Hari ini langit cerah sekali. Aku sendirian di sini ditemani desir angin dan kicauan burung bulbul. Apa yang sedang kalian lakukan? Apa kalian baik-baik saja?
Melihat kawanan burung-burung terbang berkelompok, aku iri sekali. Apa kita akan bertemu lagi? Apa kita bisa bersama seperti dulu lagi? Mencari daerah jajahan baru untuk bermain dan melakukan hal-hal bodoh. Tempat-tempat yang dulu kita kunjungi kini menjadi sunyi senyap.
Aku sedang mengamati deretan pegunungan yang menyambung tanpa putus. Di puncak gunung Kawi itulah dulu kita mendaki bersama. Lerengnya tertutup awan. Kelabu membayang seolah memutus puncak dan dunia kecil di bawahnya. Ini adalah taman milik kita. Dulu kita duduk di sini bersama, sambil memesan jus alpukat dan susu hangat. Kita bercengkerama tanpa peduli betapa keras kita tertawa dan berebut mainan seperti anak-anak.
Kalian selalu menindasku. Memasukkan sesuatu ke dalam susuku, mengaitkan tas plastik di punggungku, mengeroyok dan menghimpitku ramai-ramai. Kalian selalu tampak bahagia jika bisa menindas teman.
Angin musim kemarau ini sangat dingin. Ingusku berleleran dan aku menggigil dengan gigi saling beradu, jari-jari kaku, sikap duduk tegang dan mataku berair, tapi aku ingin terus duduk di sini.
Sudah hampir gelap. Puncak-puncak gunung tetap kokoh menyembunyikan keangkuhannya. Apa kita juga sama seperti mereka? Angkuh menjalani hidup karena tangan selalu berpegangan.
Daun-daun berguguran di sekitarku. Gugur pula ingatan dan catatan tentang kita di atas kertas lusuh ini. Apakah kalian merasakan apa yang kurasakan????
Sudah empat tahun, seorang pun dari kita tak pernah mengungkapkan perasaan. Tanpa menyadarinya, waktu kita sangat sedikit.
Aku berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Seperti orang gila mencopoti realitas yang ada di depan mata dan berkhayal habis-habisan tentang masa lalu. Di jalan ini, pertigaan yang lengang sama seperti tengah malam dulu kita duduk melingkar, saling cerita tentang masa kecil yang bahagia, melupakan sejenak penindasan yang menimpa kita dan saling bercanda. Dalam baluran kabut malam itu aku mendengar suara-suara berceloteh di sekelilingku. Kita membuat lingkaran dan saling menggenggam.
Sekarang pertigaan jalan yang di dekatnya dipasang banyak baliho itu kosong, usang dan dingin. Tidak ada apa-apa. Lampu mercury di atasnya tampak lelah menunggu manusia-manusia yang akan memeriahkan setiap malam di bawah cahayanya yang makin temaram.
Samar kulihat lima bayangan anak-anak itu bergerak, beranjak pergi meninggalkannya menembus dingin dan kabut malam hari, meninggalkan cerita yang sama usangnya dengan temaram lampu mercury.
Sudah gelap, malam merayap. Ingatan dan catatan mengalir memberi sedikit kehangatan dalam pembuluh darah.
Sekarang banyak baliho dan spanduk print, bukan lagi dari kain dan triplek. Kita tidak akan bisa mencopoti spanduk lagi. Seperti dulu, ketika harus berurusan dengan satpam karena membersihkan spanduk kain dan mencuri tripleks untuk membuat baliho. Waktu itu kita masih begitu naif, begitu lugu. Selalu melakukan apapun yang kita suka bersama-sama.
Sampai akhirnya... kita break, retak, pecah-pecah dan merekah, kita meradang penuh kebimbangan. Saling curiga dan kecewa, menyakiti, tersakiti, dikhianati, sakit hati dan sendiri.
Waktu itu aku tidak tahu kenapa kalian bersikap seperti itu padaku. Kalian menghindariku dan membentuk kubu lain yang tidak menyertakanku di dalamnya. Kita tidak lagi bisa melebur. Dan aku pun berangsur-angsur menuju hancur.
Ini adalah tempat berikutnya. Seperti flashback, aku melihat kalian berempat duduk tepekur, tak mengindahkanku yang menyapa seperti biasa. Apa yang salah???
Saat itu serasa ada jutaan jarum menusuk mata dan kepalaku. Terasing. Tak ada sebutan yang lebih mengerikan dari keterasingan. Perlu waktu lama dan saat-saat sulit yang kita lalui.
Aku tak pernah tahu apakah kalian memiliki perasaan yang sama denganku atau tidak. Kehilangan. Tapi ego dan idealisme anak-anak yang beranjak tumbuh seperti kita telah memenjarakan sebuah komunikasi yang terbuka, jujur dan terus terang. Kita melewatinya begitu saja seolah tak pernah terjadi apa-apa. Seperti senyawa kimia yang bereaksi, saling terkait, terikat dan teremulsi. Kenapa kalian begitu seduktif? Sangat menagihkan.
Aku tak pernah tahu apakah kalian juga tersaruk-saruk, terserpih, berkeping-keping menjadi abu dan lenyap. Kalian tak pernah mengatakannya padaku. Aku memang selfis karena mengkhianati kalian untuk kehidupan pribadiku. Dan kalian membenciku. Kenapa waktu itu serasa dunia hanya berputar pada porosnya, tidak lagi mengorbit mengitari matahari. Karena bagiku matahari selalu tidak bersahabat dengan pemberontak-pemberontak seperti kita.
Aku menyayangi kalian. Bukan hanya kalian pernah mengisi lembaran-lembaran imajinasi masa laluku, tapi juga kalian yang membuatku mengenal arti pertemanan dan belajar mempercayai diri sendiri dan orang lain. Kalian yang membuatku penuh ide kreatif dan senantiasa berkarya.
Kita selalu dibutakan oleh idealisme dan mengagungkannya sebagai harta terakhir yang kita miliki sebagai generasi muda.
”Setiap bagian dari kami adalah malaikat-malaikat dengan hanya satu sayap. Untuk dapat terbang kami harus saling merangkul satu dengan yang lain.”
02 Agusus 2009
Melihat kawanan burung-burung terbang berkelompok, aku iri sekali. Apa kita akan bertemu lagi? Apa kita bisa bersama seperti dulu lagi? Mencari daerah jajahan baru untuk bermain dan melakukan hal-hal bodoh. Tempat-tempat yang dulu kita kunjungi kini menjadi sunyi senyap.
Aku sedang mengamati deretan pegunungan yang menyambung tanpa putus. Di puncak gunung Kawi itulah dulu kita mendaki bersama. Lerengnya tertutup awan. Kelabu membayang seolah memutus puncak dan dunia kecil di bawahnya. Ini adalah taman milik kita. Dulu kita duduk di sini bersama, sambil memesan jus alpukat dan susu hangat. Kita bercengkerama tanpa peduli betapa keras kita tertawa dan berebut mainan seperti anak-anak.
Kalian selalu menindasku. Memasukkan sesuatu ke dalam susuku, mengaitkan tas plastik di punggungku, mengeroyok dan menghimpitku ramai-ramai. Kalian selalu tampak bahagia jika bisa menindas teman.
Angin musim kemarau ini sangat dingin. Ingusku berleleran dan aku menggigil dengan gigi saling beradu, jari-jari kaku, sikap duduk tegang dan mataku berair, tapi aku ingin terus duduk di sini.
Sudah hampir gelap. Puncak-puncak gunung tetap kokoh menyembunyikan keangkuhannya. Apa kita juga sama seperti mereka? Angkuh menjalani hidup karena tangan selalu berpegangan.
Daun-daun berguguran di sekitarku. Gugur pula ingatan dan catatan tentang kita di atas kertas lusuh ini. Apakah kalian merasakan apa yang kurasakan????
Sudah empat tahun, seorang pun dari kita tak pernah mengungkapkan perasaan. Tanpa menyadarinya, waktu kita sangat sedikit.
Aku berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Seperti orang gila mencopoti realitas yang ada di depan mata dan berkhayal habis-habisan tentang masa lalu. Di jalan ini, pertigaan yang lengang sama seperti tengah malam dulu kita duduk melingkar, saling cerita tentang masa kecil yang bahagia, melupakan sejenak penindasan yang menimpa kita dan saling bercanda. Dalam baluran kabut malam itu aku mendengar suara-suara berceloteh di sekelilingku. Kita membuat lingkaran dan saling menggenggam.
Sekarang pertigaan jalan yang di dekatnya dipasang banyak baliho itu kosong, usang dan dingin. Tidak ada apa-apa. Lampu mercury di atasnya tampak lelah menunggu manusia-manusia yang akan memeriahkan setiap malam di bawah cahayanya yang makin temaram.
Samar kulihat lima bayangan anak-anak itu bergerak, beranjak pergi meninggalkannya menembus dingin dan kabut malam hari, meninggalkan cerita yang sama usangnya dengan temaram lampu mercury.
Sudah gelap, malam merayap. Ingatan dan catatan mengalir memberi sedikit kehangatan dalam pembuluh darah.
Sekarang banyak baliho dan spanduk print, bukan lagi dari kain dan triplek. Kita tidak akan bisa mencopoti spanduk lagi. Seperti dulu, ketika harus berurusan dengan satpam karena membersihkan spanduk kain dan mencuri tripleks untuk membuat baliho. Waktu itu kita masih begitu naif, begitu lugu. Selalu melakukan apapun yang kita suka bersama-sama.
Sampai akhirnya... kita break, retak, pecah-pecah dan merekah, kita meradang penuh kebimbangan. Saling curiga dan kecewa, menyakiti, tersakiti, dikhianati, sakit hati dan sendiri.
Waktu itu aku tidak tahu kenapa kalian bersikap seperti itu padaku. Kalian menghindariku dan membentuk kubu lain yang tidak menyertakanku di dalamnya. Kita tidak lagi bisa melebur. Dan aku pun berangsur-angsur menuju hancur.
Ini adalah tempat berikutnya. Seperti flashback, aku melihat kalian berempat duduk tepekur, tak mengindahkanku yang menyapa seperti biasa. Apa yang salah???
Saat itu serasa ada jutaan jarum menusuk mata dan kepalaku. Terasing. Tak ada sebutan yang lebih mengerikan dari keterasingan. Perlu waktu lama dan saat-saat sulit yang kita lalui.
Aku tak pernah tahu apakah kalian memiliki perasaan yang sama denganku atau tidak. Kehilangan. Tapi ego dan idealisme anak-anak yang beranjak tumbuh seperti kita telah memenjarakan sebuah komunikasi yang terbuka, jujur dan terus terang. Kita melewatinya begitu saja seolah tak pernah terjadi apa-apa. Seperti senyawa kimia yang bereaksi, saling terkait, terikat dan teremulsi. Kenapa kalian begitu seduktif? Sangat menagihkan.
Aku tak pernah tahu apakah kalian juga tersaruk-saruk, terserpih, berkeping-keping menjadi abu dan lenyap. Kalian tak pernah mengatakannya padaku. Aku memang selfis karena mengkhianati kalian untuk kehidupan pribadiku. Dan kalian membenciku. Kenapa waktu itu serasa dunia hanya berputar pada porosnya, tidak lagi mengorbit mengitari matahari. Karena bagiku matahari selalu tidak bersahabat dengan pemberontak-pemberontak seperti kita.
Aku menyayangi kalian. Bukan hanya kalian pernah mengisi lembaran-lembaran imajinasi masa laluku, tapi juga kalian yang membuatku mengenal arti pertemanan dan belajar mempercayai diri sendiri dan orang lain. Kalian yang membuatku penuh ide kreatif dan senantiasa berkarya.
Kita selalu dibutakan oleh idealisme dan mengagungkannya sebagai harta terakhir yang kita miliki sebagai generasi muda.
”Setiap bagian dari kami adalah malaikat-malaikat dengan hanya satu sayap. Untuk dapat terbang kami harus saling merangkul satu dengan yang lain.”
02 Agusus 2009