyi surga dan tatap dunia, hidup sejak awal sampai akhir sendiri. Menjalani sesuatu, merenung, melihat, mengamati, bergerak, tumbuh, merasakan, merenungi, memahami, mencintai, menciptakan, menjalani, mengetahui, melakukan. Sendiri.
         Tak ada sebutan yang lebih mengerikan dari keterasingan. Kau menjalaninya bertahun lalu di sini, tempat yang sama, waktu yang berbeda, dalam kegamangan abadi yang melingkupi kepala. Apa yang kaucari? Tuhan tidak menyimpannya di puncak gunung-gunung, di hilir sungai, di atas tebing, di dasar goa-goa, di buritan kapal, di kaki langit dan tempat-tempat yang kaukenal dalam mimpi maupun nyata.
          Hingga pagi menjelang… .
          Kau menjalaninya bertahun lalu di sini. Menyatu dengan tiang-tiang, bercanda dalam ketergerakan yang diam, membunuhi satu per satu jiwa-jiwa kerontang, mengamati wajah-wajah seredup bintang pada malam sebelum hujan, yang kaukenal di suatu tempat entah dimana. Burung layang-layang, angin, rerumputan yang kering, tiang-tiang membisu, langit yang terang, pohon beringin, patung, semak yang layu, lantai marmer, daun gugur, awan putih. Hidup terasa lebih eksotis dengan melakukan hal-hal berbahaya.
          Kau menyumpah dalam hati pada temanmu yang tidak pintar menyimpan rahasia. Tak ada yang bisa dipercaya, tidak satu pun. Maka ujung pencarian itu berakhir pada satu titik klimaks yang membuatmu meregang nyawa. Jika nanti ada yang menemukanmu terbujur kaku, bicaralah pada mereka bahwa kau ingin memulas dunia dengan semua warna.
         Seseorang menjadi agnostik dan mengkhianati agamanya sendiri dalam upaya pencarian terhadap Tuhan, karena dunia ini terlalu kecil untuk menampung keinginan kita semua. Tuhan bersama orang berani. Orang-orang yang berani percaya bahwa Dia benar-benar ada.


03.04
Malang, 22 Maret 2012

Kamis, 08 Maret 2012

4 Past Chapter 3

         Udara pagi menyapa dengan dingin yang membelai lembut menuturkan kata-kata akan terbitnya matahari dari ufuk timur. Sekelebatan kupu-kupu terbang mengintari bunga dendelion yang menghiasi jendela kamar yang bertirai, membuat distorsi antara pagi yang indah dan wangi. El terbangun dari mimpinya semalam, selagi menghirup udara pagi dengan semerbak khas bunga dendelion, El mengerjapkan kedua pelupuk matanya.

         Dia mencoba mengingat ingat mimpinya semalam, sekelebat garis parasnya muncul malam itu, mencoba bernaung diantara antrian mimpi yang menunggu untuk hadir dalam imajinasinya. Tertegun anggun dengan mata sayup-sayup, menghadirkan kontras sensual yang memenuhi ingatan tentang apa yang El mimpikan semalam. Kenapa wanita ini hadir kembali dalam mimpinya, menghadirkan kecamuk yang membuat pusaran badai kecil yang sempat membuat El bingung.

         Jam menunjukan pukul enam lebih lima belas menit, saatnya untul El pergi mandi dan bersiap-siap melanjutkan aktifitas paginya. Hari ini tidak terlalu bising untuk menikmati tetesan embun yang mulai menguap, disana matahari sudah menampakkan warna kuningnya, membuat hangat siapapun yang ingin mengambil cahayanya dengan damai.

         Sambil menenteng tas yang berisikan buku kuliah serta mengambil sepotong roti yang dia siapakan sejak semalam untuk sekedar mengisi energinya pagi ini, El menyalakan mesin sepeda motor yang selalu membawanya kemana dia suka. Memanaskan mesin yang dingin karena tidak terpakai semenjak El mengistirahatkan fikiran yang berkecamuk semalam. Sembari menghilangkan debu yang menempel dengan kain lap yang sedikit basah, berharap sepedanya masih menghadirkan kilau ketika beradu dengan sepeda motor lainnya dijalanan, sebenarnya motor itu sudah dimilikinnya sejak dia duduk pada bangku SMA. Kala itu ulang tahunnya yang ke tujuh belas, alih-alih hadiah ulang tahun dari kedua orang tua yang menginginkan anak dari tiga bersaudara itu tidak berjalan kaki saat sekolah nanti. Sebenarnya sudah usang dari segi luarnya tetapi mesinnya masih terawat sempurna. Kadang El berfikir mengenai motornya yang nampak rusak dari luar tetapi memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan motor keluaran terbaru. Seharusnya manusia juga begitu, walau sudah usang sebaiknya masih produktif seperti motor udiknya itu. Time to go.

          El hanya melihat keluar melalui jendela ruang kuliahnya. Orang-orang  berlalu lalang melintas dengan kesibukannya sendiri-sendiri tanpa saling menyapa, apakah yang mereka kerjakan. Benar-benar sibuk ataukah hanya menyibukkan diri agar dianggap sibuk oleh orang-orang sekitar, sungguh aneh mereka itu, padahal semut yang pekerja keras saja mau menyapa sesama ketika bertemu. Tiba-tiba ada suara gebrakan meja, pelan tapi cukuplah untuk mengalihkan pandangannya keluar dan beralih menatap kedua bola mata yang siap mencengkeram erat siapa saja yang tidak memperhatikan. Ups...

         “Iya Ibu, ada yang salahkah?” dengan memberikan senyum terbaik yang El punya.

         “Coba jawab apa yang Ibu tanyakan tadi?” Tanya dosen sembari melotot.

         Bentakan itu menyudutkan El yang sejak tadi pagi ketika masuk kelas dia memilih tempat duduk yang paling sudut, bahkan tidak ada seinci pun dia menggeliat ingin melarikan diri dari tempat duduknya.

        “Ehm anu Bu, itu lho Bu... saya sedang melihat orang yang lalu lalang diparkiran situ, kenapa ya Bu mereka tidak mau saling menyapa, padahal kan sudah jelas-jelas mereka berpapasan tapi kenapa hanya membuang muka sembari beranggapan tidak saling berpapasan?” krik krik jawaban yang seperti apa yang kamu fikirkan El?. Udahlah kamu penulis tidak usah ikut campur.El  Kembali memandang Bu dosen yang berpose seperti ingin memakan ala film-film kanibal.

         “Sekarang Ibu tanya, kapan terakhir kali kamu menyapa orang yang lewat didepanmu, termasuk menyapa pelajaran yang Ibu berikan?” kembali bertanya dengan nada yang sedikit ditekan.
        
          Tiba-tiba seakan waktu berhenti sejenak, memutuskan percakapan antara El dan dosen yang sedari tadi melotot tanpa berkedip sedikitpun.

          “(Jleb kena kamu El, makanya jangan lihat keluar terus, perhatikan jika dosenmu itu sedang menerangkan.)” celoteh penulis disela-sela percakapan El dengan dosennya tersebut

          “Eh kamu penulis udah diem aja kamu itu ga usah ikut campur masalahku dengan salah satu pasangan kung fu hustle yang satu ini.” Teriak El dalam fikirannya.

          “Hu hu hu aku ga denger.” Jawab penulis.

          “Ngapain kamu ikut-ikutan segala nimbrung dalam novelku, kamu itu tugasnya Cuma nulis tentangku, udahlah ga usah ikut campur. Mau eksis yah kamu!” El memasang kuda-kuda.

           “gag denger, gag denger. Eh itu jawab dulu pertanyaan dosenmu, ntar kalau udah selesai kuiahnya panggil aku lagi ya, aku lanjutin menulisnya. Sumonggo?” tutur penulis sembari memutar kembali waktu yang sempat berhenti tadi.

            Tiba-tiba El kembali menatap kedua bola mata itu, kedua bola mata yang mengandung bola-bola sepak bola yang ditendang dengan keras sehingga mau keluar dari sangkarnya.

           “Eh iya bu anu, itu lho pas... kapan yah, Ibu tau?” El menjawab pertanyaan dari dosennya sambil cengengesan.

           “Buat makalah tentang bagaimana caranya menghargai orang lain, dikumpulkan besok diruangan Ibu jam empat sore. Jangan telat atau kamu terancam tidak lulus untuk mata kuliah ini” Ancam Bu dosen sembari mengakhiri kuliahnya hari ini.

           “Hufh ini yang tidak aku suka, ketika asik-asik melamun melihat orang berlalu lalang eh malah dikasih tugas individu pula. Dasar dosen perguruan kungfu hustle, tau aja kalau ada mahasiswanya yang tidak memperhatikan. Kaya punya mata disetiap sudut bagian tubuhnya saja, atau jangan-jangan dosen itu punya mata di bagian tubuh yang itu (sensor). Hihihihi lucu. Hey penulis ini aku El yang cerita dan menulis sendiri, kamu istirahat sejenak saja dulu. Kasihan itu kesehatanmu.” Kata El dalam fikirannya.

            "Zzzzzz zzzz..." Penulis tertidur.

            Hari itu El mengakhiri perkuliahannya dengan membawa beban tugas yang banyak, berjalan terseok-seok dengan memegangi perutnya yang mulai berteriak-teriak minta jatah. El kemudian berlari kencang dan menemukan papan dipintu bertuliskan “Toilet”